KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Editor - 06:51 am, 13. February 2013 - 2063 klik

Meningkatkan Nilai Tambah Hasil Hutan dengan Teknologi Pengolahan

forproPustekolah (Bogor, 08/02/13)_Teknologi pengolahan yang tepat akan meningkatkan nilai hasil hutan Indonesia, baik kayu, maupun non kayu. Input teknologi bisa diterapkan dari mulai tahap pemanenan, penyimpanan, dan tentu saja pengolahannya menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi sesuai dengan karakteristik hasil hutan tersebut.

Indonesia memiliki beragam Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang berpotensi memberikan sumbangsih bagi perekonomian masyarakat. Selama ini, banyak komoditas-komoditas HHBK diolah secara tradisional sehingga nilainya masih sangat rendah. Dengan input teknologi hasil penelitian yang tepat, dapat dilakukan berbagai analisa untuk mengidentifikasi sifat dan kandungan dasar, menentukan berbagai alternatif pemanfaatan, serta merekayasa teknologi pengolahan yang mampu meningkatkan nilai tambah berbagai komoditas HHBK.

Tengkawang misalnya, penelitian menunjukkan bahwa buah ini menghasilkan lemak yang memiliki sifat menyerupai lemak coklat, namun lebih ekonomis sehingga dapat diolah untuk berbagai bahan industri kosmetik, obat-obatan dan makanan.

Tekonologi peningkatan nilai hasil hutan inilah yang diangkat dalam buletin ilmiah FORPRO volume 1 nomor 2 yang diterbitkan oleh Puslitbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah). 

FORPRO edisi ini mengetengahkan berbagai artikel yang terkait dengan peningkatan nilai tambah HHBK seperti: Pemanfaatan buah tengkawang sebagai bahan industri lanjutan,  Kualitas minyak kayu putih dari Wasur Papua, Potensi beberapa hasil hutan bukan kayu sebagai bahan baku Biodiesel, dan  Energi organik dari batang sawit.


Posted by Editor - 12:00 am, 04. February 2013 - 2594 klik

Berdasarkan Riset, Pegunungan Mekongga Layak sebagai Kawasan Konservasi

mekonggaPuskonser (Bogor, 31/01/13)_International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) Indonesia menilai hutan lindung Pegunungan Mekongga di Sulawesi Tenggara secara ilmiah memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai kawasan hutan konservasi.  

Penilaian ini didasarkan pada kajian Tim Associate Program (AP)-4 ICBG terhadap hasil-hasil riset AP-1, AP-2 dan AP-3 serta kesesuaian dengan kriteria yang ditetapkan oleh peraturan perundangan yang ada.  Associate Program (AP)-4  memiliki tugas utama meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat lokal untuk mendukung kelestarian keanekaragaman hayati.

“Kalau kawasan Pegunungan Mekongga ini bisa menjadi kawasan konservasi, mungkin ini adalah kawasan konservasi pertama yang usulannya berdasarkan hasil riset,” kata Ir. Adi Susmianto, M.Sc., Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser) sekaligus Advisory Board ICBG, pada pembukaan Lokakarya Usulan Perubahan Fungsi Hutan Lindung Komplek Hutan Pegunungan Mekongga Menjadi Taman Nasional di Kendari, Selasa (22/01).

“Hampir semua kriteria untuk menjadi kawasan konservasi terpenuhi, yakni kriteria fisik wilayah, biologi, ekologi, hidrologi dan sosial ekonomi,” kata Dr. Hendra Gunawan, Peneliti Utama di Puskonser yang juga merupakan AP-4 Leader, di Kendari, Selasa (22/01).   

Lebih lanjut Dr. Hendra menyampaikan, secara akademik akan ditambahkan kajian tentang kearifan masyarakat di sekitar Mekongga. Tujuannya agar persepsi masyarakat dapat diakomodasi sebagai bagian dari pola manajemen penetapan dan pengelolaan kawasan.


Posted by Editor - 04:35 pm, 22. January 2013 - 1423 klik

Melestarikan Tanaman Hutan Berkhasiat Obat di Samboja

swara

 

BPTKSDA (Bogor, 22/01/13)­_Kalimantan sebagai salah satu sumber keanekaragaman hayati terbesar di Indonesia, memiliki beraneka potensi tanaman hutan berkhasiat obat (THBO).  Namun disisi lain, keanekaragaman hayati tersebut  mengalami ancaman baik dari aspek ekologi, ekonomi hingga budaya. Oleh karena itu, konservasi THBO merupakan langkah penting yang harus dilakukan.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan melalui Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) di Samboja, menyikapi serius ancaman terhadap kelestarian THBO tersebut.  Melalui Majalah Swara Samboja edisi ketiga 2012, Balitek KSDA Samboja menyajikan upaya yang mulai dilakukan untuk melestarikan khasanah THBO di Kalimantan.

Dengan memanfaatkan keberadaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja seluas 3.504 ha, Balitek KSDA mengembangkan plot konservasi THBO seluas 5 ha. Plot tersebut merupakan plot konservasi eksitu sekaligus insitu. Saat ini terdapat 58 jenis THBO pada plot konservasi THBO di KHDTK Samboja, baik yang berasal dari habitat aslinya (insitu) maupun yang berasal dari luar (eksitu). Jumlah jenis THBO tersebut akan terus bertambah melalui kegiatan penanaman jenis yang dikoleksi dari berbagai daerah di Kalimantan.


Posted by Editor - 08:35 am, 17. December 2012 - 1617 klik

Bedah Buku: Promosikan Hasil Litbang, Kenalkan Penulisnya

cover-bedahFORDA (Jakarta, 11/12/12)_Bedah buku merupakan kegiatan penting, selain mempromosikan hasil litbang, juga untuk memperkenalkan peneliti yang menulis buku tersebut.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan mempromosikan 4 buku iptek kehutanan karya penelitinya melalui bedah buku yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (11/12). Bedah buku ini merupakan salah satu bentuk lain diseminasi hasil litbang.

Ada dua hal yang dipromosikan Badan Litbang Kehutanan dalam bedah buku ini. “Pertama, mempromosikan iptek hasil litbang dalam bentuk buku, dan kedua mempromosikan teman-teman peneliti yangmenjadi penulis buku,” kata Ir. C. Nugroho S. Priyono, Kepala Bagian Evaluasi, Diseminasi dan Perpustakaan, saat menyampaikan laporan penyelenggaraan kegiatan, Selasa (11/12).

Terkait dengan peran Badan Litbang Kehutanan untuk mendukung terwujudnya pengelolaan hutan lestari, maka hasil-hasil litbang harus secara optimal dan efektif disampaikan kepada pengguna. “Isi buku yang berupa IPTEK hasil litbang harus efektif terkomunikasikan kepada pengguna, “ tegas Ir. Wisnu Prastowo, Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Selasa (11/12), saat membuka acara Bedah Buku IPTEK Hasil Litbang Kehutanan mewakili Kepala Badan Litbang Kehutanan.


Posted by Editor - 02:08 pm, 03. December 2012 - 1693 klik

Paten, Bukan Sekedar Melindungi Invensi Teknologi

PATENFORDA (Bogor, 03/12/12)_Paten, hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas invensinya dibidang teknologi sering hanya dipandang sebagai cara melindungi inventor terhadap penggunaan invensinya secara tidak sah atau tanpa ijin.

Bagi sebagian orang, hal tersebut dipandang bertentang dari prinsip berbagi yang diajarkan agama maupun aspek kemanusiaan. Bukankah ilmu akan lebih bermanfaat jika diketahui dan dimanfaatkan lebih banyak pihak ? Terlebih di sektor kehutanan yang berurusan dengan sumber daya alam dan lingkungan yang hampir selalu bersinggungan dengan masyarakat luas. Demikian dikemukakan oleh Dr. Putera Parthama, Kepala Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah), di Jakarta, Senin (26/11) lalu saat kegiatan promosi paten hasil invensi institusi yang dipimpinnya.

Namun, lanjut Putera, ada logika lain yang juga kuat mendorong setiap invensi sebaiknya dipatenkan. Jika invensi tersebut tidak dilindungi hak paten,  maka bisa saja dipatenkan oleh pihak tertentu. Apabila itu terjadi, maka teknologi yang bersangkutan bahkan menjadi milik eksklusif pihak tersebut, sehingga masyarakat luas justru tidak bisa memanfaatkan secara gratis. Oleh sebab itu, akhirnya memang lebih baik setiap invensi dipatenkan, terlebih yang dihasilkan dari dana APBN, sehingga dapat digunakan secara luas tanpa ada kekhawatiran tersebut. Mengenai royalti, selalu dapat diatur. ”Jika untuk diterapkan oleh masyarakat luas, royaltinya dapat ditetapkan nol rupiah,” katanya.

Selain dari sisi pemanfaatan hasil invensi seperti disinggung di atas, sebenarnya tujuan lain dari paten yang juga sangat penting adalah memberikan penghargaan dan pengakuan atas hasil karya, serta mendorong semangat kompetisi untuk terus menghasilkan karya-karya yang inovatif. 

Oleh karenanya, jumlah paten secara langsung dapat mempresentasikan pertumbuhan inovasi suatu negara. “Jumlah hak paten merupakan salah satu indikator kemajuan, perkembangan atau penguasaan teknologi suatu bangsa,” kata Putera. Negara-negara yang banyak menghasilkan paten, menurut Putera, akan menjadi penguasa teknologi dan pemimpin ekonomi dunia. 


Posted by Editor - 05:01 pm, 28. November 2012 - 1819 klik

Pertama Kali, Badan Litbang Kehutanan Promosikan Paten Hasil Invensi

prpmosiPustekolah (Jakarta, 26/11/12)_Badan Litbang Kehutanan untuk pertama kali mempromosikan hasil-hasil invensi teknologi yang telah bersertifikat paten kepada calon pengguna.

Sebanyak 4 (empat) paten yang diperkenalkan dan dipromosikan terdaftar atas nama Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan hasil Hutan (Pustekolah), Badan Litbang Kehutanan. Invensi yang dipromosikan meliputi teknologi produksi bahan bakar alternatif terbarukan, teknologi pemanfaatan limbah asap dari produksi arang, produk perekat kayu organik dari limbah kulit kayu dan perekayasaan alat pendukung pengelolaan hutan.

“Invensi teknologi yang kami sampaikan merupakan terobosan teknologi aplikatif dan ramah lingkungan, serta menunjukkan upaya pemanfaatan secara efisien hasil hutan Indonesia,” kata Dr. R. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan saat membuka acara Promosi Paten Pustekolah, di Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (26/11)

Lebih lanjut Iman mengharapkan agar hasil-hasil invensi ini dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan oleh masyarakat dan para pihak terkait. Pengambil kebijakan dan penyedia energi nasional, industri kehutanan dan HTI Akasia mangium, industri perekayasaan alat, industri makanan dan desinfektan, serta sektor pertanian dan perkebunan, adalah beberapa di antara para pihak terkait yang diharapkan dapat mengaplikasikan hasil invensi tersebut.


Posted by admin - 06:11 pm, 20. October 2012 - 1874 klik

Berbasis Kerakyatan dan Aplikatif, Karya Inovasi “Lestari Hutanku Terang Desaku” dalam INOTEK 2012

hunggulFORDA (Jakarta, 19/10/12)_Berbasis kerakyatan, aplikatif dan berdampak luas, adalah kriteria pemilihan karya inovasi dan teknologi untuk tampil dalam Pameran Inovasi dan Teknologi (Inotek) 2012.  “Mikrohidro: Lestari Hutanku Terang Desaku” karya Ir. Hunggul Yudono, M.Si., peneliti dari Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Makassar, terpilih untuk tampil dalam pameran itu bersama 8 karya lainnya dari 510 inovasi yang masuk dalam Buku 100 – 104 Inovasi Indonesia.  

Karya mikrohidro ini dianalisis memiliki dampak yang besar sekali ke masyarakat, terutama untuk desa-desa yang kekurangan listrik. “Daerah-daerah terpencil yang susah dijangkau dari PLN bisa menggunakan alat ini.” kata Feri Jainudin, Liaison Officer Business Innovation Center (BIC) di Jakarta, Jum’at (19/10), saat ditanya mengenai alasan terpilihnya karya Hunggul tersebut dalam Inotek 2012.

Lebih lanjut Feri menjelaskan, indikator utama tentunya berbasis kerakyatan dan sudah teraplikasi di masyarakat, baik skala kecil maupun skala besar. Karya-karya inovasi yang dipamerkan ini diantaranya telah mendapat penghargaan nasional dan internasional, mampu meningkatkan keekonomian masyarakat suatu daerah dan bahkan ada yang sudah diaplikasikan di luar negeri.

Selain karena konsepnya yang sudah diaplikasikan di masyarakat, mikrohidro ini juga dinilai ekonomis. Biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk listrik mikrohidro jauh lebih murah dibandingkan dengan genset dan PLN.

“Dengan genset masyarakat membayar iuran  sebesar 100 – 200 ribu per bulan, hanya untuk aliran listrik 4 jam sehari, dengan mikrohidro, mereka cukup membayar iuran sesuai kesepakatan kelompok, dan uangnya pun kembali ke kelompok untuk perawatan rutin dan upah operator,” jelas Hunggul saat ditemui pada Pameran Inotek 2012 di Plaza FX, Senayan Jakarta (19/10).


Posted by admin - 11:13 pm, 13. October 2012 - 4963 klik

Aplikasi Bioteknologi Tingkatkan Produktivitas dan Konservasi Sumber Daya Hutan

mangiumBIOTIFOR (Yogyakarta, 09/10/12)_Aplikasi bioteknologi dalam pengelolaan hutan berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan konservasi sumber daya hutan. Bioteknologi di bidang kehutanan meliputi 3 bidang utama, yaitu penggunaan metode pembiakan kultur jaringan, penggunaan penanda molekuler dan rekayasa genetik untuk memproduksi tanaman transgenik.

Penanda molekuler dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pemuliaan dan konservasi sumberdaya genetik. “Dengan menggunakan penanda molekuler, bibit unggul dapat dihasilkan dengan waktu yang lebih cepat dan lebih tepat,” kata Dr. Bambang Tri Hartono, Kepala Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan (Pusprohut) dalam pembukaan Seminar Nasional Bioteknologi Hutan di Yogyakarta, Selasa (9/10).

Penerapan teknik penanda molekuler juga sangat penting dalam konservasi sumber daya genetik. Lebih lanjut Bambang menjelaskan, informasi  tingkat keragaman genetik dan sebarannya di hutan alam maupun tanaman dapat diketahui dengan teknik ini, sehingga konservasi sumber daya genetik dapat dilakukan secara efektif dan efisien. “Hal ini tidak hanya berlaku untuk tanaman kehutanan, tetapi juga untuk hewan, khususnya yang dilindungi atau terancam punah,” katanya.

Membacakan sambutan Kepala Badan Litbang Kehutanan dalam pembukaan seminar yang diselenggarakan oleh Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BIOTIFOR), Bambang juga menyampaikan, melalui teknik kultur jaringan, pengadaan bibit tidak lagi tergantung musim dan bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat. 

 


Posted by admin - 04:45 am, 05. October 2012 - 2153 klik

IPTEK yang Solutif, Aplikatif dan Ekonomis untuk Hutan Lestari dan Rakyat Sejahtera

geltek2012FORDA (Semarang, 02/10/12)_ Para peneliti kehutanan diharapkan selalu menghasilkan iptek tepat guna yang solutif, aplikatif dan ekonomis untuk untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.

“Solutif artinya  memberikan alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapi. Aplikatif, harus mudah dilaksanakan semua pemangku kepentingan. Ekonomis, kemanfaatannya harus benar-benar memberikan hasil yang nyata dalam mendukung tumbuhnya ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Dr. Sri Puryono, K.S., M.P, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah  Provinsi Jawa Tengah, di Semarang, Selasa (2/10).

Mewakili Gubernur Jawa Tengah dalam acara pembukaan Gelar Teknologi Litbang Kehutanan dan Lokakarya Pengembangan Penyuluhan Kehutanan 2012,  Sri Puryono berpesan,“Peneliti teruslah bekerja dan berkarya menciptakan teknologi kehutanan bagi kemaslahatan masyarakat dan keselamatan lingkungan alam hutan kita.”

Harapan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut disambut baik oleh Badan Litbang Kehutanan. “Para peneliti kami juga selalu siap untuk mengawal penyelenggaraan pengelolaan hutan,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan di Semarang, Selasa (2/10).

Badan Litbang Kehutanan sebagai institusi penelitian di bawah Kementerian Kehutanan akan selalu memberi dukungan untuk terwujudnya Pengelolaan Hutan yang Lestari dan Masyarakat Sejahtera. “Badan Litbang Kehutanan selalu terbuka dan siap untuk memberikan dukungan IPTEK manakala dibutuhkan, termasuk menyediakan informasi untuk antisipasi terhadap permasalahan kehutanan yang mungkin muncul di kemudian hari, “ tegas Iman.


Posted by admin - 10:38 pm, 29. September 2012 - 1853 klik

Peneliti dan Penyuluh Kehutanan Bersinergi dalam Gelar Teknologi 2012

geltek2012

FORDA (Bogor, 28/09/12)_Pengelolaan hutan berkelanjutan dengan keseimbangan dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan yang melekat di dalamnya, akan bisa diwujudkan secara nyata apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Hal ini berimplikasi terhadap arah pembangunan kehutanan, dari pembangunan berbasis sumberdaya alam menjadi pembangunan berbasis masyarakat berpengetahuan. Karenanya penguasaan dan pemanfaatan iptek kehutanan yang didukung kemampuan sumberdaya manusia akan menjadi faktor yang menentukan daya saing sektor kehutanan.

Penelitian dan pengembangan (litbang) kehutanan memegang peran penting untuk menghasilkan iptek yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, memenuhi kebutuhan industri, menghasikan produk yang bermanfaat untuk publik dan mengatasi permasalahan yang ada. Peran peneliti sangat diharapkan untuk menghasilkan iptek tersebut.

Agar berhasil guna dan berdaya guna, hasil-hasil penelitian kehutanan perlu dideseminasikan pada masyarakat dengan bahasa yang lebih lugas dan implementatif. Disinilah peran penyuluh kehutanan sebagai ujung tombak pembangunan kehutanan untuk membantu mendiseminasikan hasil litbang tersebut.

Gelar Teknologi Litbang Kehutanan 2012 ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Badan Litbang Kehutanan dalam rangka meningkatkan penyebarluasan informasi dan promosi iptek kehutanan. Tujuannya untuk mendekatkan dan mentransformasikan iptek yang dihasilkan kepada para pengguna, khususnya penyuluh kehutanan.

Harapannya, iptek kehutanan yang dihasilkan dapat disampaikan kepada masyarakat luas serta memperoleh umpan balik (masukan) dari pengguna untuk meningkatkan kualitas dan daya guna hasil-hasil litbang kehutanan di masa yang akan datang. Dengan demikian iptek kehutanan dapat menjadi basis solusi permasalahan aktual kehutanan untuk mendorong akselerasi pencapaian tujuan pembangunan kehutanan.