Harimau Sumatera, Harta Karun KHDTK Aek Nauli

Posted By Rizda 19 June 2017 - 09:23 am

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, 18/06/2017)_Sekitar satu bulan yang lalu, seekor harimau terjerat oleh warga di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli. Terkait ini, Wanda Kuswanda, S.Hut M.Sc, Peneliti Utama, bidang konservasi keragaman hayati di BP2LHK Aek Nauli mengatakan bahwa KHDTK Aek Nauli, memiliki harta karun terpendam, yang belum banyak dipublikasikan, yaitu harimau Sumatera.

Menurut Wanda, penemuan harimau di sekitar KHDTK Aek Nauli, yang lebih dari 20 tahun tidak ditemukan keberadaannya, menjadi bukti bahwa KHDTK Aek Nauli adalah habitat tersisa bagi harimau Sumatera. Wanda menyakini bahwa masih ada harimau lainnya yang menggunakan KHDTK Aek Nauli sebagai habitatnya. Bahkan warga sekitar KHDTK Aek Nauli mengatakan pernah mendeteksi beberapa anak harimau di KHDTK Aek Nauli. 

Kepala BP2LHK Aek Nauli, Pratiara S.Hut M.Si, mengatakan bahwa keberadaan harimau di KHDTK Aek Nauli perlu diteliti lebih lanjut, terutama terkait sebaran dan kesesuaian habitatnya. Adanya harimau Sumatera di KHDTK Aek Nauli menunjukkan bahwa kawasan ini secara ekologi memiliki nilai yang sangat tinggi sehingga upaya perlindungannya perlu lebih ditingkatkan. 

Selain itu, lebih lanjut Pratiara menyatakan bahwa habitat harimau juga dapat menjadi tujuan wisata ilmiah/edutainment yang memiliki daya tarik dan nilai jual yang tinggi. Para turis yang menyukai tantangan dan peduli hidupan liar akan sangat bangga dan senang meskipun hanya bisa menemukan jejak-jejak kehadiran satwa langka, seperti harimau Sumatera. 

Senada dengan Kepala Balai, menurut Wanda perlu ada penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Dari hasil pengamatan secara deskriptif terhadap harimau yang ditemukan di Daerah Parmonangan tersebut, diketahui memiliki bulu yang lebih halus dan warna kuning yang lebih mengkilap, di bandingkan harimau yang ditemukan di Riau dan Jambi. 

Menurut Wanda, riset tentang harimau di sekitaran Danau Toba memang masih sangat kurang karena belum menjadi prioritas kawasan untuk konservasi harimau di Pulau Sumatera. 

“Jangan sampai harta karun KHDTK Aek Nauli akan hilang dan punah seperti di kawasan hutan lainnya,” tegas Wanda. 

Harapan Wanda ke depannya, di sekitar Danau Toba, terutama di KHDTK Aek Nauli juga akan terbangun satu jalur tracking untuk menjadi lokasi wisata ilmiah harimau sebagai dukungan untuk pengembangan obyek wisata sekitar Danau Toba. 

Diinformasikan, saat ini, harimau yang ditemukan tersebut sudah ditangani oleh Balai Besar KSDAE Sumatera dan dititipkan di Santuary Harimau di Wilayah Barumun, Tapanuli Selatan. 

Harimau dalam nama ilmiah Panthera tigris adalah salah satu dari lima spesies genus Panthera.  Spesies ini terbagi lagi menjadi delapan subspesies dan tiga subsepesies diantaranya hidup di Indonesia. Salah satu sub spesies harimau tersebut terdapat di Pulau Sumatera dengan sebutan harimau Sumatera atau Panthera tigris sumatrae. 

Harimau di alam berfungsi sebagai pengendali alami bagi populasi berbagai satwa herbifora yang merupakan mangsanya, seperti babi hutan, rusa, kijang dan beragam jenis primata. Harimau sumatera jantan yang sudah dewasa memiliki rata-rata panjang dari kepala hingga ekor mencapai  250 cm dengan berat 120 kg dan betina dapat mencapai 220 cm dan berat 90 kg. 

Wanda mengatakan bahwa sebaran harimau di Pulau Sumatera saat ini semakin terisolasi pada berbagai habitat yang sangat sempit. Kegiatan pembangunan yang banyak membuka kawasan hutan telah menyebabkan habitat harimau sumatera mengalami fragmentasi dan deforestasi yang cukup berat. Populasinya sudah semakin langka dan statusnya semakin terancam punah. 

Lebih lanjut Wanda mengatakan bahwa keberadaan harimau makin terdesak dan memasuki perkebunan atau pemukiman warga sehingga muncul fenomena konflik yang mengakibatkan kematian, baik pada warga maupun harimau itu sendiri.***

 

Write a comment

Komentar