KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda - 12:00 am, 20. November 2013 - 3506 klik

Menhut Launching Benih Unggul Hasil Penelitian Badan Litbang Kehutanan yang Benihnya Wajib Diambil dari Sumber Benih Bersertifikat

Sosialisasi PerbenihanFORDA (Jakarta, 18/11/13)_Salah satu faktor yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan hutan tanaman untuk rehabilitasi hutan dan lahan adalah tersedianya benih berkualitas yang berasal dari sumber benih bersertifikat. Karena itulah, baru-baru ini Menteri Kehutanan melaunching 5 jenis benih unggul hasil penelitian Badan Litbang Kehutanan yang benihnya wajib diambil dari sumber benih bersertifikat, yaitu jati, mahoni, sengon, gmelina, dan jabon.

“Penentuan 5 jenis tanaman tersebut merupakan kesepakatan para pihak terkait perbenihan tanaman hutan pada beberapa lokakarya yang telah dilakukan, terakhir pada 12-14 Juni 2013 di Bali,” kata Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM, Menhut dalam sambutannya pada Sosialisasi SK. 707/Menhut-II/2013 tentang Penetapan 5 Jenis Tanaman Hutan yang Benihnya Wajib Diambil dari Sumber Benih Bersertifikat di Ruang Auditorium Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (15/11).

“Penetapan 5 jenis tanaman hutan yang wajib bersertifikat tersebut akan dijadikan acuan dalam setiap penggunaan benih pada pengadaan benih, pengedaran benih dan atau penanaman untuk kepentingan publik pada kawasan hutan dan atau tanah negara,” jelas Zulkifli.

Lebih lanjut Zulkifli menyampaikan beberapa pertimbangan dalam menetapkan keputusan tersebut adalah karena jumlah sumber benih bersertifikat untuk jenis tersebut dinilai telah mencukupi dan benihnya sudah tersedia di pasaran. Beberapa persyaratan agar keputusan ini dapat dilakukan secara efektif adalah terselenggaranya sertifikasi sumber benih, mutu benih dan mutu bibit oleh Balai Perbenihan Tanaman Hutan atau UPTD di bidang perbenihan tanaman hutan dan terselenggaranya tata usaha benih oleh pengada, pengedar benih/bibit dan pengawasan oleh petugas dinas kehutanan kabupaten/kota.


Posted by Rizda - 12:00 am, 19. November 2013 - 3470 klik

Reklamasi Hutan Bekas Tambang Batubara

Swara Samboja: Reklamasi Hutan Bekas Tambang BatubaraBalitek KSDA (Samboja, 19/11/13)_Apa yang kita dengar sebagai “bencana ekologis” mudah-mudahan tidak terjadi. Memang, perubahan paras alam Indonesia, masih memiriskan. Senandung “ijo royo royo” untuk menggambarkan alam yang kita miliki, tidak lagi pas dinisbatkan di beberapa wilayah. Kalimantan yang dulu hampir seluruhnya ditutupi oleh belantara yang sangat lebat, dengan aliran sungai-sungai besar yang jernih, kini di banyak tempat justru telah menjadi bopeng oleh aktivitas tambang terutama batubara. Memang, pembangunan yang berusaha memaksimalkan semua potensi ekonomi yang kita miliki adalah sah-sah saja, namun hendaknya dibarengi dengan tanggungjawab lingkungan yang kuat.

Sejatinya dalam dokumen perencanaan pertambangan, aktivitas pertambangan tidak boleh lepas dengan pemulihan pasca tambang termasuk rehabilitasinya. Namun realitas di lapangan justru memperlihatkan banyak danau-danau bekas tambang menganga, menjadi monumen ketidakbertanggungjawaban manusia terhadap kebaikan alam. Kerusakan ekologis yang masif pada akhirnya justru akan mengantarkan pada dampak sosial yang mendalam.  Paradoks kehidupan justru sering tergelar di sekitar eksploitasi  sumberdaya alam yang seharusnya memakmurkan, yakni kerusakan lingkungan yang berjalin dengan kemiskinan masyarakat.    

“Rehabilitasi tambang itu mahal”, kata pelaku tambang. Namun demikian mahalnya rehab tentu tidak boleh menjadi alasan pengingkaran tanggungjawab oleh sebagian perusahaan tambang. Terdorong oleh rasa tanggungjawab institusional itulah, maka peneliti BALITEK KSDA berpikir dan bekerja keras mencari teknologi rehabilitasi tambang yang mudah dan murah. 

“Kita bersinergi dengan alam” demikian  frase kunci teknologi yang telah diujicobakan BALITEK KSDA di lahan bekas tambang batubara di areal PT Singlurus Pratama Kalimantan Timur. Mulanya peneliti mengamati secara metodologis proses regenerasi alami hutan, dari kehadiran jenis pionir hingga jenisi-jenis yang hadir pada ekosistem hutan klimaks. Urutan itu yang jadi pijakan rekayasa penerapan di lapangan, termasuk cara mengundang satwa liar lewat teknik silvikultural. Hasilnya ternyata sangat menggembirakan, dan itulah yang akan kita bagikan dalam fokus utama Swara Samboja edisi kali ini.


Posted by Rizda - 12:00 am, 23. October 2013 - 2224 klik

One Map Policy: Momen Kebangkitan Penelitian Kehutanan Berbasis Informasi Geospasial

BIGFORDA (Bogor, 23/10/2013)_Badan Informasi Geospasial (BIG) meluncurkan referensi tunggal Informasi Geospasial (IG) nasional yang disebut Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI 2013), Kamis (17/10) di Hotel Shangri-La Jakarta. SRGI 2013 merupakan suatu sistem koordinat nasional yang konsisten dan kompatibel dengan sistem koordinat global.

SRGI 2013 merupakan tindak lanjut kebijakan satu peta (one map policy) yang dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Sidang Kabinet Paripurna pada tanggal 23 Desember 2010. Kebijakan tersebut menyatakan bahwa hanya ada satu peta yang menjadi rujukan nasional.

“Kebijakan ini sangat ditunggu oleh para praktisi yang bergerak di bidang spasial,” kata Ir. Tri Joko  Mulyono, MM., Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Selasa (22/10) saat dikonfirmasi melalui e-mail. “Permasalahan keberagaman ketersediaan Informasi Geospasial Dasar (IGD) sebagai referensi telah terpecahkan, sehingga perbedaan pemetaan oleh para pihak selama ini dapat diminimasi. Bagi Badan Litbang, IGD akan membantu kegiatan penelitian yang berbasis spasial,” lanjut Tri Joko.

Kegiatan penelitian kehutanan tidak terlepas dari kebutuhan IG. Ketersediaan data IG memudahkan peneliti untuk menampilkan secara visual kondisi di lapangan kepada publik. Selama ini, Badan Litbang Kehutanan telah menghasilkan berbagai Informasi Geospasial Tematik (IGT) (dahulu dikenal istilah peta tematik) hasil litbang kehutanan, antara lain kesesuian lahan, sebaran sumber benih, degradasi DAS, keanekaragaman hayati dan lain-lain. Dalam pembuatan IGT tersebut, diperlukan peta dasar (sekarang dikenal IGD) yang detil, mutakhir dan akurat. Kebijakan ini diharapkan ini bisa menjadi momen kebangkitan penelitian kehutanan berbasis IG.


Posted by Editor - 12:00 am, 27. August 2013 - 7844 klik

500 Peneliti Kehutanan Indonesia Mengkomunikasikan Hasil Riset di The 2nd INAFOR 2013

inaforFORDA (Jakarta, 27/08)_Sekitar 500 peneliti kehutanan Indonesia (Indonesia Forestry Reseacher/INAFOR) dan beberapa peneliti negara sahabat bertemu dan mengkomunikasikan hasil riset kehutanan dalam Konferensi Internasional INAFOR ke-2 tahun 2013 (The 2nd INAFOR 2013), pada Selasa (27/8) di Auditorium Manggala Wanabakti, Jakarta.

“Bagi para peneliti Kehutanan dari instansi lain yang mengikuti Konferensi Internasional INAFOR ke-2, saya berharap bahwa pertemuan puncak para peneliti kehutanan se-Indonesia dengan melibatkan pembicara asing ini dapat menjadi media tukar informasi hasil IPTEK,” kata Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM., Menteri Kehutanan dalam sambutannya pada konferensi tersebut di Auditorium Manggala Wanabakti Jakarta, Selasa (27/8).

“Melalui pertemuan semacam ini kita juga bisa mengetahui sejauh mana hasil karya kita dibandingkan dengan apa yang terjadi di negara-negara sahabat.  Hal ini diperlukan karena persoalan kehutanan, dibanyak hal, sangat terkait dengan persoalan global dan  internasional”.

Konferensi ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementeria Kehutanan, Dr. Hadi Daryanto, mewakili Menteri Kehutanan. Pembukaan The 2nd INAFOR 2013 ini dilaksanakan terintegrasi dengan puncak acara peringatan 100 tahun Kelitbangan Kehutanan Indonesia.


Posted by Editor - 12:00 am, 26. August 2013 - 2387 klik

FORDA Press: Merangkai Kata Mencerdaskan Bangsa

pressFORDA (Jakarta, 26/08/13)_Menyebarkan informasi IPTEK kehutanan dalam bentuk penerbitan adalah salah satu strategi Badan Litbang Kehutanan untuk meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan IPTEK Kehutanan. Mengambil momen Bedah Buku Iptek Litbang Kehutanan pada Senin (26/8) di Manggala Wanabakti, Jakarta, diluncurkan Unit Usaha Percetakan dan Penerbitan Koperasi Pegawai Negeri Badan Litbang Kehutanan “Mitra Karsa”,  bernama FORDA Press.

”Merangkai kata mencerdaskan bangsa”, adalah motto yang diusung oleh FORDA Press. Pembentukan FORDA Press dimaksudkan untuk mendukung tanggung jawab Badan Litbang Kehutanan dan menjadi mitra dalam menyebarkan informasi IPTEK dalam bentuk penerbitan.

“Penerbit dan percetakan ini diharapkan mampu memberikan layanan kepada para peneliti untuk membukukan dan menerbitkan hasil penelitiannya,”kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, dalam sambutan pembukaan Bedah Buku Iptek Litbang Kehutanan, pada Senin (26/8) di di Manggala Wanabakti, Jakarta. 

“Meskipun Litbang sering dikritik bahwa penelitiannya hanya akan menghasilkan buku saja, tetapi tidak perlu berkecil hati karena kita tahu bahwa buku adalah media komunikasi yang penting untuk menyampaikan berbagai informasi termasuk hasil litbang,“ tegas Iman.  Dengan demikian dari sebuah buku akan disampaikan berbagai hal yang mampu meningkatkan wawasan untuk mencerdaskan bangsa.


Posted by Editor - 12:00 am, 05. August 2013 - 1613 klik

Bilateral Meeting Ditjen BPDASPS dengan Badan Litbang Kehutanan: Mengkomunikasikan Riset untuk Menjawab Kebutuhan Lapangan

bilateral meetingFORDA (Jakarta, 02/08/13)_Dalam rangka meningkatkan peran dan fungsi  Badan Litbang Kehutanan sebagai penyedia IPTEK Kehutanan, Badan Litbang Kehutanan melaksanakan  “Bilateral Meeting” dengan Ditjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDASPS) di Jakarta pada Kamis (1/8). 

Pertemuan diawali dengan laporan Sekretaris Badan Litbang Kehutanan yang  menyampaikan bahwa bilateral meeting merupakan tindak lanjut coffee morning tingkat pimpinan pada April 2013. Pertemuan ini juga dilatarbelakangi dengan tupoksi Litbang sebagai penyedia IPTEK bagi pembangunan kehutanan yang ingin mengkomunikasi hasil-hasil Litbang bidang DAS dan Perhutanan Sosial.

“Pertemuan ini penting sekali bagi Ditjen BPDASPS sebagai Unit Eselon I teknis yang  membutuhkan rekomendasi Litbang dalam pelaksanaan tugas dan fungsi,” kata Dr. Hilman Nugroho, Dirjen BPDASPS dalam sambutannya. Melalui pertemuan ini Hilman menyampaikan target Ditjen BPDASPS dan kebijakan  2015-2019 serta permasalahan yang dihadapi oleh Ditjen BPDASPS yang memerlukan rekomendasi riset baik aspek kebijakan maupun teknis.

Menanggapi apa yang disampaikan oleh Dirjen BPDASPS, Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan menyampaikan bahwa pertemuan awal ini penting untuk menjalin komunikasi yang produktif antara kedua belah pihak dalam mendukung tupoksi masing-masing. Iman menyampaikan bahwa bila hasil litbang sudah diimplementasikan merupakan outcome tertinggi bagi litbang kehutanan.


Posted by Editor - 12:00 am, 27. July 2013 - 1851 klik

Pengarusutamaan Inovasi Iptek Kehutanan untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Pembangunan Kehutanan Berkelanjutan

rakorFORDA (Bandung, 24/07/13)_”Pengarusutamaan Inovasi Iptek Kehutanan untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Pembangunan Kehutanan Berkelanjutan” adalah tema yang diangkat dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Badan Litbang Kehutanan Tahun 2013.

Harapannya melalui upaya mendorong inovasi iptek bidang kehutanan ke arah yang lebih tepat akan dapat mendukung pembangunan kehutanan lestari dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. “Sehingga tidaklah terlalu optimis Badan Litbang Kehutanan kita tempatkan sebagai rel, ibaratnya dari sebuah kereta atau lokomotif pembangunan kehutanan melalui pengarusutamaan iptek di Kementerian Kehutanan,” kata Ir. Tri Joko Mulyono, MM., Sekretaris Badan Litbang Kehutanan dalam laporannya di acara pembukaan rakornis di Bandung, Selasa (23/7).

Pengarusutamaan inovasi iptek merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi suatu institusi penelitian untuk memainkan peran dan fungsinya secara maksimal dalam mendukung kebijakan dan pembangunan. Iptek dan keahlian menjadi salah satu sumber competitive advantage yang sangat penting bagi suatu organisasi bahkan suatu bangsa, baik saat ini dan dimasa depan.

“Sebagai bangsa yang kaya, kita tidak boleh terlena dengan slogan bahwa Indonesia kaya raya dengan sumberdaya alamnya (comparative advantage) yang dapat mencukupi segala kebutuhannya untuk mencapai masyarakat sejahtera. Melainkan juga harus meningkatkan keunggulan kompetitifnya yaitu penguasaan iptek dan SDM-nya untuk menghadapi tantangan pembangunan kedepan,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, dalam arahan pembukaan rakornis (23/7).


Posted by Editor - 12:00 am, 04. July 2013 - 2114 klik

Mangrove Bukan Hutan Biasa

swara2-1Mangrove sang pengalir pesan

Ujung daun berselimut kristal berkilatan, menjurai di genangan payau

Kembang bersemu merah di sela biji menangkup angin, dalam daur yang menakjubkan

Mengayun  irama genangan ombak lirih, dalam juntaian akar-akar kehidupan

Kini hidupmu menghitung sisa, dalam  rancak julur-julur manusia...

Siapa sadari dalam rindu sepi itu....

Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga…

(”Menggiring Sunyi”, Denpasar Agustus 2008)

 

Balitek KSDA (04/07/13)_Tanaman mangrove adalah gambaran perjuangan hidup tumbuhan untuk bertahan dan berkembang di lingkungan yang keras, ekstrem dan tidak biasa. Misteri kemampuan ekosistem mangrove mengisi pertemuan dua wilayah utama kehidupan di bumi, yakni wilayah daratan (terrestrial) dan wilayah lautan (marine) selalu saja menggoda rasa penasaran terutama para peneliti. Air bergaram, lumpur yang anoksik dan anaerobik adalah lingkungan pengap kehidupannya. Ini pulalah yang menyebabkan mangrove mengembangkan dirinya baik secara fisiologis, anatomis maupun cara berkembangbiaknya untuk melewati hari-harinya di lingkungan yang khas, unik dan berat. Insting perjuangan hidup yang diberikan Tuhan pada setiap  makhluknya.


Posted by Editor - 12:00 am, 10. June 2013 - 2570 klik

Deklarasi Asosiasi Anatomi Kayu Indonesia: Babak Baru Kebangkitan Ilmu Anatomi Kayu di Indonesia

anatomiPustekolah (Bogor, 04/06/13)_Para peneliti dan ahli anatomi kayu dari berbagai instutisi di Indonesia mendeklarasikan pembentukan Asosiasi Anatomi Kayu Indonesia pada Senin (3/6) di Bogor. Deklarasi ini ditandatangani oleh perwakilan dari Badan Litbang Kehutanan, LIPI dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia yakni USU, IPB, ITB, UNWIM, UGM, UNPAD, UNMUL, UNHAS, UNHALU dan INTAN Yogyakarta. Dengan demikian, deklarasi ini merupakan babak baru kebangkitan ilmu anatomi kayu di Indonesia.

"Asosiasi ini merupakan wadah komunikasi dan kerjasama dalam bidang anatomi kayu," kata Dr. Putera Parthama, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah), pada acara Diskusi Litbang Anatomi Kayu Indonesia di IPB Convention Center Botani Square, Senin (3/6). Lebih lanjut Putera menjelaskan asosiasi ini sangat penting sebagai wadah koordinasi program dan pembinaan sumber daya profesional dalam litbang anatomi kayu, yakni sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan pengenalan jenis kayu-kayu Indonesia secara tuntas.

Acara Diskusi Litbang Anatomi Kayu Indonesia tersebut bertujuan untuk meninjau hasil capaian penelitian selama ini dan merumuskan arah litbang anatomi kayu ke depan. Diskusi yang dihadiri oleh sekitar 30 ahli anatomi kayu di Indonesia ini juga dijadikan momen deklarasi asosiasi anatomiwan kayu Indonesia.

"Saya sangat senang dan bangga adanya dekalarasi ini, sehingga ada wadah komunikasi antara kami," kata Ir. Y.I. Mandang, ahli anatomi kayu dari Badan Litbang Kehutanan. Melalui wadah ini diharapkan hasil-hasil capaian penelitian anatomi dapat ditinjau bersama secara kontinyu untuk mempercepat penyelesaian penelitian semua jenis kayu Indonesia sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat.


Posted by Editor - 12:00 am, 21. May 2013 - 2959 klik

Gelar Teknologi Kehutanan 2013: Menggandeng Penyuluh untuk Komunikasikan IPTEK Kehutanan Kepada Pengguna

geltek2013FORDA (Kaliurang, 16/05/13)_Gelar Teknologi Kehutanan 2013 dilaksanakan terintegrasi dengan Jambore Nasional Penyuluh Kehutanan. Penyuluh sebagai salah satu ujung tombak pembangunan kehutanan, diharapkan dapat menjadi penyambung informasi iptek kehutanan yang efektif kepada para pengguna di lapangan.

Gelar teknologi merupakan bagian diseminasi hasil litbang kehutanan yang secara rutin diselenggarakan Badan Litbang Kehutanan. Tujuannya adalah untuk menyampaikan hasil penelitian yang sudah layak dikembangkan dan diimplementasikan kepada masyarakat pengguna. Khusus pada tahun 2013, kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari peringatan 100 tahun kelitbangan kehutanan Indonesia dan diintegrasikan dengan Jambore Nasional Penyuluh Kehutanan 2013.

“Gelar teknologi  2013 ini diintegrasikan dan disinergikan dengan jambore penyuluhan, sehingga hasil penelitian kehutanan dapat disebarkan melalui sistem komunikasi yang efektif,  melalui ujung tombak komunikasi yakni penyuluh kehutanan,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, saat memberikan sambutan pembukaan Gelar Teknologi Kehutanan 2013, di Kaliurang, Yogyakarta, Rabu (15/5). Sinergitas ini dimaksudkan untuk mendukung terwujudnya kesinambungan diseminasi hasil litbang kepada masyarakat pengguna melalui kegiatan penyuluhan.

“Kami minta kepada penyuluh agar menyebarluaskan hasil penelitian ini kepada masyarakat, termasuk juga kepada widyaiswara,  sehingga apa yang telah dihasilkan bisa dipergunakan dan bermanfaat,” tegas Iman.