Peneliti KLHK Rekomendasikan Pulau Pejantan Ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Berbentuk TWA atau KKE

Posted By Rizda 08 March 2017 - 05:00 pm

FORDA (Bogor, 08/03/2017)_Ekspedisi yang dilakukan peneliti BLI-KLHK ke Pulau Pejantan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau beberapa waktu lalu menghasilkan beberapa temuan berupa adanya ekosistem unik, indikasi adanya spesies baru flora dan fauna serta berbagai potensi lainnya. Berdasarkan itu, sebagai tindak lanjutnya, tim ekspedisi merekomendasikan agar Pulau Pejantan ditunjuk dan ditetapkan sebagai kawasan konservasi, apakah berbentuk taman wisata alam (TWA) atau kawasan ekosistem esensial (KKE).

Dr. Hendra Gunawan, peneliti Puslitbang Hutan selaku ketua tim ekspedisi menyampaikan ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan tim peneliti dalam rekomendasi tersebut. Pertimbangan pertama adalah untuk melindungi keanekaragaman hayati yang ada di sana.

Pertimbangan kedua kenapa kawasan konservasi berbentuk TWA atau KKE adalah untuk pengembangan Pulau Pejantan sendiri dengan melibatkan penduduk lokal dan semua pihak yang berkepentingan. Dengan begitu memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Mekanisme yang menciptakan keduanya: melindungi dan memberikan manfaat menurut kami adalah ekowisata. Wisata tidak mengambil apa-apa, hanya mengambil foto, tapi kalau izin tambang akan meninggalkan kerusakan. Jadi ekowisata, adalah pemanfaatan yang tidak merusak,” kata Hendra saat Jumpa Pers Badan Litbang dan Inovasi (BLI) di Gunung Batu, Bogor, Rabu (8/3).

“Ekowisata dapat dikembangkan di kawasan konservasi berbentuk TWA maupun ekosistem esensial, yang penting ada payung hukumnya,” tambah Hendra.

Diinformasikan, Pulau Pejantan yang secara administrasi berada di Desa Mentebung, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau ini telah dihuni oleh beberapa generasi. Saat ini terdapat 12 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 40 orang. Sebagian besar penduduk merupakan Suku Melayu Tambelan dan seluruhnya berprofesi sebagai nelayan, dengan fasilitas pendidikan yang minimal bagi anak-anak mereka.

Kepada tim ekspedisi, penduduk lokal Pulau Pejantan yang diwawancarai menitipkan aspirasinya untuk disampaikan kepada pihak yang berwenang. Aspirasi tersebut antara lain pembangunan sarana pendidikan dengan jumlah guru yang memadai; pembangunan sarana air bersih; instalasi listrik (genset) atau panel surya yang memadai untuk seluruh penduduk; radio komunikasi dan parabola; serta pengembangan daerah tujuan wisata dan meningkatkan status Pulau Pejantan menjadi desa, sehingga dapat memperbaiki kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu menurut Hendra, perlu dilakukan pengembangan daerah sekaligus sustainable biodiversity dengan menjadikannya sebagai lokus model penelitian eko-biogeografi pulau terpencil untuk mempelajari sejarah alam.

Selain memiliki ekosistem yang unik, Hendra mengatakan, Pulau Pejantan juga terindikasi memiliki spesies-spesies baru, baik flora dan fauna. Hal ini terlihat dari tampilan morfologi beberapa jenis flora dan fauna yang ditemukan.

"Meski demikian, mengenai jumlah spesies baru belum dapat dipastikan, karena perlu kajian taksonomis dengan dukungan analisis DNA," kata Hendra.

Disamping keanekaragaman hayati, tim juga mengidenti­fikasi wisata alam yang sangat potensial untuk  pengembangan daerah dan peningkatan ekonomi masyarakat. Potensi wisata yang dapat dikembangkan antara lain wisata selam dan snorkeling, wisata alam pantai/bahari, wisata khusus panjat tebing (rock climbing), jungle tracking ekosistem batu granit dan wisata konservasi penyu (pelepasan tukik).

Tim juga menemukan potensi wisata lainnya, yaitu adanya bekas penambangan yang diduga penambangan batu mulia peninggalan masa penjajahan. Selain itu, juga ditemukan adanya bekas penambangan tradisional batu mulia oleh masyarakat untuk pembuatan akik ketika pasaran batu akik sedang ramai.

Menurut Hendra, setelah penetapan Pulau Pejantan sebagai kawasan konservasi berbentuk TWA, perlu dibentuk kelembagaan pengelola ekowisata dan konservasi keanekaragaman hayati. Selain itu, perlu dilakukan eksplorasi yang lebih mendalam dan komprehensif yang melibatkan para ahli berbagai disiplin ilmu, baik dari KLHK maupun dari lembaga penelitian lainnya.

“Pengelolaan wisata di sana perlu manajemen. Banyak yang datang ke sana tanpa bayar. Maka perlu manajemen sehingga yang ke sana perlu bayar. Selain itu pengunjung yang tidak bisa menyelam bisa datang dengan belanja souvenir produk masyarakat sehingga ini akan mengangkat perekonomian masyarakat setempat,” kata Hendra.

Menanggapi pertanyaan wartawan terkait rekomendasi TWA tersebut, Ir. Antung Deddy Radianyah, MP, Direktur BinaPengelolaan Ekosistem Esensial, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) yang turut hadir pada Jumpa Pers tersebut menjelaskan perbedaan kawasan konservasi dengan TWA maupun ekosistem esensial. 

Menurutnya, opsi kedua, TWA adalah opsi yang potensial karena akan memberdayakan masyarakat, bagaimana masyarakat berperilaku melindungi hutan, ini dapat menjadi potensi wisata. 

“Dengan melindungi alamnya sendiri dan keunikan alamnya, hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat sendiri. Karena kolaborasi untuk memasukkan pemerintah daerah dalam mengelola bersama dan melakukan kegiatan konservasi itu adalah prinsip pemanfaatan ekosistem esensial,” kata Antung.

Dari eksplorasi yang dilakukan selama hampir dua minggu ini, tim ekspedisi mencatat ada enam tipe ekosistem di P. Pejantan yaitu ekosistem terumbu karang, ekosistem goa, ekosistem hutan mangrove, ekosistem hutan pantai, ekosistem hutan hujan dataran rendah, dan ekosistem vegetasi di atas batu granit. Vegetasi yang tumbuh di atas hamparan batu granit merupakan keunikan yang dimiliki Pulau Pejantan, karena ekosistem tersebut belum pernah ditemukan bahkan tercatat di klasifikasi tipe ekosistem.

Jenis-jenis satwa yang berhasil tercatat adalah lima spesies mamalia, 10 spesies aves, dan delapan spesies reptilia. Selain itu tim peneliti berhasil mengoleksi 145 specimen herbarium jenis-jenis pohon, enam spesies anggrek, satu spesies kantung semar (Nepenthes), dua spesies pandan dan tiga spesies palem.

Dari karakteristik biologisnya, tim juga menemukan bahwa flora dan fauna di pulau ini mengindikasikan adanya kedekatan atau kekerabatan dengan flora dan fauna di Kalimantan (Borneo). Dengan demikian, dapat diduga bahwa induk dispersal flora-fauna P. Pejantan berasal dari Pulau Kalimantan.

Jenis fauna Pulau Pejantan yang sama atau mirip dengan jenis-jenis fauna Kalimantan antara lain: bajing tiga warna (Callosciurus prevostii sanggaus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kelelawar vampire palsu (Megaderma spasma), pergam laut (Ducula sp.), dan biawak monitor (Varanus salvator).

Sedangkan jenis pohon yang berkerabat dengan jenis pohon di Kalimantan antara lain jenis-jenis Dipterocarpaceae, Lauraceae, Dilleniaceae, Moraceae, Apocynaceae, Meliaceae, Verbenaceae dan Burseraceae.***RH

 

Download Materi:

Ekspedisi Keanekaragaman Hayati Pulau Pejantan

Perlindungan Kawasan Ekosistem Esensial di Pulau Pejantan

 

Berita Terkait:

Di Pulau Pejantan-Kepulauan Riau, Peneliti KLHK Temukan Ekosistem Unik yang Tidak Ada di Klasifikasi Tipe Ekosistem

Akrabkan Diri dengan Media, BLI Adakan Jumpa Pers

Write a comment

Komentar