KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by priyo - 11:00 pm, 10. August 2014 - 3935 klik

Mengerem Deforestasi Melalui Akasia Unggul

FORDA (Bogor, 11/08/2014)_”Acacia mangium” merupakan salah satu jenis pohon andalan dalam pembangunan Hutan Tanaman Industri di Indonesia. Saat ini telah dibangun lebih dari 1 juta hektar HTI ”Acacia mangium” yang banyak tersebar di Sumatera dan Kalimantan. ”A.mangium” telah mendorong jenis tanaman ini menjadi salah satu andalan dalam pengembangan hutan rakyat.

Hal itu sejalan dengan perkembangan teknologi pengolahan kayu. Diversifikasi produk industri kehutanan berbahan baku kayu Acacia mangium itu bisa untuk suplai bahan baku industri kayu pertukangan. Peningkatan kebutuhan bahan baku berbasis kayu A.mangium yang cukup tinggi, baik untuk industri pulp, kertas, maupun pertukangan, telah mendorong perlunya upaya peningkatan produktivitas tegakan.

Dalam hal ini pemanfaatan benih unggul dipadukan dengan penerapan teknik silvikultur. Selain itu, pola tanam yang baik akan menjadi faktor penting dalam peningkatan produktivitas tegakan. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), Yogyakarta, sejak 1994 secara intensif memiliki kegiatan pemuliaan tanaman . mangium dan saat ini sudah memasuki pemuliaan generasi ketiga (F-3).


Posted by priyo - 12:00 am, 05. August 2014 - 9353 klik

Benih Kayu Putih Unggul, Hasil Litbang untuk Kemajuan Industri Minyak Kayu Putih

FORDA (Bogor, 05/07/2014)_Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2PBPTH), salah satu unit kerja Badan Litbang kehutanan telah berhasil menciptakan benih kayu putih unggul (Melaleuca Cajuputi subsp cajuputi) yang diberi nama KPP-01. Hal ini disampaikan oleh Dr. Anto Rimbawanto, Peneliti Bioteknologi pada B2PBPTH pada acara Gelar Iptek (Geltek) hasil litbang kehutanan mendukung KPH pada bulan Mei tahun 2014 di IPB Convention Center, Bogor.

Disisi lain, dalam bukunya yang berjudul Potensi Pengembangan Industri Minyak Kayu Putih, disebutkan bahwa saat ini B2PBPTH telah memiliki 4 kebun benih kayu yang telah menghasilkan benih unggul. Keempat kebun benih tersebut terletak di Paliyan, Ponorogo, Cepu dan Gundih.

Dalam kajianya, Anto menyatakan bahwa kebun benih tersebut berpotensi untuk menghasilkan tanaman kayu putih dengan kadar sineol sebesar 65%-73% dan rendemen minyak sebesar 2,05%-4,7%. Umumnya, tanaman kayu putih mempunyai kandungan sineol sebesar 50% - 60% dan rendemennya sekitar 0,8%-1,2%. Selain itu, kebun benih tersebbut mampu memproduksi benih 3 kg/tahun/ha. Dengan viabilitas sebesar 80%, setiap gram benih rata-rata mampu menghasilkan 6000 – 8000 bibit kayu putih.


Posted by Rizda - 12:00 am, 18. July 2014 - 1666 klik

Aplikasi Database Pemantauan Karbon Hutan: Langkah Litbang Dukung Pembangunan Reference Emission Levels Nasional

Aplikasi Database Pemantauan Karbon HutanPuspijak (Bogor, 17/7/2014)_Badan Litbang Kehutanan melalui Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak) didukung oleh Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) telah membangun Database Pemantauan Karbon Hutan sebagai langkah mendukung pembangunan Reference Emission Levels (REL) nasional.  

Pembangunan database yang mendukung sistem pemantauan karbon hutan tersebut sesuai dengan prinsip Measurement, Reporting and Verification (MRV). Database yang mengorganisir data monitoring cadangan karbon hutan di berbagai tipe hutan tersebut berbasis internet, dapat diupdate secara berkala dan dapat diakses publik pada http://www.karbon.puspijak.org/.

Database telah mengakomodir 181 permanent sample plots (PSP) yang mengukur 5 carbon pool untuk monitoring karbon hutan di 10 provinsi. Pembangunan PSP dalam kurun waktu 2012-2014 tersebut merupakan kerjasama PUSPIJAK-FCPF World Bank dengan Dinas Kehutanan, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

Aplikasi database karbon ini berfungsi untuk sistem monitoring karbon hutan, dan untuk memvalidasi dan memverifikasi data faktor emisi/faktor removal dari 10 provinsi. Pembangunan database tersebut diharapkan berguna dalam penghitungan emisi suatu daerah.

Terkait itu, peningkatan kemampuan daerah dalam mengoperasikan aplikasi database karbon hutan yang telah dibangun tersebut mutlak diperlukan. Oleh karena itu, pelatihan sebagai sarana peningkatan kemampuan operator atau pengelola di daerah telah dilaksanakan secara berkala. Tahun ini adalah tahun kedua Puspijak bersama FCPF menyelenggarakan pelatihan terkait aplikasi database pemantauan karbon hutan.


Posted by Rizda - 12:00 am, 10. July 2014 - 2239 klik

Progress dan Kendala Pengelolaan HKI Badan Litbang Kehutanan

Dialog 2 Mingguan Kementerian KehutananFORDA (Jakarta, 07/07/2014)_Progress dan Kendala Pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Badan Litbang Kehutanan merupakan topik yang diangkat dalam Dialog 2 Mingguan Kementerian Kehutanan bersama media massa nasional yang diselenggarakan Pushumas Kemenhut di Ruang Rapat Utama, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (07/07).

Kepala Badan Litbang Kehutanan, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc selaku pembicara pada acara tersebut menyampaikan HKI Badan Litbang Kehutanan sampai saat ini terdiri atas 3 jenis, yaitu paten, hak cipta dan perlindungan varietas tanaman (PVT). Paten yang telah diperoleh ada 6 dan 18 sedang dalam proses pengajuan paten yang terdiri dari hasil penelitian terkait produk, proses, formula dan hasil rekayasa.

Keenam paten tersebut, yakni alat ukur diameter ‘Wesyan’; pembuatan biodiesel dari minyak jarak pagar dengan proses esterifikasi-transesterifikasi; alat pendingin asap dan proses untuk memproduksi cuka kayu dari pembuatan arang; perekat tanin untuk produk perkayuan; rekayasa produksi gaharu; dan pemanfaatan batang sawit untuk kayu solid (paten expired).


Posted by Rizda - 12:00 am, 08. July 2014 - 2044 klik

Serius, Kunci Kesuksesan Keberhasilan Pembangunan Iptek Kehutanan

Kunjungan Kepala Badan LItbang Kehutanan ke Palembang

BPK Palembang (Palembang, 07/07/2014)_Menurut Kepala Badan Litbang Kehutanan, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc, serius merupakan kunci Kesuksesan Keberhasilan Pembangunan Iptek Kehutanan.

“Tidak ada yang tidak bisa dikerjakan kalau kita itu serius,” kata Prof. San setelah melihat keberhasilan Iptek kehutanan yang diterapkan pada kebun konservasi plasma nutfah ramin, jelutung dan tanaman kehutanan di Desa Kedaton, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, Kamis (03/07).

Melihat kebun percobaan seluas 20 hektar yang dibangun pada tahun 2010 yang merupakan output kegiatan kerjasama Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang dengan Dinas Kehutanan Kabupaten OKI melalui project ITTO RED-SPD 009/09 Rev.2 (F) ini Prof. San Afri menyampaikan apresiasinya terhadap Litbang Kehutanan.

Ternyata, kata Prof. San, pengelolaan lahan gambut di Indonesia tidak terlalu mencemaskan. Ketika sebagian kalangan beranggapan bahwa lahan gambut yang sudah dry out tidak bisa dimanfaatkan lagi dan menjadi barang mati, justru Litbang Kehutanan sudah memiliki Iptek untuk merestorasi dan merehabilitasi lahan gambut yang rusak.


Posted by Rizda - 12:00 am, 04. July 2014 - 1777 klik

Kunjungan DPRD Kabupaten Boalemo untuk Pencerahan Kegiatan di KPHP Model Unit V Boalemo

FORDA (Bogor, 04/07/2014)_Sejak zaman dahulu, hasil hutan menjadi sandaran hidup bagi masyarakat Indonesia. Umumnya, hasil hutan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK).

“Dahulu, HHBK sering diistilahkan dengan hasil hutan bikin kacau. Tetapi sekarang, HHBK itu hasil hutan bikin kaya,” kata Dr. Tati Rostiwati, M.Si, Peneliti Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan (Pusprohut) di hadapan anggota DPRD Kab. Boalemo, Propinsi Gorontalo yang mengunjungi Kampus Badan Litbang Kehutanan, Bogor, Rabu (03/07).

Menurut Tati, HHBK merupakan komponen penting dan erat sekali dengan usaha masyarakat. Masyarakat sekitar hutan boleh memanfaatkan sumber daya hutan, tetapi tetap harus memperhatikan kelestarian hutan.

“Ke depan, kita akan mengangkat HHBK membuat masyarakat untuk mendapatkan tambahan pendapatan,” kata Tati menyambut baik niat Pemerintah Daerah (Pemda) Kab. Boalemo dalam mengembangkan potensi HHBK di daerahnya.

Untuk mencapai hal tersebut, menurut Tati, masing-masing daerah harus menentukan skala prioritas jenis tanaman yang dipilih sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. “Perlu adanya introduksi jenis HHBK yang mempunyai nilai ekonomis tinggi,” kata Tati.


Posted by priyo - 12:00 am, 01. July 2014 - 1622 klik

Pustekolah Capai Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan

Pustekolah (Bogor, 01/07/2014)_Setelah melalui serangkaian proses sejak tahun 2012 untuk penyiapan dokumen, assessment, pembahasan panitia teknis dan rapat pleno KNAPPP (Komisi Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan), Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) dinyatakan berhak mendapatkan akreditasi bergengsi bagi lembaga litbang yakni Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (APPP). 

Akreditasi Pustekolah tersebut ada di nomor urut pranata litbang PLM 041-INA, ditetapkan pada 2 Juni 2014 di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) sesuai Keputusan Ketua KNAPPP Nomor: 02/Kp/KA-KNAPPP/VI/2014 dan telah diserahkan di kantor Kemenristek Jakarta, Senin (30/06).

Secara resmi, sertifikat akan diserahkan secara simbolis oleh Presiden RI pada acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) bulan Agustus 2014 mendatang. Akreditasi diberikan oleh KNAPPP, yaitu Tim Kerja Kementerian Negara Riset dan Teknologi yang diketuai secara ex-officio oleh Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi.


Posted by Rizda - 12:00 am, 25. June 2014 - 1969 klik

Paket Teknologi KOFFCO, Alternatif Pengadaan Bibit untuk Jenis-Jenis Dipterokarpa

Kunjungan Kabadan ke Gunung DahuFORDA (Bogor, 25/06/2014)_“Shorea ‘boleh’ (mungkin akan) hilang di luar Jawa, tetapi bisa tumbuh baik di Jawa,” kata Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc, Kepala Badan Litbang Kehutanan saat mengunjungi Hutan Penelitian (HP) Gunung Dahu yang ditanami Shorea di Leuwiliang Bogor, Selasa (24/06). Hal ini disampaikannya mengingat selama ini Shorea dieksploitasi dari hutan alam, baik di Sumatera, Sulawesi, Maluku maupun Kalimantan.

Shorea spp. yang umum dikenal masyarakat dengan sebutan kayu meranti mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Shorea spp. merupakan salah satu marga penghasil kayu-kayu Dipterokarpa. Jenis kayu ini umumnya dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi ringan sampai berat dan bahan baku industri perkayuan yang sangat penting di Indonesia. Permintaaan tiap tahun selalu naik dengan rata-rata 14%/tahun sehingga mengancam kelestarian Shorea di alam.

Menjawab persoalan tersebut, Badan Litbang Kehutanan melalui Pusat Penelitian Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser) bekerjasama dengan Komatsu Jepang telah melakukan uji penanaman stek pucuk meranti. Berlokasi di HP Gunung Dahu seluas 250 Ha, kerjasama yang bertujuan mencari alternatif pengadaan bibit untuk jenis-jenis Dipterokarpa ini telah menghasilkan paket teknologi KOFFCO. Teknologi KOFFCO adalah teknik vegetatif untuk memperbanyak jenis pohon hutan dengan teknik stek pucuk secara massal.


Posted by priyo - 12:00 am, 21. June 2014 - 1212 klik

Pentingnya Metodologi Riset yang Tepat dalam Pendampingan KPH

FORDA (Yogyakarta, 20/06/2014)_Badan Litbang kehutanan telah menghasilkan berbagai paket Iptek. Setiap Iptek mempunyai metodologi yang berbeda. Terkait itu, metodologi riset yang tepat dalam proses pendampingan KPH maupun pengembangan merupakan hal yang penting.

“Dewan Riset bisa mendiskusikan metode-metode seperti ini sehingga dari aspek tugas, peneliti dapat diterima sebagai kajian atau penelitian,” kata Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc, Kepala Badan Litbang saat menutup Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Badan Litbang Kehutanan di Ballroom Hotel Royal Ambarrukmo, Jumat (20/06).

Kepala Badan menyampaikan bahwa saat ini, mayoritas penelitian Badan Litbang Kehutanan fokus ke KPH. Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan (Ditjen BUK) rencananya akan menggelontarkan dana sebesar 7-8 milyar per KPH. Terkait itu, Badan Litbang Kehutanan harus mampu mengelola dan mempertanggungjawabkan dana tersebut. “Sebenarnya topik tidak masalah, asalkan merge (menyatu) dengan bergeraknya 7-8 milyar itu,” kata Kabadan.

Menurut Kabadan, litbang dalam proses pendampingan KPH membutuhkan metode sendiri, sehingga kegiatan penelitian bisa bersanding dengan implementasi yang sudah dikerjakan. Metode ini disebut juga metode kaji tindak. Artinya kita melakukan pengkajian bersamaan dengan implementasinya. “Ini dipikirkan juga agar proses perdampingan masuk dan implementasinya juga jalan,” kata Kabadan.


Posted by Rizda - 12:00 am, 20. June 2014 - 1457 klik

Penerapan Penelitian Integratif pada KPH Menuju Pembangunan Kehutanan yang Berbasis IPTEK

Arahan Kepala Badan-Rakornis 2014FORDA (Yogyakarta, 19/06/2014)_Penerapan Penelitian Integratif pada KPH Menuju Pembangunan Kehutanan yang Berbasis IPTEK merupakan tema yang diangkat pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Badan Litbang Kehutanan yang diselenggarakan di Yogyakarta, 18 – 21 Juni 2014.  

“Tema ini saya pandang sangat tepat karena penerapan inovasi dan iptek memang seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari visi suatu lembaga penelitian untuk memainkan perannya,” kata Kepala Badan Litbang Kehutanan, Prof. Dr. San Afri Awang dalam arahannya pada Rakornis Badan Litbang Kehutanan di Yogyakarta, Kamis (19/06).

Hal ini mengingat prioritas sektor kehutanan ke depan yang akan dituangkan dalam Renstra Kementerian Kehutanan 2015-2019 adalah pengelolaan kehutanan berkelanjutan berbasis tapak/KPH. Sebagai institusi pendukung di Kemenhut, Badan litbang diharapkan mampu mendukung operasionalisasi 120 KPH model yang tersebar di 4 region di Indonesia berbasis iptek.