Populasi Harimau Sumatera Terjaga, Kawasan Hutan Lestari

Posted By lusi 01 March 2017 - 03:35 am

Jakarta, Biro Humas Kementerian LHK, Senin, 27 Februari 2017: Perkuat pengelolaan kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati, Indonesia menjalin kerjasama dengan United Nation Development Programme (UNDP). Rencana kerjasama tersebut dituangkan dalam kegiatan yang berjudul “Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatran Priority Landscape”. Kerjasama ini dibahas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama-sama UNDP hari Senin (27/02/2017) di Sentul, Bogor.

 
Dalam pembahasan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Bambang Hendroyono menyampaikan bahwa, “Kerjasama ini bertujuan untuk mengatasi kendala-kendala kelembagaan, tata kelola dan pendanaan dalam pengelolaan konservasi keanekaragaman hayati. Selain itu, untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati di lanskap prioritas Sumatera, dilakukan teknik terbaik pengelolaan kawasan konservasi dan kawasan non konservasi dengan pemulihan populasi Harimau Sumatera sebagai indikator”.
 
Indikator ini dipilih karena deforestasi termasuk ancaman utama terhadap populasi satwa selain perburuan dan konflik satwa. Populasi Harimau Sumatera di lansekap kecil dan sedang akan punah pada laju ancaman apapun. Pada deforestasi 9% dan 20% per tahun selama 10 tahun, populasi harimau secara berturut pada lansekap sedang dan besar akan mengalami kepunahan 100%. 
 
“Selama lebih dari dua dekade, laju kehilangan luas hutan pertahun di Sumatera mencapai 2% dari total luas kawasan hutan negara. Tutupan hutan, baik primer maupun sekunder telah menyempit dari 25,3 juta hektar di tahun 1985 menjadi 12,8 juta hektar di tahun 2009. Khusus untuk hutan primer, diketahui sejumlah 2,9 juta hektar telah terbuka pada selang tahun 2000 dan 2012. Kehilangan terbesar berada pada hutan lahan basah primer, sebesar 1.5 juta, dan hutan primer dataran rendah sebesar 1,2 juta hektar”, jelas Bambang Dahono Adjie, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati.
 
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya sub-spesies harimau yang tersisa di Indonesia, setelah punahnya harimau Jawa (P. t. sondaica) dan harimau Bali (P. t. balica) di tahun 1980an dan 1940-an. Data terakhir perkiraan populasi Harimau Sumatera adalah sekitar 400-500 individu (Dokumen Sumatran Tiger Action Plan, 1994). 
 
Beberapa upaya untuk mencegah kepunahan satwa ini, yaitu : (1) menjamin keamanan koridor antar lansekap yang mendukung perpindahan populasi secara alami; (2) translokasi dengan polulasi besar sebagai sumbernya; dan (3) penjagaan terhadap populasi kecil untuk dapat menjadi sumber keragaman genetik.
 
Lokus kegiatan ini akan difokuskan pada kawasan Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, TN Berbak-Sembilang dan TN Bukit Barisan Selatan, dengan dukungan dana hibah dari Global Environment Facility (GEF) senilai USD 9 juta untuk jangka waktu selama 5 tahun. Tiga komponen utama kerjasama adalah peningkatan efektivitas institusi pengelola kawasan konservasi, pengembangan sistem koordinasi lintas sektor pada lanskap prioritas, dan pembiayaan berkelanjutan untuk pengelolaan keanekaragaman hayati.
 
Bambang Dahono juga menambahkan, “Dengan adanya kerjasama ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas pengelolaan kawasan konservasi pada tingkat pusat dan daerah, meningkatkan koordinasi dalam isu perdagangan ilegal hidupan-liar, pembangunan infrastrukur, perambahan kawasan konservasi dan mitigasi konflik manusia-satwa, dan membangun skema pendanaan baru”.
 
Sejumlah Lembaga Non Pemerintah juga terlibat dalam kegiatan ini, antara lain Flora Fauna International/ FFI, Wildlife Conservation Society/ WCS, Zoological Society London/ ZSL, dan Forum Harimau Kita/FHK. Turut hadir dalam pembahasan kerjasama ini, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Kepala BKSDA Jambi, Kepala Balai TN Berbak-Sembilang, Kepala Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, Kepala Balai Besar TN Kerinci Seblat. (***)
Write a comment

Komentar