Bekantan: Membangun Hutan dengan Kemitraan

Posted By Rizda 20 March 2017 - 07:50 am

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 19/03/2017)_“Membangun Hutan dengan Kemitraan” adalah tema utama yang diangkat pada majalah Bekantan Volume 4 No. 2 Tahun 2016. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan meminimalkan konflik dengan perusahaan pemegang konsesi menjadi tujuan dari kemitraan ini. Kesuksesannya tergantung dari komitmen  yang tinggi dari semua pihak.

Kemitraan Para Pihak (KPP) melibatkan para pemangku kepentingan yang memiliki peran, kepentingan dan pengaruh terhadap kawasan hutan tertentu. Proses yang dilakukan adalah dialog, membangun kepercayaan, belajar bersama, pengambilan keputusan bersama dan tindakan kolaboratif. Yang akhirnya dapat melintasi batas-batas, membuka jebakan masalah dan konflik serta memungkinkan masyarakat, komunitas tertentu, organisasi dan lembaga yang ada berperilaku dengan cara-cara baru dan lebih efektif.  

Bagaimana KPP ini menjadi cara untuk mendorong perubahan sosial, ekonomi, politik, teknologi, lingkungan hidup dan kehutanan serta siapa saja dan apa saja pembelajaran yang diperoleh dari KPP di Delta Mahakam akan dibahas Dr. Tien Wahyuni, peneliti BP2D Samarinda secara lengkap dalam rubrik lansekap  terbitan kali ini.

Loksado, daerah wisata alam masyarakat Dayak Bukit di pegunungan Meratus. memiliki potensi hutan dan ekonomi untuk masyarakat disekitarnya, akan dikupas oleh Arif Susianto, teknisi litkayasa BP2LHK Banjarbaru.

Dalam rubrik fokus, ada 4 bahasan, yang pertama “Kemitraan Kehutanan : Solusi Jitu Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan” yang dikupas Arga dan Prihono, pengendali Ekosistem Hutan di BPHP Wil.IX Banjarbaru. Yang kedua, Dr. Acep Akbar membahas “Peta Sosial dari riset masyarakat  Tumbang Nusa, kaitannya dengan pencegahan kebakaran hutan”. Yang ketiga, Edy Suryanto, pengelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rantau akan berbagi pengalaman menghadapi perambahan di KHDTK  dengan menulis “Kemitraan Kehutanan Sebagai Solusi Perambahan Hutan di KHDTK Rantau”. 

Apa saja intrumen kebijakan dan Pengelolaan KPHL Model di Hulu Sungai Selatan serta rekomendasi pemilihan instrument kebijakan dapat disimak pada ulasan Ir. Dian Lauardi yang menjadi rubrik fokus keempat.

Sementara pada rubrik artikel, pembaca dapat  mengetahui bagaimana Marinus dan Santosa menjabarkan perlunya pemanfaatan biomassa hutan yang mendukung Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dalam konsep “Rumah Pellet”.

Jika pembaca ingin mengetahui pembuatan gaharu pola agroforestry dengan super intensif, dapat dibaca tulisan Beny Rahmanto, S. Hut yaitu “Demplot Super Intensif Agroforestry di KHDTK Rantau”.

Yang tak kalah menarik, bagaimana pembelajaran pola pemberdayaan masyarakat yang berada di kawasan Taman Nasional dapat disimak pada rubrik artikel yang disajikan dari pengalaman Tri Wira Yuwati, peneliti BP2LHK Banjarbaru yang melakukan studi di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah.

Dalam rubrik profil, kami mengangkat Pak Hamzah,  petani yang gigih dalam mengolah lahan pertanian dan mempertahankan hutan di desanya yang akhirnya mengantarkannya memperoleh  Kalpataru.

Lintas peristiwa menyajikan acara “pemotongan hewan korban hari raya  Idhul Adha 1437H karyawan BP2LHK Banjarbaru”, “ Keikut sertaan BP2LHK Banjarbaru pada acara Kalsel Ekspo”, “Mengenal Hutan oleh murid PAUD di kampus BP2LHK Banjarabaru”, dan “Transfer Teknologi Inokulasi Gaharu”. Selamat membaca.*

Download Bekantan Volume 4 No. 2 Tahun 2016

Write a comment

Komentar