Benih Unggul Nyamplung, Solusi Krisis Energi Masa Depan

Posted By Rizda 27 April 2017 - 04:14 am

B2P2BPTH (Yogyakarta, 25/04/2017)_Benih unggul nyamplung merupakan salah satu solusi krisis energi masa depan. Untuk pengembangan nyamplung sebagai tanaman energi, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta telah melakukan ujicoba penanaman, pembangunan sumber benih unggul, pengolahan minyak nyamplung dan pemanfaatan limbahnya.

Hal ini diharapkan dapat mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 yang menargetkan, pada akhir tahun 2019 produksi Bahan Bakar Nabati (BBN) nasional berupa biodiesel 2,35-4,12 juta kilo liter dan bioetanol 0,2-0,58 juta kilo liter.

“Benih unggul dari Tegakan Benih Provenan (TBP) dan aplikasi teknik silvikultur yang tepat, tanaman telah berbuah pada umur 3 tahun dan menghasilkan rendemen CCO sebesar 61,92 – 64,79% atau meningkat 11 – 14% dibandingkan populasi asalnya di Gunung Kidul sebesar 50 – 50,12%,” kata Prof (Ris). Dr. Ir. Budi Leksono, peneliti B2P2BPTH saat mendampingi Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Dr. Henry Bastaman di acara Press Tour BLI di kantor B2P2BPTH, Kamis (20/04).

Menurut Prof. Budi, tanaman ini dibudidayakan sebagai tanaman wind breaker pada daerah marginal di tepi pantai atau sebagai tanaman konservasi pada lahan-lahan kritis. Variasi ukuran buah, biji dan pertumbuhan tanaman dari populasi nyamplung di seluruh Indonesia menunjukkan peluang untuk meningkatkan produktivitas tanaman.

Hasil penelitian di B2P2BPTH menunjukkan rendemen minyak nyamplung (crude calophyllum oil/CCO) dari 12 populasi yang berasal dari 7 pulau di Indonesia mempunyai variasi yang tinggi. Hasilnya antara 37-58 % lebih tinggi dibandingkan jarak pagar 25-40%, saga hutan 14-28%, kepuh 24-40%, kesambi 30-40% dan kelor 39-40%.

Prof. Budi menjelaskan, satu liter minyak nyamplung dapat dihasilkan dari 2-2,5 kg biji yang diperoleh dari pengolahan CCO menjadi biodisel nyamplung melalui proses degumming, esterifikasi, transesteriikasi, washing dan drying. Hasil analisis sifat fisiko-kimia biodisel nyamplung yang dihasilkan telah memenuhi 18 karakteristik biodisel sebagai syarat mutu biodisel (SNI 04-7182-2006).

Menurut Prof. Budi, selain menghasilkan BBN, nyamplung juga berpotensi menghasilkan produk lain dari pemanfaatan limbahnya antara cangkang buah untuk briket arang dan arang aktif, asap cair untuk pengawet kayu, bungkil untuk pakan ternak, resin/getah untuk obat-obatan, kosmetik dan pewarna tekstil, serta gliserol untuk sabun. 

“Manfaat ekonomi pengusahaan budidaya nyamplung dan pengolahan biji nyamplung dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat serta penduduk di sekitar hutan. Melalui teknik yang tepat, pengolahan biji nyamplung menjadi biofuel mengikuti konsep ‘zero waste’ (tanpa limbah),” kata Budi.

Terkait itu, Dr. Henry Bastaman mengatakan, upaya untuk mendorong pengembangan biofuel, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan ijin pemanfaatan lahan/hutan yang tidak produktif untuk pengembangan jenis-jenis tanaman penghasil energi terbarukan.

“Biodiesel yang merupakan produk biofuel mampu mengurangi emisi hidrokarbon tak terbakar, karbon monoksida, sulfat, hidrokarbon polisiklik aromatik, nitrat hidrokarbon polisiklik aromatik dan partikel padatan sehingga ramah lingkungan,” kata Kepala BLI.

Seperti kunjungan Menteri LHK ke B2P2BPTH beberapa tahun lalu, Kepala BLI diberi kesempatan menuangkan 1 liter biodisel dari minyak nyamplung ke mobil dan mengendarainya keliling areal kantor B2P2BPTH.***LH & MNA

 

Write a comment

Komentar