Garut, Tanaman Hutan Umbi-umbian yang Potensial Dikembangkan Secara Agroforestri

Posted By Rizda 17 February 2017 - 02:52 am

BP2TA (Ciamis, 16/02/2017)_Garut atau Marantha arundinacea merupakan tanaman hutan jenis umbi-umbian yang potensial dikembangkan dalam pola agroforestri. Ini disampaikan Asep Rohandi S.Hut., M.Si, peneliti Balai Litbang Teknologi Agroforesri (BP2TA) dalam Laporan Hasil Penelitiannya yang berjudul “Penerapan Model Agroforestry Tanaman Hutan Penghasil Sumber Pangan (Umbi-umbian) dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan Lokal di Jawa Barat dan KPHP Yogyakarta“.

Menurut Asep, tanaman garut potensial dikembangkan pada pola agroforestri karena mampu beradaptasi terhadap naungan seperti di bawah tegakan pohon bahkan di lahan marginal.

Sebagaimana diketahui, model pengembangan agroforestri mempunyai prospek yang cukup baik dalam kontribusinya terhadap produksi pangan dan peningkatan pendapatan petani. disamping menjaga keamanan dan kelestarian hutan bersama masyarakat atau petani sekitar hutan, agroforestri dapat mempermudah akses terhadap pangan.

“Tanaman garut dapat tumbuh di tempat yang ternaungi tanpa menurunkan kualitas maupun karakteristik umbi sehingga sangat potensial untuk dikembangkan dengan pola agroforestri,“ kata Asep.

Terkait adaptasi tanaman garut terhadap naungan, menurut Asep, unsur radiasi matahari yang penting bagi tanaman ialah intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran.

“Tanaman garut tidak harus mendapat cahaya matahari langsung karena tanaman tahan ternaungi 30−70%,” kata Asep menjelaskan hasil penelitian yang merupakan bagian dari Rencana penelitian dan Pengembangan Integratif “Sumber Pangan Alternatif“ ini.

Dengan demikian, tanaman garut dapat mengoptimalkan penggunaan lahan di bawah tegakan. Berbeda dengan penerapan agroforestri pada tanaman semusim seperti sayuran yang akan terbatas pertumbuhan dan produktivitasnya akibat naungan tanaman kayu.

Selain itu, dari sisi optimalisasi produksi, hasil panen umbi garut rata-rata sekitar 12,5 ton/ha, bahkan mencapai 31 ton/ha pada kondisi optimal.

Dari segi manfaat, garut merupakan tanaman multifungsi, antara lain sebagai penghasil pati dan bahan baku emping garut sebagai makanan sehat Garut, terutama yang khusus ditanam untuk diambil umbinya dengan pati berkualitas tinggi, berukuran halus dan berharga mahal. Selain untuk bahan pangan, ampas umbi garut juga dapat dijadikan sebagai pakan ternak.

Sayangnya, tingginya pemanfaatan yang berdampak terhadap peningkatan permintaan umbi garut tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas. Menurut Asep, salah satunya penyebabnya adalah sistem budidaya yang tidak tepat.

“Peningkatan produksi garut memerlukan teknik budidaya dan varietas yang sesuai dengan lingkungan tumbuh. Sulitnya mendapatkan varietas unggul dan bibit dalam jumlah relatif banyak untuk dibudidayakan secara komersial merupakan kendala yang dihadapi saat ini,“ jelas Asep.

“Oleh karena itu, perbaikan teknik budidaya seperti pembibitan, penanaman dan pemeliharaan sangat diperlukan agar tanaman dapat berproduksi tinggi,“ kata Asep menambahkan.

Dengan berbagai perbaikan, Asep menyatakan bahwa pengembangan tanaman garut dalam skala besar sebagai tanaman sela agroforestri di Indonesia sangat memungkinkan. Ini mengingat potensi lahan perkebunan dan hutan yang sangat luas serta belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Asep, dengan peningkatan produksi di bagian hulu sampai kegiatan pasca panen dan pengolahan hasil di bagian hilir akan menunjang keberhasilan pengembangan tanaman garut sebagai alternatif komoditas produk unggulan.

Asep menjelaskan, pengembangan produksi di hulu dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha pertanian serta mutu hasil panen melalui teknik budidaya yang baik dan penggunaan varietas yang sesuai. Sedangkan di hilir, dapat dilakukan dengan peningkatan nilai tambah dengan pengolahan hasil disertai perbaikan mutu produk agar memiliki daya saing di dalam negeri ataupun global.

Selain itu, menurut Asep, kajian tentang persepsi petani terhadap pemanfaatan dan pengembangan komoditas garut khususnya mulai dari aspek budidaya, pengolahan dan pemasaran produk sangat penting diketahui. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan persepsi masyarakat yang belum diketahui oleh pihak luar. Hasilnya diharapkan dapat dipergunakan sebagai rekomendasi dalam penentuan kebijakan pengembangan garut sebagai produk unggulan.

“Walaupun beberapa kajian menyimpulkan bahwa secara finansial, budidaya atau usaha tani tanaman garut dapat menguntungkan, namun perlu dikaji juga sejauh mana produktifitas lahan dalam pengembangan jenis ini dengan pola agroforestri. Hal tersebut ditujukan supaya teknik budidaya yang direkomendasikan merupakan sistem usaha tani yang menguntungkan dan mampu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,“ kata Asep.

Dengan diketahuinya teknik budidaya yang tepat dan informasi kepastian pasar maka petani akan terdorong menanam umbi garut sebagai bahan pangan alternatif.*

 

Informasi lebih lanjut:

Balai Litbang Teknologi Agroforestri

Website: http://www.balitek-agroforestry.org/ atau http://www.balitek-agroforestry.org/

Jl. Raya Ciamis - Banjar Km. 4,  Ds. Pamalayan, Ciamis, Jawa Barat  46201, Telp. 0265 - 771352, Fax.  0265 - 775866
Write a comment

Komentar