Benih Unggul Kayu Putih Hasil B2P2BPTH Yogyakarta Mulai Dikembangkan Skala Komersial

Posted By Rizda 28 April 2017 - 08:39 am

B2P2BPTH (Yogyakarta, 04/2017)_Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta telah menemukan individu pohon atau famili genetik unggul dengan rendemen minyak lebih dari 2% dan kadar 1,8 cineol lebih dari 60%. Dua varietas benih unggul tersebut telah dilepas secara resmi, yaitu benih unggul KPP-01 sesuai SK Menteri Kehutanan SK.372/Menhut-VIII/2004 dan benih klon unggul KPP klon-01 sesuai SK 352/Menlhk-Setjen/2015.

Terkait itu, Dr. Anto Rimbawanto, peneliti B2P2BPTH menjelaskan, beberapa kegiatan pengembangan benih unggul ini sedang dilakukan. Selain di industri minyak kayu putih skala kecil di Paliyan Gunungkidul, dan Pilot Project industri kayu putih di Biak Numfor, pengembangan juga dilakukan dengan pertanaman kayu putih skala komersial seluas 4.000 ha di Bima NTB oleh PT. Sanggaragro Karyapersada.

“Harapannya, benih unggul kayu putih ini secara perlahan memberikan kontribusi untuk peningkatan produksi minyak kayu putih agar dapat mengurangi impor minyak substitusi, “ kata kata Dr. Anto kepada wartawan peserta Press Tour Badan Litbang dan Inovasi (BLI) dari berbagai media yang berkunjung ke Pabrik Minyak Kayuputih yang dikelola KPH Yogyakarta menggunakan benih unggul hasil riset B2P2BPTH.

Hal ini mengingat, salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan industri minyak kayu putih adalah rendahnya rendemen minyak yang dihasilkan dari tanaman kayu putih. Rata-rata 1 ton daun hanya menghasilkan 80 kg minyak atau rendemen sebesar 0.8%.

Sebagaimana diketahui, sebagian besar minyak kayu putih dihasilkan dari pertanaman di Jawa, baik yang dikelola oleh Perum Perhutani maupun oleh KPH Yogyakarta. Total produksi minyak kayu putih nasional diperkirakan mencapai 400 ton yang dihasilkan oleh industri minyak kayu putih di Jawa sebesar 300 ton/tahun dan Kepulauan Maluku 100 ton/tahun.

“Kebutuhan industri farmasi nasional pada tahun 2016 diperkirakan lebih dari 3.500 ton/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku minyak kayu putih, dilakukan impor bahan substitusi berupa minyak ekaliptus,” tambah peneliti Bioteknologi ini.

Padahal, meskipun mengandung 1,8 cineole seperti yang dikandung oleh minyak kayu putih, minyak ekaliptus tidak mengandung aroma khas minyak kayu putih. Impor minyak ekaliptus ini juga menyedot devisa negara hingga lebih dari USD 54 juta.

Kayu putih (Melaleuca cajuputi subsp.) dari 3 subspecies yaitu subsp. cajuputi, subsp. cumingiana, dan subsp. platyphylla, ketiganya tumbuh alami di berbagai pulau Indonesia, yaitu di Ambon, Buru, Seram, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Timor dan Papua. Dari ketiga sub species tersebut, hanya subsp. cajuputi yang mengandung minyak kayu putih dalam kadar tinggi.

Kayu putih tumbuh alami di Kepulauan Maluku. Jenis ini dimanfaatkan rakyat setempat untuk menghasilkan minyak kayu putih, sehingga masyarakat sering mengaitkan minyak kayu putih dengan Ambon. Seiring berjalannya waktu, tumbuhan kayu putih mulai dikembangkan di Pulau Jawa.

Hampir tidak ada rumah tangga yang tidak menyimpan sebotol minyak kayu putih. Minyak kayu putih memang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Namun mungkin tidak banyak yang mengetahui asal-usul minyak kayu putih.

“Selama masih ada bayi yang lahir dan orang tua, maka minyak kayu putih akan terus berproduksi,” kata Dr. Anto Rimbawanto, Kamis (20/04) di Petak 95 Paliyan, Hutan Penelitian Gunungkidul.***LH & MNA

Write a comment

Komentar