Atasi Masalah Sedimentasi, Bakau Dapat Tingkatkan Kapasitas Hutan Mangrove

Posted By Rizda 19 May 2017 - 03:12 am

Balitek DAS (Solo, 15/05/2017)_”Untuk meningkatkan kapasitas Segara Anakan dapat menggunakan tanaman bakau (Rhizopora spp.). Tanaman ini mempunyai kemampuan menjerat sedimen yang rendah,” kata Drs. Ugro Hari Murtiono, M.Si, Peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan (Balitek) DAS saat ditemui di kantor Balitek DAS Solo, Rabu (19/04). 

“Rendahnya kemampuan menjerat sedimen ini diperlukan agar sedimen yang terlarut dalam aliran tidak banyak mengendap di sisi aliran karena akan membentuk substrat yang baru bagi mangrove sehingga mangrove akan berkembang menjadi tidak terkontrol yang berpotensi melenyapkan Segara Anakan,” kata Ugro. 

Diketahui bahwa Kawasan Segara Anakan merupakan suatu laguna raksasa yamg terletak di Pantai Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah. Selatan Pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah atau Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah. Setiap tahun, kawasan ini selalu terjadi perubahan lahan karena sedimentasi dari dua sungai besar, yaitu Citanduy dan Cibereum. 

Data dari Dinas Kelautan, Perikanan dan Pengelola Sumberdaya Kawasan Segara Anakan mengatakan bahwa dalam setiap tahunnya terdapat kurang lebih 1 juta meter kubik lumpur yang masuk dari kedua sungai tersebut dan mengakibatkan munculnya tanah-tanah timbul di areal Segara Anakan. 

Pada tahun 1903, luas Segara Anakan mencapai 6.450 ha. Luas tersebut berkurang menjadi 2.906 ha pada tahun 1984 dan 1.200 ha pada tahun 2000. Saat ini luas Segara Anakan hanya tinggal 400 ha. Selain itu, luasan hutan mangrove pada kawasan ini juga semakin menyempit. Tahun 1970, luas hutan mangrove tercatat 17 ribu ha. Tetapi sekitar tahun 2005an masih tersisa 6-7 ribu ha. 

“Hutan mangrove Segara Anakan memiliki komposisi maupun struktur hutan terlengkap dan terluas di Pulau Jawa. Selain itu keberadaan mangrove ini sangat berperan penting dalam siklus hidup beberapa biota karena kemampuannya dalam menyediakan nutrisi di perairan sekitarnya,” kata Ugro. 

Selanjutnya, Ugro mengatakan bahwa ekosistem mangrove di kawasan Segara Anakan merupakan tempat pemijahan, mencari makan, dan membesarkan diri dari 45 jenis ikan laut, baik jenis ikan yang menetap seperti ikan prempeng (Apogon aerus), udang, kepiting, lobster, kerang totok, kerapu merah, cumi-cumi, gurita, bawal putih, kakap putih, layur, pari, sotong, sidat, ikan hiu, dan biota laut lainnya, maupun 17 jenis ikan yang tidak menetap/ bermigrasi seperti ikan sidat laut (Anguilla sp). 

Setelah mereka dewasa, biota laut tersebut kemudian keluar melalui muara laguna ke laut lepas, untuk selanjutnya ada yang ditangkap para nelayan dan sebagian merupakan mata rantai pangan bagi berbagai jenis ikan besar di Samudra Hindia. 

“Selain itu, hutan mangrove juga memiliki manfaat ekonomis nyata berupa kayu bahan bangunan, kayu bakar dan arang, ikan, udang, dan lain-lain,” tambah Ugro. 

Oleh karena itu, Ugro berharap permasalahan sedimentasi di Kawasan Segara Anakan segera dapat diatasi. Salah satunya dengan rekayasa vegetatif  atau penanaman bakau. Menurut hasil penelitianya tanaman bakau memiliki kemampuan menjerat sedimen yang sangat rendah  atau sebesar 9,68% dibandingkan dengan jenis lainnya (Api-api (Avicennia spp) sebesar 33,29%, dan Bogem (Sonneratia spp.) sebesar  28,57%).***Esa Bagus Nugrahanto (EBN)

 

Informasi Lebih Lanjut:

Drs. Ugro Hari Murtiono, M.Si

Email: uh.murtiono@gmail.com

 

Balai Litbang Teknologi Pengelolaan (Balitek) DAS

Website : http://dassolo.litbang.menlhk.go.id atau  http://balitekdas.org

Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp.  0271 - 716709, Fax.   0271 - 716959

 

Write a comment

Komentar