Keberhasilan Restorasi Gambut di OKI - Sumsel, Wujud Implementasi Inovasi Litbang KLHK

Posted By Rizda 16 August 2017 - 06:29 am

FORDA (Palembang, 15/08/2017)_Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang telah berhasil merestorasi lahan gambut bekas kebakaran di Kedaton Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. 

“Keberhasilan ini merupakan wujud implementasi inovasi, hasil penelitian yang dilakukan oleh BLI sebagaimana tupoksinya, yaitu melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya dalam rangka penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang LHK,” kata Dr. Ir. Sylvana Ratina, Sekretaris BLI kepada wartawan dari berbagai media nasional maupun lokal dalam kegiatan Press Tour BLI di Demonstrasi Plot Restorasi Hutan Rawa Gambut Bekas Kebakaran di OKI, Sumatera Selatan, Selasa (15/08). 

Terkait itu, Ir. Tabroni, MM, Kepala Balai Litbang LHK (BP2LHK) Palembang menambahkan, kebakaran tahun 2015 lalu menjadi titik balik hasil penelitian BLI ini dikenal orang.

“Hasil penelitian ini telah banyak diapresiasi banyak pihak, salah satunya oleh Gubernur Sumatera Selatan, dengan menjadikannya salah satu field visit Bonn Challenge 2017 lalu,“ kata Tabroni.

Sebagai informasi, pasca terbakar berulang pada musim kemarau tahun 1997 dan 2006 lalu, 20 hektar hutan dan lahan rawa gambut mulai direstorasi. Bekerjasama terkait pendanaan dengan Internasional Tropical Timber Organization (ITTO) dan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten OKI, BP2LHK Palembang, salah satu unit kerja BLI membangun plot percontohan (demplot) restorasi lahan gambut bekas kebakaran.

Pada kasus ini, restorasi areal bekas kebakaran dilakukan pada areal dengan kondisi lahan yang tidak ideal dengan habitat alami jenis-jenis pohon yang ditanam. Tetapi dengan perlakuan silvikultur khusus yang memperhatikan karakteristik lahan gambut setempat, pertumbuhan pohon cukup memuaskan dengan daya hidup (survival rate) berkisar antara 82 – 97 persen, riap (MAI) tinggi berkisar antara 87 – 214 cm/tahun, dan riap (MAI) diameter berkisar antara 1,36 – 2,83 cm/tahun.

Dari aspek tutupan lahannya, penutupan tajuk pohon meningkat dari 0% sebelum tanam menjadi 50% - 70% saat ini (5,75 tahun setelah tanam). Dengan demikian, terjadi peningkatan serapan karbon permukaan oleh jenis-jenis pohon yang ditanam.

Pada areal Demplot Restorasi saat ini telah berhasil dikoleksi 25 jenis pohon lokal (indigeneous species) hutan rawa gambut dari Sumatera Selatan, Jambi dan Riau. Jenis-jenis pohon lokal yang ditanam merupakan unggulan hutan rawa gambut yang secara alami sulit tumbuh pada areal bekas terbakar, yaitu ramin (Gonystylus bancanus), jelutung rawa (Dyera lowii), punak (Tetramerista glabra), perupuk (Lopopethalum javanicum), meranti (Shorea belangeran), medang klir (Alseodaphne sp.), beriang (Ploiarum alternifolium) dan gelam (Melaleuca leucadendron).

Kronologi kegiatan restorasi pada areal tersebut bermula saat hutan dan lahan rawa gambut terbakar berulang pada musim kemarau tahun 1997 dan 2006 lalu. Suksesi alami yang terbentuk 4 tahun setelah kebakaran, tahun 2010 hanya terdiri dari pakis dan rumput rawa, belum ada suksesi pepohonan. Penyiapan lahan dan penanaman pertama dilakukan sebelum areal sekitar demplot didrainase untuk perkebunan sawit pada bulan April - Mei 2010, lahan gambut masih tergenang dengan kedalaman genangan berkisar antara 10 – 30 cm.

Selanjutnya, penyiapan lahan dan penanaman kedua dilakukan sesudah areal sekitar demplot didrainase untuk perkebunan sawit pada bulan Januari – Februari 2012, lahan gambut sudah kering dengan kedalaman muka air tanah berkisar antara 20 – 40 cm.

Drainase lahan gambut telah mengubah status hidrologi lahan dari tergenang menjadi kering. Sebelum drainase lahan, muka air tanah pada areal restorasi berkisar antara 20 cm sampai 50 cm (lahan tergenang di musim hujan dan kering di musim kemarau). Setelah drainase lahan, muka air tanah berkisar antara 30 cm sampai 150 cm (lahan lembab pada musim hujan dan sangat kering pada musim kemarau).

Sebagaimana diketahui, hutan dan lahan rawa gambut yang terdegradasi berat oleh kebakaran membutuhkan penanganan serius karena pemulihan secara alami sangat sulit terbentuk dan membutuhkan waktu lama.

Restorasi dapat dipercepat melalui penerapan teknik silvikultur khusus yang mengacu pada 3 karakter lahan kunci, yaitu kedalaman gambut, kedalaman genangan air, dan kedalaman muka air tanah. Status ketiga karakter lahan tersebut akan menentukan tingkat degradasi lahan gambut pada suatu lokasi. Perlakuan silvikultur yang paling sesuai akan dapat direkomendasikan setelah karakteristik lahan gambut terdegradasi diketahui.

Media Jakarta yang mengikuti press tour tersebut, yaitu NET TV, Sindo, Rakyat Merdeka dan CNN Indonesia. Media lokalnya yaitu Sumatera Expres dan Sriwijaya Pos. Kegiatan ini juga diikuti Kompas TV, Kompas, Republika, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Detik dan Tempo sebagai koresponden media nasional. Sebelum meninggalkan lokasi demplot penelitian restorasi, empat orang perwakilan media menanam pohon jenis lokal di lokasi.***RH

 

Berita Terkait:

Restorasi Berhasil, Gubernur Sumsel Berharap Sepucuk – OKI Bisa Jadi Pusat Riset Gambut

Write a comment

Komentar