Indonesia - Australia: Improving Community Fire Management and Peatland Rehabilitation in Indonesia

Posted By Rizda 17 April 2017 - 03:09 am

BP2LHK Palembang (Ogan Komering Ilir, 04/2017)_“Improving community fire management and peatland rehabilitation in Indonesia” adalah tema proyek yang akan dikerjakan Indonesia dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Proyek ini akan dilakukan selama 5 tahun ke depan di dua lokasi penelitian yang berbeda yaitu di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.

Daniel Mendham dari ACIAR menjelaskan, lokasi penelitian akan berada di daerah OKI-Sumatera Selatan dan daerah Pulau Pisau-Kalimantan Tengah.

“Lokasi ini memiliki lahan gambut yang luas dan juga merupakan lokasi penelitian litbang LHK sebelumnya. BRG juga merekomendasikan lokasi ini karena termasuk dalam fase pertama kegiatan rehabilitasi mereka,” kata Daniel.

Lokasi penelitian pertama yang tim ACIAR kunjungi adalah di Sumatera Selatan, tepatnya di Desa Riding dan Desa Tanjung Berangin, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Selasa (04/04) tim ACIAR meninjau bakal lokasi penelitian didampingi tim peneliti BLI-KLHK. 

Tim terdiri dari Daniel Mendham, Principal Research Scientist dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), Associate Professor Grahame Applegate, Tropical Forests and Peoples Research Centre dari University of the Sunshine Coast, Samantha Grover dari La Trobe University, dan Prof. Luca Tacconi dari Crawford School of Public Policy, dan The Australian National University. Sementara tim BLI KLHK yaitu Dr. Niken Sakuntaladewi dan peneliti BP2LHK Palembang. 

Selain untuk melihat lokasi bakal penelitian nantinya, kunjungan lapangan ini juga untuk melihat karakteristik dan sifat-sifat kimia dari lahan gambut itu sendiri secara kasat mata. Hasilnya akan ditindaklanjuti dengan pengambilan sample di kemudian hari untuk analisis laboratorium dan pengukuran lapangan. 

“Kedua lokasi memiliki karaktersitik gambut yang berbeda. Berbeda dalam hal susunan vegetasi aslinya dan susunan tanahnya. Selain itu dua lokasi ini berbeda dalam hal penggunaan lahannya, yang satu menitikberatkan pada pulp dan kertas di Sumatera dan satunya lagi di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan,” kata Samantha Grover. 

Lebih lanjut, Samantha menerangkan bahwa dengan perbedaan di kedua lokasi ini, penelitian ini dapat menghasilkan satu pemahaman yang menyeluruh mengenai sifat-sifat kimia dan bentuk karakteristik fisik dari berbagai lahan gambut yang berbeda sekaligus untuk mengeksplorasi pilihan-pilihan program secara lokal baik yang akan dipakai untuk rehabilitasi maupun untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat. 

Proyek penelitian dan pengembangan ini dilaksanakan dengan mengandalkan pada multidisiplin keilmuan yang dibangun secara bersama, baik oleh tim Australia maupun tim Indonesia. Di Australia, projek ini akan didukung oleh ANU, CSIRO, La Trobe University, Charles Darwin University, James Cook University, dan University of Sunshine Coast. Sementara dari Indonesia ada BLI KLHK, Borneo Orangutan Survival Foundation, Universitas Gadjah Mada, IPB, Universitas Palangka Raya dan Universitas Tanjungpura.

Kesuksesan dari projek ini membutuhkan kerjasama yang kuat antara tim Australia dan tim Indonesia. Meskipun nantinya kerjasama ini akan banyak mengalami kendala diantaranya kompleksitas proyek dan bahasa, tapi semuanya akan terbayar bila penelitian ini telah menghasilkan outcome jangka panjang yaitu kebijakan nasional dalam penggunaan lahan gambut yang bijaksana.

Sebagaimana diketahui, Kebakaran dahsyat yang terjadi di 2015, menyebabkan lebih dari 2.6 juta ha lahan di Indonesia terbakar. Dari jumlah yang ada, tercatat 618.000 ha lahan gambut mengalami kerusakan parah. Bahkan, kebakaran di lahan gambut juga ikut memperberat fenomena kabut asap sebagai salah satu dampak kebakaran ini. Kebakaran di tahun 2015, juga diperparah dengan adanya dampak dari El Nino, yang disebut-sebut sebagai bencana kedua terburuk setelah bencana musim kebakaran di tahun 1997-1998.

Salah satu upaya pemerintah merehabilitasi lahan-lahan gambut yang terdegradasi adalah dengan membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) yang bertugas merestorasi 2M ha gambut sampai dengan tahun 2020 di tujuh provinsi yang memiliki lahan gambut terbesar.

Strategi restorasi lahan gambut yang diusulkan oleh BRG adalah dengan menaikkan level permukaan air (rewetting) melalui canal blocking, namun sayangnya belum dilakukan dalam skala luas. Demikian juga dengan strategi pengeringan lahan gambut yang berdampak pada hidrologi lahan gambut, kerentanan kebakaran, dan penghasilan masyarakat masih belum cukup dievaluasi.***FA

 

Write a comment

Komentar