Revolusi Mental Pengelolaan Sampah

Posted By lusi 01 March 2017 - 03:30 am

Jakarta, Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin, 27 Februari 2017. Sampah plastik menjadi masalah lingkungan hidup di Indonesia dan di dunia, karena plastik tidak mudah terurai dalam kurun waktu yang cukup lama. Dampak negatif sampah plastik tidak hanya mengganggu kesehatan manusia tetapi juga mengganggu makhluk hidup lainnya bahkan merusak lingkungan secara sistematis. Oleh karena itu jika tidak ditangani secara serius, sampah plastik akan menimbulkan pencemaran yang sangat berbahaya bagi kelangsungan mahluk hidup.


Guna membahas pengembangan alternatif kebijakan pengelolaan sampah, khususnya sampah di pantai dan laut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan Workshop Pengelolaan Sampah di Pantai dan Laut di Jakarta, Senin (27/02/2017).

Sebagai upaya menyeluruh penanganan sampah dari hulu sampai hilir, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, saat membuka workshop tersebut menyatakan bahwa “Pemerintah Pusat akan mengkonsentrasikan pengendalian sampah kepada peningkatan penanganan sampah di darat, kampanye peningkatan kesadaran terhadap bahaya sampah plastik, pengurangan polusi sampah yang telah ada di laut, serta penguatan mekanisme kelembagaan dan pendanaan. Pengurangan penggunaan nondegradable plastik adalah salah satu prioritas utama.”

Hal ini juga diamini oleh Menteri LHK Siti Nurbaya yang menyatakan bahwa “Pengelolaan sampah di sumbernya menjadi sangat penting untuk mengurangi beban pengelolaan di hilir, melalui eforia revolusi mental pengelolaan sampah dengan merubah perilaku menggantungkan kepada petugas kebersihan dan pemulung. Kita juga mengambil tanggung jawab menjaga kebersihan mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah sendiri dengan menerapkan prinsip mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah (Prinsip 3R: reduce, reuse dan recycle) di tempat masing-masing”.

Dari jumlah total sampah di Indonesia, kurang lebih 14 persen merupakan sampah plastik, sedangkan dari total jumlah sampah di pantai diperkirakan jumlah sampah plastik sebesar 57%. Sampah plastik merupakan sumber pencemar laut di Indonesia, sebesar 75% berkategori sangat tercemar, 20% tercemar, dan 5% tercemar ringan (Worldwatch.org, 2013).

Dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan manusia maka akan semakin meningkat pula jumlah sampah yang dihasilkan dan apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan sampah yang memadai, hal ini akan berdampak buruk terhadap kondisi laut di Indonesia.

Saat ini terdapat 245 kolaborator yang berperan aktif dalam melakukan kampanye dan inisiatif terkait isu pengelolaan sampah. Selain itu, terdata sebanyak 4.280 bank sampah di Indonesia yang tersebar di 30 provinsi di Indonesia. “Peran serta masyarakat melalui komunitas lingkungan akan membuat efektif dalam menyerukan pengelolaan sampah dimulai dari hulu”, ucap Siti Nurbaya.

Upaya mengurangi kantong plastik dilakukan melalui kegiatan pembatasan, pendauran ulang dan pemanfaatan kembali kantong belanja plastik. “Perlu ada pembatasan, tidak gratis diberikan untuk dapat didorong penggunaan kantong belanja bukan plastik, yang dapat dipakai kembali atau menggunakan kantong belanja yang mudah diurai, misalnya plastik bahan nabati”, jelas Siti Nurbaya. (***)

Write a comment

Komentar