Enam Negara Asia Tenggara Berkolaborasi dalam Penelitian Konservasi Sonokeling

Posted By Rizda 20 April 2017 - 04:55 am

B2P2BPTH (Yogyakarta, 19/02/2017)_Enam negara Asia Tenggara tertarik melakukan penelitian bersama tentang konservasi Dalbergia spp. Hal ini mengingat CITES telah memasukkan semua jenis Dalbergia spp. ke dalam Appendix II. Ini berarti semua spesies Dalbergia, termasuk sonokeling (Dalbergia latifolia) telah menjadi jenis yang dilindungi.

Menurut Dr. Vivi Yuskianti, SP.,M.Si, peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta, nilai sonokeling yang tinggi telah mendorong pemanenan yang berlebihan. Ini yang menyebabkan populasi alami pohon ini menghadapi kepunahan.

Oleh sebab itu, sejak 1998 Badan Konservasi Dunia IUCN telah memasukkan Dalbergia latifolia ke dalam kategori Rentan (VU, vulnerable).

“Enam negara Asia Tenggara tertarik melakukan penelitian bersama tentang konservasi Dalbergia spp. Negara-negara tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Laos, Vietnam, Kamboja dan Thailand,” kata Doktor lulusan Universitas di Jepang ini di kantornya, Selasa (18/04).

Informasi ini merupakan hasil dari Workshop “Enchancing The Contribution of Biodiversity to Sustainable Forest and Landscape Management in Asia-Pacific: Focus on Genetic Diversity”, di Kuala Lumpur, Malaysia yang diselenggarakan pada tanggal 20-24 Maret 2017.

“Workshop ini merupakan kolaborasi antara APFORGEN, APAFRI (Asia-Pacific Association of Forestry Research Institute), Bioversity International dan FAO dengan kontribusi dari NIFOS (National Institute of Forest Sciences), Korea Selatan,” lanjut Vivi.

Hasil pertemuan APFORGEN tahun 2014 telah menetapkan tiga tematik areas yaitu Conservation of Dalbergia spp dan Shorea spp, strengthening tree seed dan strengthening capacities in monitoring and managing forest genetic resources.

Ketiga tema tersebut tahun ini direncanakan untuk dikembangkan menjadi proposal penelitian bersama yang melibatkan beberapa negara anggota APFORGEN. Dari ketiga tema tersebut, walaupun Indonesia hanya terlibat diskusi intensif dalam satu tema tetapi sangat memungkinkan Indonesia terlibat dalam proposal tema lainnya, karena semua tema yang ada sangat relevan dengan kondisi Indonesia.

Dr. Vivi terlibat intensif dalam pengembangan proposal penelitian mengenai konservasi Dalbergia spp., yang rencananya akan dikirimkan ke Darwin Initiative untuk mendapatkan pendanaan. Prof. John McKay dan Prof. David Boshier dari Oxford University, Inggris serta Dr. Ida Hartvig dari Denmark akan membantu pengembangan proposal.

Lebih lanjut Vivi menjelaskan bahwa negara-negara seperti Laos, Vietnam, Kamboja dan Thailand telah mulai melakukan penelitian tentang Dalbergia, khususnya jenis D. cochinchinensis dan D. oliveri, sementara Indonesia belum memulai penelitian ini.

Workshop lainnya adalah “Monitoring the Implementation of the Global Plan of Action for the Concervation, Sustainable, Use and Development of Forest Genetic Resources yang dipimpin oleh Dr. Jarko Koskela dari FAO.

National Forest Genetic Resources (FGR) Inventory” berupa database yang berisi data dan informasi mengenai kegiatan konservasi sumber daya genetik hutan di Indonesia baik mengenai konservasi eks-situ, in-situ, luas areal konservasi, jenis yang telah dikonservasi ataupun kegiatan penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan,” kata Vivi.

Workshop ini diikuti sekitar 23 orang yang mewakili 14 negara yaitu China, Thailand, Vietnam, Laos, Inggris, Malaysia, Cambodia, Indonesia, Srilangka, Filipina, Korea Selatan, Australia, Italia dan Denmark, serta Indonesia.***MNA

 

Write a comment

Komentar