Brownbag Discussion: Peatland and Forest Fire

Posted By Rizda 13 April 2017 - 12:00 am

FORDA (Bogor, 12/04/2017)_Untuk berkontribusi pada bangsa dari segi scientific based dan scientific advance, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan CIFOR mengadakan Brownbag Discussion (BBD) di Kampus CIFOR, Bogor, Rabu (12/04). 

Kegiatan yang sekaligus untuk mempererat, mengelaborasi dan mengembangkan exchange knowledge dalam kegiatan ini dibuka oleh Deputy Director General Reasearch CIFOR, Dr. Robert Nasi dan Dr. Ir. Krisfianti L. Ginoga, M.Sc mewakili Kepala Badan Litbang dan Inovasi. 

“BBD ini merupakan kesempatan baik bagi kita semua untuk memberikan rekomendasi aksi dan kebijakan yang bermanfaat berlandaskan pada science. Topik peatland dan forest fire diambil sebagai tema diskusi karena ini merupakan isu aktual saat ini,” kata Krisfianti Ginoga, Kepala Pusat Litbang Hutan dalam sambutannya. 

Dipandu oleh Dr. Herry Purnomo dari CIFOR, diskusi ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Sulistya Ekawati dari Pusat Litbang Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim, Prof. Dr. Daniel Murdiyarso dari CIFOR dan Dr. Made Hesti Lestari Tata dari Pusat Litbang Hutan. 

Dalam sesi diskusi, Sulistya Ekawati menyampaikan bahwa dalam manajemen gambut perlu ada bentuk insentif lain yang dapat diberikan berupa insentif fiskal berupa kredit dengan bunga tertentu bagi perusahaan dan pajak bagi pemegang izin. 

Made Hesti Lestari Tata menyampaikan bahwa faktor penyebab kebakaran tidak hanya biofisik atau musim kemarau tetapi ada faktor sosial ekonomi. Hesti menjelaskan bahwa penelitian-penelitian di BLI saat ini sudah mengarah ke arah landscape baik itu di daerah DAS maupun gambut. 

Sedangkan Daniel Murdiyarso menyampaikan bahwa dari hasil penelitiannya, diperoleh luas lahan gambut seluas 22,5 juta ha. Angka ini lebih besar dari luas 14,9 juta ha yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian karena hasil penelitiannya mempertimbangkan kadar air bukan tinggi muka air. 

Menutup acara diskusi, Herry Purnomo menyimpulkan beberapa hal yaitu bagaimana manajemen gambut yang selama ini tidak dihargai sebagaimana mestinya, bagaimana riset dilakukan, dan berapa luas lahan gambut secara otoritas  atau berdasarkan riset. 

Herry juga menyampaikan, dari segi keberlanjutan, apakah tinggi muka air lebih praktis ataukah kadar air, bagaimana konservasi pencegahan kebakaran dan aspek ekonomi berjalan bersama di lahan yang kritikal dan satu-satunya cara dengan kemitraan dan yang penting monitoring. 

“Sering dikatakan tidak ada ramuan ajaib, yang ada hanya pemantauan berkala. Dengan adanya BRG diharapkan pemantauan berjalan dengan baik sambil mencari ramuan-ramuan ajaib di lapangan untuk mencari yang terbaik,” kata Herry.***Ar

 

Write a comment

Komentar