Aplikasi Alat Ukur Diameter Pohon “Wesyano” dan Alat Pendeteksi Kayu Gerowong Hasil Rekayasa P3HH di PT. KTR

Posted By Rizda 14 March 2017 - 07:44 am

P3HH (Kotawaringin Timur, 08/03/2017)_Pada 2 - 7 Maret 2017, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) menyelenggarakan Alih Teknologi Alat Ukur Diamater Pohon “Wesyano” dan Alat Pendeteksi Kayu Gerowong bagi karyawan PT. Kayu Tribuana Rama (KTR). Kegiatan yang dilakukan di Base Camp PT. KTR Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini adalah salah satu dari 6 kegiatan kerja sama yang telah disepakati oleh P3HH dengan PT. KTR.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 17 orang peserta dari jajaran manajemen PT. KTR yang ada di Camp serta beberapa orang petugas lapangan PT. KTR dengan antusias. Demikian disampaikan Ir. Adang Sopandi, M.Sc, Kepala Bidang Pengembangan Data dan Lanjut Penelitian P3HH, Jumat (08/03) kepada tim reportase P3HH selepas mengikuti kegiatan tersebut.

Dibantu 1 orang teknisinya, 2 orang peneliti sebagai narasumber acara tersebut yaitu Ir. Soenarno, M.Si dan Wesman Endom, M.Sc menjelaskan teori, diskusi di kelas dan praktek di lapangan. Dalam alih teknologi tersebut tim memperlihatkan prototipe 3 unit alat ukur diameter “Wesyano” dan 1 unit alat deteksi kayu gerowong hasil rekasaya P3HH untuk digunakan di PT. KTR.

Soenarno berharap bahwa selepas kegiatan ini, jajaran manajemen PT. KTR dan petugas lapangan terkait mampu mengaplikasikan sendiri penggunaan alat tersebut. Dengan begitu, kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP) sebagai dasar penyusunan rencana tebangan dapat lebih optimal. Selain itu dapat menghasilkan data kayu sebagai potensi tebangan yang lebih akurat dan dalam kegiatan pemanenan kayu mendapatkan hasil lebih optimal.

Lebih lanjut Soenarno menjelaskan bahwa alat ukur diameter “Wesyano” ini merupakan prototipe alat hasil pengembangan dari alat serupa sebelumnya  yaitu “Wesyan” yang telah ditingkatkan kualitas maupun fungsinya oleh tim. Sekarang alat ini lebih praktis dan ergonomis bagi kegiatan pengukuran pohon-pohon besar di hutan alam. Hal ini karena “Wesyano” mampu mengukur diameter pohon besar berbanir tinggi sampai tinggi 2,5 m di atas tanah dan alat dapat dipendekkan seperti tongkat narsis yang biasa dipakai untuk berfoto selfie.

Sedangkan alat pendeteksi kayu gerowong, dirancang untuk membantu petugas inventarisasi pohon (ITSP) mendeteksi kualitas kayu yang akan ditebang. Alat ini akan memudahkan petugas lapangan mengetahui kualitas pohon. Dengan alat ini dapat diketahui kayunya benar-benar memenuhi syarat dan layak atau tidak untuk ditebang.

Selama ini pada pohon yang telah ditebang sering kali ditemukan kayunya gerowong atau berlubang bagian dalamnya sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Oleh karenanya, dengan diketahuinya kualitas pohon tersebut gerowong atau tidak, maka kegiatan penebangan akan lebih optimal.

Selain itu, Adang menjelaskan bahwa berdasarkan hasil evaluasi, ternyata alat ukur diameter “Wesyano” cukup akurat diaplikasikan dalam pengukuran ITSP dengan akurasi berkisar antara 98-99,3% dan kecepatan pengukurannya antara 2-5 kali lebih cepat dibandingkan dengan pengukuran dengan menggunakan pita ukur. Selain itu alat dapat dipakai untuk mengukur pohon sampai diameter 90 cm. Alat Wesyano ini jauh lebih cepat untuk kayu yang berukuran besar >60 cm dan pohon berbanir.

Hasil pengukuran dengan pita ukur selalu lebih besar sekitar 2-4 cm karena pada saat melilitkan ke pohon mungkin tidak lurus dan tidak benar-benar nempel di pohon. Sedangkan pada praktek deteksi kayu gerowong di lapangan, terbukti bahwa dari 10 pohon yang diduga gerowong oleh petugas lapangan, ternyata setelah dicek dengan alat ukur deteksi kayu growong hanya 8 pohon yang terbukti gerowong. Hal ini berarti akurasi perkiraan oleh petugas lapangan hanya 80%, dengan demikian dapat diketahui masih ada sekitar 20% potensi kayu yang semula diduga growong ternyata dapat dimanfaatkan.***EM&ATH

Write a comment

Komentar