Indonesia Tampilkan Aksi Bersama Pengendalian Perubahan Iklim

Posted By lusi 06 November 2017 - 12:00 am

Bonn-Jerman, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Selasa, 7 Nopember 2017. Indonesia hadir dalam pada  Conference of the Parties (COP) United Nations on Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau  Pertemuan Para Pihak Konvensi PPB tentang Kerangka Kerja Pengendalian Perubahan Iklim ke-23, di Bonn, Jerman, 6 s/d 17 Nopember 2017.

COP 23 UNFCCC dibuka pada tanggal 6 Nopember 2017 oleh Presiden COP 23, yakni Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama. Frank menyatakan berkomitmen untuk membangun koalisi besar antara pemerintah pada semua tingkatan , masyarakat sipil, sektor swasta dan organisasi keagamaan.

“COP 23 kali ini berlangsung ditengah situasi diberbagai belahan dunia yang menghadapi bencana topan, badai, kebakaran hutan, banjir, kekeringan dan meningkatnya mencairnya lapisan es di kutub.” ujar Frank.

Sekretaris Eksekutif UNFCCC Patricia Espinosa, menyatakan bahwa kita memiliki arah yang jelas ke masa depan untuk mengatasi perubahan iklim dan sekaligus melaksanakan pembangunan berkelanjutan, melalui pelaksanaan Paris Agreement dan Sustainable Development Goals. Sasaran kemajuan yang perlu didorong saat ini antara lain tentang pendanaan perubahan iklim.

Setelah sambutan Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Menteri Lingkungan Hidup Jerman, Barbara Hendriks  menyatakan bahwa, Jerman akan mendukung dana adaptasi PBB dengan tambahan 50 juta Euro pada tahun ini.

Setelah pembukaan COP 23, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), Nur Masripatin, selaku National Focal Point (NFP) UNFCCC  Indonesia, membuka acara Paviliun Indonesia di Bula Zone, (6/11/2017). Paviliun Indonesia menampilkan aksi nyata bersama Indonesia kepada dunia dalam mengimplementasi komitmen kontribusi nasional (Nationally Determined Contributions/NDC) Indonesia untuk pembangunan masa depan rendah karbon. Selain itu, Paviliun Indonesia memberikan kesempatan kepada stakeholders di Indonesia untuk menginformasikan program, kegiatan, inovasi dan produk terkait dengan perubahan iklim atau pembangunan rendah emisi karbon.

 

”Silahkan mengunjungi  Paviliun Indonesia untuk mengetahui upaya yang telah dilaksanakan oleh Indonesia,” ajak Nur Masripatin.

 

Dalam mengendalikan perubahan iklim, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan multi pihak di semua tingkatan meliputi masyarakat sipil, pelaku bisnis, organisasi di tingkat tapak, hingga kerjasama internasional. Hal ini dijelaskan Staf Ahli Menteri LHK Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Agus Justianto, selaku Penanggung jawab Paviliun Indonesia.

“Semua upaya, aksi, dan capaian para pihak di Indonesia untuk mengendalikan perubahan iklim melalui pengurangan emisi karbon dan pembangunan ekonomi berkelanjutan kami tampilkan di Paviliun Indonesia.” kata Agus Justianto.

Agus menambahkan, di kalangan generasi muda, kelompok pemeluk agama, organisasi wanita, hingga masyarakat di pedesaan juga membangun solusi unik untuk mengendalikan perubahan iklim. Pelaku bisnis di Indonesia juga banyak yang telah menyatakan komitmen untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Paviliun Indonesia mengambil tema “A Smarter World: Collective Actions for Changing Climate”, yang akan dihadiri oleh sejumlah narasumber dalam dan luar negeri pelaku pengendalian perubahan iklim. Selain 46 sesi diskusi panel secara interaktif, Paviliun Indonesia juga akan menampilkan pertunjukan budaya.

Diskusi panel akan terbagi dalam empat klaster, yaitu Policy Works, Operational Works, Societal Works, dan Collaborative Works. Berbagai topik seputar kebijakan, kegiatan operasional, komunikasi dan pelibatan masyarakat, serta aksi kolaboratif, dalam implementasi dokumen NDC sebagai bagian dari Paris Agreement, akan dibahas dalam diskusi ini.

Sementara itu Nur Masripatin menjelaskan, Paviliun Indonesia memiliki peran penting untuk mendukung diplomasi Indonesia. "Paviliun menjadi tempat melihat sejauh mana keberhasilan aksi setiap negara untuk mencapai NDC,” ujar Nur Masripatin.

Dari panel diskusi yang diselenggarakan, masyarakat Internasional bisa melihat kesiapan Indonesia untuk mencapai pengurangan emisi GRK yang tertuang dalam NDC sebesar 29% pada 2030 atau hingga 41% dengan dukungan Internasional. Selain itu, Paviliun Indonesia juga menampilkan kemajuan kolaborasi pihak Pemerintah, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas masyarakat.  Tema ini selaras dengan ajakan Presiden COP 23 Perdana Menteri Fiji tentang membangun “Grand Coalition” para pihak pemangku kepentingan.

Pada substansi perundingan, menurut Nur Masripatin, konferensi kali ini harus sukses untuk menghasilkan draft naskah yang dapat diterima para Pihak. Fokus negosiasi kali ini antara lain tentang Pendanaan Perubahan Iklim untuk memastikan pelaksanaan komitmen negara maju mendukung pendanaan aksi menghadapi Perubahan Iklim di negara-negara berkembang dan negara pulau-pulau kecil. Dia menyatakan, optimisme tercapainya kesepakatan sudah mencuat saat pembukaan COP. (*)

Write a comment

Komentar