KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Tuti - 11:16 am, 10. March 2017 - 1004 klik

Pulau Pejantan, Salah Satu Pulau Terisolir di Indonesia

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, 09/03/2017)_Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan. Banyak pulau di Indonesia yang berlum terekspose atau bahkan terisolir. Salah satunya adalah Pulau Pejantan yang terletak di Desa Mentebung, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau.

Pulau ini menjadi terkenal setelah adanya kegiatan ekspedisi awal yang dilakukan oleh Peneliti Badan Litbang dan Inovasi (BLI) yaitu  Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si (Peneliti P3H), Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc (Peneliti BP2LHK Aek Nauli), Ir. Adi Susilo, M.Sc (Peneliti P3H), Tri Atmoko, S.Hut, M.Si (Peneliti Balitek KSDA), Sugito, S.Hut, M.Sc (PEH BBKSDA Riau, Deddy Saputra Hasnur (Polhut BBKSDA Riau). Ekspedisi tersebut dilaksanakan selama dua minggu, yaitu 25 Januari - 6 Februari 2017.

Sebetulnya Pulau Pejantan merupakan salah satu pulau dari 56 pulau kecil lainnya yang terdapat pada gugusan pulau Tembelan. Penamaan nama pulau ini disebabkan adanya sebuah batu yang mirip ayam jantan yang terdapat pada pulau ini. Disamping itu, konon kabarnya masyarakat juga sering mendengar bunyi ayam jantan berkokok.

“Kondisi alam yang ada di Pualau Pejantan sangatlah ekstrim sehingga sangat sulit untuk menuju pulau ini. Hanya orang-orang yang dianggap jantan dan bernyali tinggi yang berani dan sampai ke pulau ini. Mungkin faktor ini juga yang akhirnya pulau ini disebut Pulau Pejantan,”kata Wanda Kuswanda, Peneliti BP2LHK Aek Nauli yang terlibat dalam ekspedisi tersebut.

Disadari bahwa topografi Pulau Pejantan secara umum berbukit dengan kelerengan curam sampai terjal di atas 45%. Topografi datar hanya ditemukan di atas bukit dan berbatu.  Hamparan batu banyak ditemukan di atas bukit dan hanya ditumbuhi sedikit tanaman, terutama dari Famili Myrtaceae, Moracea, Nephentes, Orcidacea dan Poacea serta Graminae (rumput-rumputan).

“Ekosistem hamparan batu ini merupakan ekosistem unik yang jarang ditemukan di pulau-pulau sekitarnya,”kata Wanda.

Pulau Pejantan merupakan pulau kecil dengan luas kampung dan kebunnya sekitar 3-4 ha. Pulau ini dihuni oleh 12 Kepala Keluarga dengan masyarakat mayoitas berasal dari Melayu Johor, baik yang datang dari Pulau Johor, Pulau Pinang, Pulau Pengikik maupun sekitar Pontianak.

“Pulau Pejantan dikenal juga sebagai pulau singgahan karena letaknya yang berada di tengah-tengan kepulauan Kalimantan dan Sumatera,”kata Wanda.

Bangunan yang ada sebanyak 15 bangunan yang merupakan rumah penduduk lokal dan sekolah serta 2 bangunan penjaga mercusuar. Mata pencarian masyarakat mayoritas sebagai nelayan. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari didapat dengan berbelanja ke Pulau Mentebung, Pulau Tambelan, Pontianak dan Pulau Pengikik.

“Masyarakat juga ada yang berkebun dengan jenis tanaman mayoritasnya adalah kelapa. Selain untuk didapatkan hasilnya, penanaman kelapa juga dijadikan sebagai penanda kepemilikan tanah di pulau ini,”jelas Wanda.

Pada saat ekspedisi, Tim menemukan banyak batu kecubung. Hal ini menandakan bahwa pulau ini kaya dengan kandungan logam mulia. Hasil ini juga didukung oleh pernyataan masyarakat yang mengatakan bahwa banyak masyarakat luar negeri yang sering datang ke pulau ini dengan niat untuk mencari bahan tambang. Diakui bahwa bahan tambang yang ada di pulau ini bernilai ekonomi tinggi.

Bahkan berdasarkan cerita masyarakat setempat, eksploitasi sumber daya alam di Pulau Pejantan ini sudah terjadi pada masa Penjajahan Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan bekas rel kereta api, galian Tambang dan instalasi yang diduga peninggalan Belanda atau Jerman. Sayangnya tim ekspedisi tidak menemukan berbagai bukti tersebut. ***Novri/Haris/Hery.

 

Informasi Selengkapnya

BP2LHK Aek Nauli

http://aeknauli.litbang.menlhk.go.id
Jln. Raya Parapat Km. 10,5 Sibaganding, Parapat, Sumatera Utara