Suatu Keniscayaan, Berkayu di Kebun Sawit

Posted By Tuti 03 March 2017 - 05:13 am

Balitek DAS (Solo, 28/02/2017)_Menanam tanaman kayu di kebun sawit bukanlah hal yang mustahil. Ini dapat dilaksanakan dan bisa meningkatkan pendapatan petani. Hal ini diungkapkan oleh Agung Wahyu Nugroho, S. Hut., M.Sc., Peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan (Balitek) DAS di Solo, Selasa (28/02).

“Mengusahakan tanaman kayu di kebun sawit mampu memberikan andil bagi pemenuhan pasokan kayu untuk industri perkayuan. Sistem agroforestri ini mampu menjaga optimalisasi ruang tumbuhan, meningkatkan kelembaban tanah, mengurangi erosi, meningkatkan kesuburan tanah, dan meningkatkan sumber cadangan air,”kata Agung.

Agung menyadari bahwa kelapa sawit memberikan kontribusi yang nyata dalam peningkatan perekonomian masyarakat, sehingga kelapa sawit menjadi tanaman primadona bagi masyarakat. Tetapi dari aspek ekologi, perkebunan kelapa sawit secara monokultur mempunyai beberapa dampak negatif, seperti menurunnya keanekaragaman jenis, berkurangnya ketersediaan air, dan terjadinya kerusakan lahan rawa gambut.

“Alternatif yang bisa dilakukan yaitu mengusahakan tanaman kayu sebagai tanaman sela di antara kelapa sawit. Berkayu di kebun sawit dapat menjadi harapan bagi sektor kehutanan,”kata Agung.

Tetapi untuk mengusahakan hal tersebut, Agung menyarankan untuk memperhatikan pola tanam dan pengaturan kerapatan tegakan di kebun sawit yang memadukan dua jenis tanaman yang berbeda ke dalam satu lahan.

“Pengaturan kerapatan berhubungan dengan pemanfaatan tapak dan ruang seoptimal mungkin. Pemanfaatan tapak dan ruang berkaitan dengan persaingan pada sistem perakaran untuk memperoleh air dan unsur hara, maupun persaingan tajuk untuk memperoleh cahaya matahari,”kata Agung.

Agung berharap dengan adanya pola agroforestri ini bisa meningkatkan pendapatan petani atau masayarakt di sekitar hutan. Selain itu, usaha ini diharakan juga bisa mencegah deforestasi dan degradasi kawasan hutan di Indonesia.

Diketahui bahwa tiap tahun, laju deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia meningkat. Berdasarkan data kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) 2015, angka deforestasi di Indonesia pada tahun 2012-2013 mencapai 727.981,2 ha/tahun. Sedangkan tutupan vegetasi pada kawasan hutan haya seluas 96.490.800 ha dari luas kawasan hutan sebesar 126.302.230 ha.

“Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya perambahan atau alih fungsi lahan. Hutan banyak yang dikonversi menjadi pemukiman, areal pertanian dan perkebunan kelapa sawit,”kata Agung.

Oleh karena itu, Agung menyambut baik adanya kebijakan moratorium alih fungsi kawasan hutan alam untuk dikonversi menjadi lahan kelapa sawit. Bahkan kebijakan ini mendapat dukungan dari semua pihak.

Disadari bahwa luasan lahan kelapa sawit yang telah ada saat ini sudah cukup dan dapat ditingkatkan lagi kapasitas produksinya dengan memaksimalkan potensi yang ada, salah satunya dengan pola agroforestri dengan  jenis tanaman hutan atau berkayu.

Diharapkan dengan pola tersebut, dampak negatif terhadap lingkungan akibat perluasan perkebunan kelapa sawit dapat diminimalkan.***AA.

 

 

Informasi Selengkapnya:

Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS

url : http://dassolo.litbang.menlhk.go.id atau  http://balitekdas.org

Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp.  0271 - 716709, Fax.   0271 - 716959

Write a comment

Komentar