KLHK Utamakan Aspek Pencegahan dan Pemadaman Dini

Posted By lusi 14 September 2017 - 08:03 am

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu, 13 September 2017. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Raffles B. Panjaitan menegaskan bahwa upaya pemadaman darat dan udara akan terus dilaksanakan untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah yang rawan. Pemadaman dini pada karhutla juga harus didahulukan sebelum api menjadi besar dan menimbulkan banyak kerugian.

 
“Pembelajaran berharga dari pengalaman kebakaran hutan dan lahan yang lalu, pemerintah berupaya lebih keras untuk mengutamakan aspek pencegahan dan memperkuat sinergitas para pihak dalam penanganan karhutla. Upaya-upaya tersebut antara lain melalui penguatan deteksi dini, patroli terpadu pencegahan, penataan tata kelola air di kawasan gambut, sosialisasi dan penyadartahuan, menyiapkan sumber daya dalkarhutla baik untuk operasi pemadaman darat maupun udara, serta melaksanakan teknologi modifikasi cuaca- hujan buatan”, tambah Raffles B. Panjaitan.
 
Di Sumatera Selatan Brigade Dalkarhutla KLHK- Manggala Agni bersama tim Satgas Darat melakukan pemadaman karhutla di Kecamatan Tulung Selapan (OKI) dan Kecamatan Muara Belida (Muara Enim) (12/09/2017). Akses menuju titik api yang sulit dijangkau menjadi kendala para petugas. Untuk menanggulangi kebakaran ini tim satgas udara juga melakukan pemadaman dari udara. Waterbombing dilakukan oleh 2 unit heli, heli MI 17/ER-MHV dan Heli MI 8/EY-222. Satgas udara juga memutuskan untuk melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hujan buatan menggunakan Pesawat Casa A-2104 dengan menyemai garam sebanyak 800 kg di atas wilayah OKI dan OKUT. 
 
Sementara itu pemadaman gabungan dilakukan di Desa Santan Sari dan Sako Makmur (Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin) oleh Manggala Agni, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA). Kebakaran yang terjadi bukan di lahan gambut namun pada vegetasi semak belukar seluas ± 28 Ha. Tim gabungan berhasil memadamkan Kebakaran ini. 
 
Di Jambi, Tim Patroli Terpadu Manggala Agni Daops Bukit Tempurung, BPBD Tanjabar, TNI, Polri, Regu Pemadam Kebakaran perusahaan swasta, aparat dan masyarakat Desa Muntialo melakukan pemadaman di Dusun Karya Lestari, Desa Muntialo (Kecamatan Batara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat). Kebakaran seluas 1 Ha ini terjadi di lahan dengan status Areal Penggunaan Lain (APL) membakar vegetasi pakis pinang, dan kelapa sawit. 
 
Sedangkan di Sulawesi Tenggara, Manggala Agni Daops Tinanggea, petugas Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) dan petugas Polsek Lantari Jaya berhasil memadamkan kebakaran pada kawasan hutan TNRAW di wilayah Kecamatan Lantari, Kabupaten Bombana seluas 3,22 Ha. 
 
Untuk memperkuat kapasitas dan sinergi antar para pihak dalam pengendalian karhutla, di Kalimantan Bara Manggala Agni Daops Pontianak bekerja sama dengan Polresta Pontianak melakukan simulasi penanggulangan karhutla, bertempat di Kecamatan Rasau Jaya (Kabupaten Kubu Raya), Selasa (12/9/2017). Acara dimulai dengan apel bersama kesiapan dan komitmen penanganan karhutla dilanjutkan dengan simulasi menggunakan mesin, nozel dan pemadaman di lahan gambut. Jumlah peserta yang terlibat sebanyak 70 orang yang terdiri dari 40 orang Manggala Agni, 15 orang Polri, 10 orang TNI dan 5 orang BPBD.
 
Data Posko Pengendalian Kebakan Hutan dan Lahan KLHK tanggal 13 September 2017 pukul 20.00 WIB, memantau 42 titik panas (hotspot) pada satelit NOAA 19, dengan rincian 42 dengan rincian Sumatera Utara 1 titik (Kabupaten Padanglawas Utara); Jambi 2 titik (Kabupaten Merangin dan Sarolangun); Sumatera Utara 18 titik (Kabupaten OKU, Banyuasin, OKI, Kota Lubuk Linggau, Musirawas, OKU Selatan, Lahat, Muaraenim, PALI);Kalimantan Barat 3 titik (Kabupaten Ketapang, Landak, Melawi); Jawa Barat 2 titik (Kabupaten Bandung); Jawa Timur 2 titik (Kabupaten Situbondo, Bojonegoro); Lampung 1 titik (Kabupaten Waykanan); Bangka Belitung 11 titik (Kabupaten Belitung, Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung Timur); Sumatera Barat 2 titik (Kab. Solok Selatan).
 
Sedangkan berdasarkan Satelit TERRA AQUA (NASA) Confidence Level >80%, terpantau 15 titik hotspot dengan rincian Sumatera Selatan 1 titik (Kabupaten Musirawas); Kalimantan Timut 1 titik (Kabupaten Berau); Sulawesi Selatan 1 titik (Kabupaten Bone); Sulawesi Barat 1 titik (Kabupaten Mamuju); Sulawesi Tengah 2 titik (Kabupaten Morowali Utara); Sulawesi Tenggara 1 titik (Kabupaten Konawe Utara); NTB 2 titik (Kabupaten Sumbawa); NTT 6 titik (Kabupaten Timor Tengah Selatan, Ngada, Kupang).
 
Berdasarkan Satelit NOAA 19 hotspot yang terpantau periode 1 Januari – 12 September : 1.859 titik, pada periode yang sama tahun 2016 jumlah hotspot sebanyak 2.712 titik (berarti terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 853 titik / 31,45%).
 
Berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Confidence Level >80% periode tanggal 1 Januari – 12 September 2017 terpantau 1.147 titik hotspot, pada periode yang sama tahun 2016 jumlah hotspot sebanyak 3.295 titik (berarti terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 2.148 titik / 65,18%).(*)
 
Write a comment

Komentar