Penerapan IPTEK Bioetanol dari Aren Berhasil, P3HH Inisiasi Pengembangan Desa Mandiri Berbasis Aren di Boalemo, Gorontalo

Posted By Rizda 11 March 2017 - 12:00 am

FORDA (Jakarta, 10/03/2017)_IPTEK pembuatan bioethanol dari nira aren yang dihasilkan Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH), salah satu Puslitbang Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK telah diadopsi oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Boalemo. Berangkat dari keberhasilan penerapan IPTEK tersebut, P3HH menginisiasi Pengembangan Desa Mandiri Berbasis Aren di Boalemo, Gorontalo.

Dengan begitu, Desa Bendungan di Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo ini akan menjadi desa model pemanfaatan aren secara komprehensif, yaitu sebagai bioenergi dan pangan, sekaligus sebagai leverage pengembangan perekonomian desa. Hal tersebut disampaikan Kepala P3HH, Dr. Dwi Sudharto saat Siaran Pers yang difasilitasi Pusat Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Ruang Rapat Utama, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (10/3).

Dwi mengatakan, optimasi pemanfaatan dan peningkatan nilai tambah aren dengan nama latin Arenga pinnata ini akan menjadi upaya dan kontribusi nyata bagi peningkatan pendapatan masyarakat di Boalemo. Hal ini karena aren sangat prospektif diolah menjadi bioenergi maupun produk pangan, terlebih karena di sana, potensi bahan baku aren ini sangat berlimpah.

"Pengembangan desa mandiri berbasis aren itu nyata, konkrit karena bahan bakunya melimpah. Indonesia memiliki 70 ribu hektar aren yang tumbuh secara alami di 14 Provinsi," kata Dwi kepada sekitar 25 wartawan yang hadir dari berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik.

Dwi menjelaskan, secara ekonomi, memproduksi bioethanol dari nira aren akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan hanya mengandalkan produksi gula aren atau gula semut. Hitung-hitungannya, dengan 15-20 liter/hari/pohon berarti Desa Bendungan yang dijadikan desa model pemanfaatan aren yang memiliki 4.500 pohon aren siap panen iniakan menghasilkan nira aren 90.000 liter/hari atau 2.700.000 liter/bulan.

Dengan teknologi pengolahan aren yang diadopsi, 25 liter nira aren akan menghasilkan minimal 2 liter bioethanol. Berarti, bioethanol yang dihasilkan 216.000 liter/bulannya. 1 liter bioethanol mix yang memiliki kinerja setara dengan gas 3 kg seharga 20 ribu rupiah ini akan membuka peluang pasar bioethanol mix sebagai alternatif bahan bakar selain gas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dimana 60% penduduk menggunakan gas.

"Untuk keperluan pemenuhan bahan bakar rumah tangga 648 KK per bulan hanya dibutuhkan sekitar 118 liter bioethanol murni. Sebagian besar masyarakat masih tergantung dengan bahan bakar gas yang kadangkala langka. Dengan begitu, bioethanol bisa dipasarkan ke luar daerah," kata Dwi.

“Ditambah dengan produksi nata pinnata, gula aren, gula semut, kolang kaling, permen jelly kolang kaling dari pohon aren, menurut Dwi, penghasilan penduduk juga akan bertambah,” kata Dwi menambahkan.

Dwi juga menjelaskan beberapa kriteria yang diperlukan dalam menentukan kenapa desa di Kab. Boalemo ini yang akan dijadikan sebagai desa mandiri berbasis aren. Kriteria tersebut, antara lain karena desa ini memiliki potensi bahan baku yang melimpah; tingginya ketertarikan masyarakatnya memanfaatkan aren sebagai bioenergi yang terlihat dari antusiasme mereka saat dilakukan alih teknologi; memiliki prospek pasar; serta memiliki kelembagaan desa, kelompok tani dan badan usaha desa yang aktif.

Setelah itu, Dwi menjelaskan, rencana kegiatan yang akan dilakukan dalam pengembangan desa mandiri berbasis aren ini. Kegiatan dimulai dari pembentukan 3 unit industri pengolahan nira aren untuk bioethanol; mengaplikasikan inovasi IPTEK berupa rekayasa alat, inovasi pengolahan, formulasi bioethanol mix, pemetaan bahan baku, kelembagaan dan pasar; alih teknologi berupa pengolahan bioethanol, pengolahan pangan (gula semut, nata pinnata, manisan kolang kaling), budidaya tanaman aren unggul, pelatihan usaha; serta koordinasi dan diseminasi berupa publikasi, pengembangan jejaring dan promosi produk. Supaya berkelanjutan, akan dibuat model percontohan tanaman mengaplikasikan teknik budidaya varietas unggul yang akan berkolaborasi dengan unit kerja lain di BLI.

Meski demikian, menurut Dwi, ada beberapa tantangan dalam melakukan pengembangan ini, diantaranya pentingnya peran dan komitmen para pihak terkait berupa dukungan pendanaan dalam tahap awal; pentingnya peningkatan pemberdayaan kelembagaan yang ada untuk keberlangsungan kegiatan usaha seperti kelompok tani, Badan Usaha Desa dan koperasi; pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu melaksanakan usaha secara mandiri; kesinambungan bahan baku: perlu penanaman yang terstruktur dengan varietas unggul mengingat tanaman aren yang ada saat ini adalah tanaman yang tumbuh secara alami; serta inovasi IPTEK yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Namun, dengan komunikasi, sinergi dan komitmen para pihak, Dwi yakin Desa Mandiri berbasis aren di Boalemo dapat terwujud. Selain di Gorontala, P3HH juga merekomendasikan perlunya membuat replikasi kegiatan pengembangan desa mandiri berbasis aren di provinsi yang memiliki potensi aren tinggi, seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah.

Terkait bioenergi secara umum, pada kesempatan ini, Dwi juga menyampaikan, P3HH telah menjalin kerjasama pengembangan bioenergi dengan beberapa pelaku usaha kehutanan.

"10 HTI telah melakukan penanaman tanaman energi seluas 89.860 hektar. Hasilnya, dua dari HTI tersebut, yaitu PT. Korintiga dan PT. Sadana Arif Nusa telah berproduksi dan hasilnya telah dimanfaatkan. Selain itu, 23 HTI lainnya turut berkomitmen menanam tanaman energi seluas 87.600 hektar, data yang kami dapat dari Ditjen PHPL," kata Dwi.

Selain itu, P3HH juga akan menjajaki penelitian kolaborasi dengan ITB terkait bioavtur, bahan bakar alternatif pesawat terbang bermesin turbin. Sebagaimanadiketahui, bioavtur dihasilkan dari pengolahan melalui proses konversi biomassa berupa serat, gula, tepung dan minyak nabati.***RH

 

Download Materi:

IPTEK dan Inovasi Litbang Bioenergi

Write a comment

Komentar