FGD: Peluang Masyarakat dan Pelaku Usaha dalam Pengembangan Ekowisata Gajah Aek Nauli

Posted By Rizda 07 August 2017 - 06:14 am

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, 04/08/2017)_Dalam rangka membahas peluang pelaku usaha dan masyarakat dalam pengembangan ekowisata gajah di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dan Lembaga Vesswic mengadakan Focus Group Discussion (FGD).

“Kegiatan FGD ini bertujuan untuk menampung saran dan harapan-harapan ke depan terkait pengembangan ekowisata gajah yang akan dijadikan bahan evaluasi dalam percepatan pembangunan ekowisata gajah di KHDTK Aek Nauli,” kata Ismed Syahbani, S.Hut, mewakili Kepala Balai dalam pembukaan acara.

Dalam FGD yang dilaksanakan di kantor BP2LHK Aek Nauli, pada Kamis (03/08) telah dibahas mengenai tingkat persepsi dan peluang pengembangan ekowisata gajah di sekitar Danau Toba. Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang para pihak yang berkepentingan, seperti instansi kehutanan pusat, balai diklat, pemerintah setempat, pelaku jasa wisata dan perhotelan, serta masyarakat sekitar Aek Nauli.

Kegiatan FGD ini berlangsung 1 hari, dimana kegiatan utama terdiri dari 2 sesi diskusi dan  peninjauan lokasi fisik Ekowisata Gajah. Kegiatan ini mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir, hal ini terlihat dari keingintahuan mereka dan peran yang dapat mereka lakukan dalam mendukung pengembangan konservasi gajah jinak yang dituangkan dalam sesi diskusi maupun pada saat peninjauan lokasi ekowisata gajah.

Selaku narasumber, Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, Peneliti Utama BP2LHK Aek Nauli memaparkan materi mengenai Pengembangan Konservasi Gajah Jinak Untuk Mendukung Ekowisata Sekitar Danau Toba KHDTK Aek Nauli. Sedangkan Fitri Noor CH, Pengendali Ekosistem Hutan BBKSDA Sumatera Utara memaparkan materi mengenai Peluang Pengembangan Gajah Jinak sebagai Obyek Wisata untuk Mendukung Ekowisata Danau Toba.

Dalam kegiatan FGD ini, banyak saran, masukan dan harapan yang diberikan oleh peserta. Masukan-masukan yang perlu ditindaklanjuti dalam pembangunan kawasan ekowisata gajah seperti perlunya perbaikan sarana dan prasarana. Spot pemandangan, souvenir, spot untuk berfoto, dan pelibatan guide lokal, wisata edukasi, rekreasi dan pendidikan, penyediaan pakan gajah dan kegiatan promosi diharapkan lebih ditonjolkan guna mendukung paket wisata selain wisata Danau Toba.

Peserta berharap agar masyarakat dapat dilibatkan dalam segala aspek pembangunan kawasan ekowisata gajah dan ke depannya akan menjadi kelembagaan yang mandiri.

“Kami berharap ke depannya dengan adanya proyek ekowisata gajah ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar Danau Toba khususnya masyarakat Desa Sibaganding,” kata Camat Girsang Sipangan Bolon, James Siahaan yang turut hadir sebagai peserta.

“Namun, perlu dilakukan persiapan yang banyak dan dengan segera dibangun komitmen antara pelaku wisata, pemerintahan, LSM, masyarakat dan lain sebagainya untuk mendukung kegiatan tersebut,” sambung James.

Pada kesempatan yang sama, Pangulu Nagori Sibaganding, M. Bakkara menyampaikan keinginannya agar dalam kegiatan wisata gajah ini dapat memberdayakan masyarakat setempat secara optimal, agar masyarakat setempat dapat turut merasakan manfaat dari keberadaan ekowisata gajah di Aek Nauli.

“Di samping itu, potensi wisata lainnya yang terdapat di sekitar ekowisata gajah ini perlu juga dikembangkan lebih lanjut, seperti air terjun yang terdapat tak jauh dari lokasi ini, maupun penataan jalur tracking yang ada di kawasan ini,” kata Bakkara.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari Hotel Inna Parapat, Marianto Sanusi juga menyampaikan agar nantinya pemerintah diharapkan dapat mempersiapkan masyarakat setempat sehingga dapat menjadi pemandu wisata yang baik sehingga keterlibatan masyarakat setempat terkait objek wisata gajah ini dapat lebih optimal.

Menurutnya, hal ini dapat ditempuh dengan jalan pendidikan dan pelatihan terhadap masyarakat agar pengetahuan mereka bertambah, baik pengetahuan mengenai wisata itu sendiri, maupun cara menyampaikannya kepada pengunjung dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang baik dan benar.

“Sehingga masyarakat dapat memandu wisatawan yang datang baik dari dalam negeri maupun mancanegara,” kata Marianto.

Dalam kegiatan diskusi ini, turut hadir Ketua Perhimpunan usaha Hotelan Republik Indonesia (PHRI), Husin Toni. Husin menyatakan dukungannya terkait objek wisata gajah ini dan siap untuk mempromosikannya kepada para wisatawan nantinya.

“Kita sangat membutuhkan objek wisata tambahan di lokasi sekitar Danau Toba, sehingga nantinya akan berpengaruh terhadap volume wisatawan yang datang, oleh karena itu, kami siap untuk mempromosikannya,” kata Husin.

Rospita Situmorang, STP, M.Eng, peneliti BP2LHK Aek Nauli sebagai pelaksana teknis kegiatan ini menambahkan bahwa tujuan kegiatan ini adalah mengetahui respon dan dukungan stakeholder pada kegiatan ini.

“Diskusi dan koordinasi akan terus berlangsung untuk mensukseskan ekowisata gajah ini di tahun-tahun selanjutnya,” kata Rospita. Selanjutnya acara ditutup dengan penyampaian komitmen oleh para stakeholders bahwa mereka siap membantu dan melaksanakan promosi dan siap menampung leaflet dalam hal promosi pembangunan kawasan ekowisata gajah dengan atraksi-atraksi yang ada.***

Berita Terkait:

Pengembangan Ekowisata Gajah di KHDTK Aek Nauli Disambut Baik Pemerintah Setempat dan Pelaku Usaha

Koordinasi untuk Percepatan Revitalisasi Danau Toba

Strategis dalam Revitalisasi Danau Toba, Arboretum Aek Nauli Potensial Dikembangkan Berkelas Dunia

Write a comment

Komentar