KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda - 11:31 am, 30. March 2017 - 1765 klik

Kembangkan Pohon Buah Hutan Khas Batak, BP2LHK Aek Nauli akan Bangun Taman Etnobotani

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, 29/03/2017)_Dalam rangka mengembangkan pohon buah hutan khas suku Batak, tahun 2018 Balai Litbang LHK (BP2LHK) Aek Nauli akan membangun Taman Etnobotani. Taman etnobotani tersebut diharapkan akan menjadi alternatif obyek wisata edukasi dan sejarah di sekitar Danau Toba serta dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat setempat.

“Pohon rukam sudah mulai langka di Danau Toba. Oleh karenanya mulai tahun 2018, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli akan mengembangkan Rukam beserta sembilan jenis pohon buah hutan khas Batak lainnya pada taman etnobotani yang akan dibangun di Aek Nauli,” kata Dr. Aswandi, peneliti BP2LHK Aek Nauli. 

Saat ini, jenis-jenis pohon buah tersebut telah diperbanyak secara generatif dan vegetatif dengan total bibit lebih dari lima batang. Jenis pohon buah ini akan memperkaya koleksi arboretum Aek Nauli yang telah ditanami jenis-jenis endemik dataran tinggi Danau Toba, jenis-jenis eksotik maupun komoditas hasil hutan yang memiliki sejarah panjang dengan peradaban suku Batak di Tapanuli  seperti Kayu Kapur (Dryobalanops aromatica) dan Kemenyan (Styrax sumatrana dan Styrax benzoin). 

Salah satu pohon buah hutan khas Batak yang langka adalah harumonting. Harumonting mempunyai nama yang berbeda di beberapa daerah seperti Kalamunting (Riau) dan Harendong Sabrang (Jawa Barat). Tanaman liar berkayu ini termasuk ke dalam famili Myrtaceae (jambu-jambuan) dengan nama ilmiah diantaranya Rhodomyrtus tomentosa; Myrtus canescens; Myrtus tomentosa; dan Rhodomyrtus parviflora

Dahulu, buah harumonting sering dijumpai di pasar tradisional di Danau Toba. Namun, saat ini jenis yang dapat tumbuh pada berbagai habitat dan jenis tanah ini relatif jarang dijumpai. Apalagi, tanaman ini juga dianggap sebagai gulma karena pertumbuhannya yang sangat cepat. Lahan-lahan Harumonting juga banyak digantikan dengan tanaman kopi yang mulai masif ditanam di kawasan ini. 

Buah Harumonting berbentuk lonjong dengan ukuran 1-1,5 cm. Buah muda berwarna hijau yang akan berubah menjadi merah kecoklatan sampai ungu tua ketika matang. Daging buahnya manis dan berserat. Ekstrak antosianin dari buah dilaporkan mempunyai aktivitas antioksidan yang kuat. Buah yang dikonsumsi mempunyai  efek hemostatik pada saluran pencernaan, meningkatkan hemoglobin, jumlah sel darah merah, dan meningkatkan antianoxic

Penelitian lain menjelaskan bahwa daun harumonting mengandung senyawa flavonoid, steroid, triterpenoid, tanin, kuinon dan natrium, kalsium, kalium serta magnesium. Selain dapat digunakan mengobati penyakit diabetes, daunnya juga dapat mengobati luka luar dengan beberapa lembar daun yang dikunyah dan ditempelkan ke bagian luka. Ekstrak akarnya dapat meningkatkan jumlah trombosit, fibrinogen, dan otot kontrak pembuluh darah halus, serta mampu untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus sebagai penyebab nanah. 

Kelangkaan tidak hanya terjadi pada buah harumonting. Banyak buah-buahan hutan lainnya yang sangat sulit ditemui di pasar tradional seperti rukam, andalehat, jontik-jontik, jantiran, biwa, kapundung, dan sotul. Kelangkaan ini sejalan dengan berkurangnya luasan hutan alam akibat berbagai penyebab kerusakan hutan di Danau Toba dan sekitarnya. Tidak adanya upaya penanaman kembali semakin memperburuk kelestarian sumber pangan dan obat-obatan masyarakat tersebut. 

Selain menghasilkan buah yang bisa dimakan, pohon-pohon tersebut juga memiliki keterkaitan yang erat dengan sosial budaya suku Batak. Diantaranya, pohon rukam atau tada-tada. Kayu pohon ini merupakan bahan baku terbaik pembuatan Tunggal Panaluan yaitu tongkat Raja Batak dan pemimpin spiritual suku Batak. 

Bahkan, T.B. Silalahi, sang Jenderal dari tanah Batak menjadikan buah harumonting sebagai pengganjal perutnya di saat lapar karena tak punya uang. Tempaan kesulitan hidup masa kecilnya itu menjadi dasar yang kokoh bagi semangat hidup serta cara pandang terhadap kehidupannya.  

Buah Harumonting menjadi pengganjal perut. Bila ibunya memberi duit ia hanya mampu membeli nasi tanpa lauk. Hanya sebatas nasi dengan kuah daging. Tak lebih. Itupun hanya karena sang penjual iba….”. Demikian penggalan paragraf yang terpampang jelas pada salah satu poster di dinding ruangan museum T.B. Silalahi Center, Balige, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. 

Tentu tidak hanya beliau yang mengalami hal itu ketika kecil, anak-anak lainnya terutama yang tumbuh besar di desa-desa sekitar hutan juga pernah memakan buah harumonting. Dahulu, buah hutan ini sangat akrab dengan anak-anak penggembala horbo (kerbau) di Danau Toba. Buahnya tinggal dipanen dari pohon yang banyak tumbuh pada daerah padang rumput, semak belukar, bekas perladangan dan lainnya.***Asw/CRK