Pertumbuhan Sengon di Demplot Super Intensif Agroforestri Kalsel Dua Kali Lipat

Posted By Rizda 09 January 2017 - 04:17 am

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru,  /1/2017)_Hasil pengamatan penelitian Banjarbaru menunjukkan pertumbuhan tanaman sengon di demplot Super Intensif Agroforestri  (SIA) Kalimantan Selatan dua kali dari yang di plot Agroforestry Gunung Merati (AGM). Pertumbuhan sengon umur 6 bulan di demplot SIA sebanding dengan sengon 12 bulan di plot AGM.

“Tinggi sengon 6 bulan di demplot SIA 3,54 m dan diameter batang 3,28 cm, sedangkan sengon 12 bulan di plot AGM rata-rata tinggi 3,7 m dan diameter 3,45 cm,” ungkap Beny Rahmanto, peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan  (BP2LHK) Banjarbaru.

Diinformasikan, demplot SIA merupakan demplot agroforestry yang dibangun sebagai pengembangan hasil penelitian teknologi pengembangan gaharu di Kalimantan Selatan. 3 jenis tanaman yang ditanam yaitu sengon (Falcataria mollucana), gaharu (Aquilaria microcarpa) dan padi gogo sampoi. Demplot seluas 0,5 hektar ini berlokasi di blok B petak 12 Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rantau Kalimantan Selatan.

Menurut Beny, salah satu penyebab meningkatnya pertumbuhan sengon tersebut adalah menggunakan benih bersertifikat hasil pengujian mutu benih dari sumber benih Tegakan Benih Teridentifikasi. Sementara bibit tanaman gaharu yang digunakan berasal dari penangkar lokal.

Selain itu, perlakuan bibit sengon dan gaharu sebelum tanam meliputi pemupukan, penjarangan (spacing) dan aklimatisasi bibit juga penting. Pemupukan bibit selama di persemaian dilakukan sebanyak 1 kali dengan menggunakan pupuk organik mikroba RhizoPlex® sebanyak 5 g per tanaman. Kandungan hara dan bahan aktif dalam pupuk tersebut adalah 0,51% kultur bakteria, 5,20% mikoriza, 3% N, 3% P2O5, 3% K2O, 1% Ca, 0,6% Mg.

Dijelaskan, penanaman sengon dilakukan dengan jarak tanam 2 x 2 m dan gaharu dengan jarak tanam 3 x 3 m. Gaharu ditanam menggunakan naungan buatan yang terbuat dari paranet. Perlakuan yang diberikan saat penanaman adalah pemberian pupuk kandang sebanyak 2,5 kg per tanaman dan pemberian insektisida & nematisida (Furadan 3G) sebanyak 2 g per tanaman. Padi ditanam dengan cara ditugal dalam larikan di sekitar tanaman pokok (sengon dan gaharu).

Tadinya, kondisi awal lokasi pembangunan demplot adalah lahan yang didominasi alang-alang. Tekstur tanahnya lempung liat berpasir dengan pH 4,62 yang tergolong pada kelas masam. Sebagaimana diketahui, pada tanah masam, penyerapan unsur P terhambat karena difiksasi oleh kandungan Al yang tinggi bahkan di atas ambang batas.

Atas kondisi tersebut, untuk meningkatkan pH tanah peneliti melakukan penambahan kapur (CaCO3). Untuk meningkatkan kandungan N yang juga rendah, dilakukan pemberian pupuk kandang dari kotoran unggas (burung puyuh).

Selain itu, pupuk kandang tersebut juga digunakan untuk meningkatkan nilai kejenuhan basa (KB)nya yang sangat rendah, memperbaiki permeabilitas tanah, porositas, truktur, daya menahan air dan kation-kation tanah dan apabila diberi pupuk buatan dapat menghambat pencucian oleh air hujan.

Selain itu, nilai C/N rasio lokasi demplot 5,463 juga rendah. Untuk mengatasi itu, digunakan pupuk organik mikroba dengan kandungan 5,2% mikoriza dan 0,51% bakteri yang dapat meningkatkan mikroorganisme tanah. Penggunaan pupuk berbasis jamur juga cocok dilakukan mengingat jamur dapat berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah.***

Write a comment

Komentar