KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by admin - 11:13 pm, 13. October 2012 - 4817 klik

Aplikasi Bioteknologi Tingkatkan Produktivitas dan Konservasi Sumber Daya Hutan

mangiumBIOTIFOR (Yogyakarta, 09/10/12)_Aplikasi bioteknologi dalam pengelolaan hutan berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan konservasi sumber daya hutan. Bioteknologi di bidang kehutanan meliputi 3 bidang utama, yaitu penggunaan metode pembiakan kultur jaringan, penggunaan penanda molekuler dan rekayasa genetik untuk memproduksi tanaman transgenik.

Penanda molekuler dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pemuliaan dan konservasi sumberdaya genetik. “Dengan menggunakan penanda molekuler, bibit unggul dapat dihasilkan dengan waktu yang lebih cepat dan lebih tepat,” kata Dr. Bambang Tri Hartono, Kepala Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan (Pusprohut) dalam pembukaan Seminar Nasional Bioteknologi Hutan di Yogyakarta, Selasa (9/10).

Penerapan teknik penanda molekuler juga sangat penting dalam konservasi sumber daya genetik. Lebih lanjut Bambang menjelaskan, informasi  tingkat keragaman genetik dan sebarannya di hutan alam maupun tanaman dapat diketahui dengan teknik ini, sehingga konservasi sumber daya genetik dapat dilakukan secara efektif dan efisien. “Hal ini tidak hanya berlaku untuk tanaman kehutanan, tetapi juga untuk hewan, khususnya yang dilindungi atau terancam punah,” katanya.

Membacakan sambutan Kepala Badan Litbang Kehutanan dalam pembukaan seminar yang diselenggarakan oleh Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BIOTIFOR), Bambang juga menyampaikan, melalui teknik kultur jaringan, pengadaan bibit tidak lagi tergantung musim dan bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat. 

 


Posted by admin - 04:45 am, 05. October 2012 - 2101 klik

IPTEK yang Solutif, Aplikatif dan Ekonomis untuk Hutan Lestari dan Rakyat Sejahtera

geltek2012FORDA (Semarang, 02/10/12)_ Para peneliti kehutanan diharapkan selalu menghasilkan iptek tepat guna yang solutif, aplikatif dan ekonomis untuk untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.

“Solutif artinya  memberikan alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapi. Aplikatif, harus mudah dilaksanakan semua pemangku kepentingan. Ekonomis, kemanfaatannya harus benar-benar memberikan hasil yang nyata dalam mendukung tumbuhnya ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Dr. Sri Puryono, K.S., M.P, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah  Provinsi Jawa Tengah, di Semarang, Selasa (2/10).

Mewakili Gubernur Jawa Tengah dalam acara pembukaan Gelar Teknologi Litbang Kehutanan dan Lokakarya Pengembangan Penyuluhan Kehutanan 2012,  Sri Puryono berpesan,“Peneliti teruslah bekerja dan berkarya menciptakan teknologi kehutanan bagi kemaslahatan masyarakat dan keselamatan lingkungan alam hutan kita.”

Harapan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut disambut baik oleh Badan Litbang Kehutanan. “Para peneliti kami juga selalu siap untuk mengawal penyelenggaraan pengelolaan hutan,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan di Semarang, Selasa (2/10).

Badan Litbang Kehutanan sebagai institusi penelitian di bawah Kementerian Kehutanan akan selalu memberi dukungan untuk terwujudnya Pengelolaan Hutan yang Lestari dan Masyarakat Sejahtera. “Badan Litbang Kehutanan selalu terbuka dan siap untuk memberikan dukungan IPTEK manakala dibutuhkan, termasuk menyediakan informasi untuk antisipasi terhadap permasalahan kehutanan yang mungkin muncul di kemudian hari, “ tegas Iman.


Posted by admin - 10:38 pm, 29. September 2012 - 1809 klik

Peneliti dan Penyuluh Kehutanan Bersinergi dalam Gelar Teknologi 2012

geltek2012

FORDA (Bogor, 28/09/12)_Pengelolaan hutan berkelanjutan dengan keseimbangan dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan yang melekat di dalamnya, akan bisa diwujudkan secara nyata apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Hal ini berimplikasi terhadap arah pembangunan kehutanan, dari pembangunan berbasis sumberdaya alam menjadi pembangunan berbasis masyarakat berpengetahuan. Karenanya penguasaan dan pemanfaatan iptek kehutanan yang didukung kemampuan sumberdaya manusia akan menjadi faktor yang menentukan daya saing sektor kehutanan.

Penelitian dan pengembangan (litbang) kehutanan memegang peran penting untuk menghasilkan iptek yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, memenuhi kebutuhan industri, menghasikan produk yang bermanfaat untuk publik dan mengatasi permasalahan yang ada. Peran peneliti sangat diharapkan untuk menghasilkan iptek tersebut.

Agar berhasil guna dan berdaya guna, hasil-hasil penelitian kehutanan perlu dideseminasikan pada masyarakat dengan bahasa yang lebih lugas dan implementatif. Disinilah peran penyuluh kehutanan sebagai ujung tombak pembangunan kehutanan untuk membantu mendiseminasikan hasil litbang tersebut.

Gelar Teknologi Litbang Kehutanan 2012 ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Badan Litbang Kehutanan dalam rangka meningkatkan penyebarluasan informasi dan promosi iptek kehutanan. Tujuannya untuk mendekatkan dan mentransformasikan iptek yang dihasilkan kepada para pengguna, khususnya penyuluh kehutanan.

Harapannya, iptek kehutanan yang dihasilkan dapat disampaikan kepada masyarakat luas serta memperoleh umpan balik (masukan) dari pengguna untuk meningkatkan kualitas dan daya guna hasil-hasil litbang kehutanan di masa yang akan datang. Dengan demikian iptek kehutanan dapat menjadi basis solusi permasalahan aktual kehutanan untuk mendorong akselerasi pencapaian tujuan pembangunan kehutanan.


Posted by admin - 11:32 pm, 23. September 2012 - 1582 klik

Menyelamatkan Orangutan, Hutan dan Bumi Kita

orangutanBalitek KSDA (Samboja, 19/09/12)_Hutan memiliki fungsi ekologis yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Keberadaan orangutan di ekosistem hutan berperan sebagai penjaga dinamika keseimbangan ekosistem hutan. Oleh karena itu, menyelamatkan orangutan berarti secara langsung dan tidak langsung menyelamatkan hutan, bumi dan hidup kita sendiri

Sebagai hewan frugifora (pemakan buah), orangutan adalah agen penyebar biji yang efektif sehingga regenerasi hutan dapat terjamin. “Orangutan yang memakan lebih dari 60% buah hutan, akan menyebarkan biji-bijian yang dikonsumsinya,” kata Dr. Ishak Yassir, peneliti dari Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) Samboja.

Selain itu, lanjut Ishak, saat orangutan bergerak atau membuat sarang di pohon, orangutan akan membuka ruang bagi cahaya masuk kelantai hutan karena banyak dahan atau ranting yang patah/digunakan. Kondisi tersebut membuka ruang untuk tumbuh dan berkembangnya biji-bijian di lantai hutan, sehingga proses suksesi alami berjalan lebih cepat.

Saat ini orangutan menghadapi masalah yang cukup berat, ditandai dengan kecenderungan penurunan jumlah yang drastis. “Sekarang diperkirakan jumlah orangutan di alam Kalimantan tinggal sekitar 45.000-69.000 individu dan di Pulau Sumatera tinggal sekitar 7.300 individu saja, kata Dr. Nur Sumedi, Kepala Balitek KSDA Samboja baru-baru ini. 

Lebih lanjut Nur Sumedi mengungkapkan, perubahan tata guna lahan yang sangat masif karena degradasi hutan, intensifnya pertambangan dan ekspansi perkebunan kelapa sawit secara sistematis telah memfragementasikan habitat asli orangutan. 


Posted by admin - 05:46 pm, 15. September 2012 - 1939 klik

Perkuat Jejaring Kerja Pengembangan Hasil Hutan di ASEAN, Indonesia Bangun Situs Web ARKN-FPD

logo-ARKN

Pustekolah (Bandung, 12/09/12)_ Indonesia melalui Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) – Badan Litbang Kehutanan menginisiasi pembangunan situs web www.arkn-fpd.org.

ASEAN Regional Knowledge Network on Forest Product Development (ARKN-FPD) merupakan jejaring kerja yang dibentuk berdasarkan kesepakatan ASEAN Experts Group on Forest Product Development (AEG-FPD) saat sidang ke-2 di Manila (2010). Sidang ini juga memutuskan Indonesia sebagai koordinator (lead country) ARKN-FPD.

ARKN-FPD diharapkan dapat menjadi sumber datan dan informasi, media harmonisasi standar dan regulasi hasil hutan, termasuk membangun kerjasama penelitian dan publikasi dalam bidang pengembangan hasil hutan. Kehadiran jejaring kerja ini juga diharapkan dapat memperkuat ASEAN sebagai satu komunitas dalam konstelasi perdagangan hasil hutan dunia.

“Indonesia sebagai lead country berinisiatif membangun situs web www.arkn-fpd.org sebagai langkah awal menuju network yang sesungguhnya,” kata Dr. Putera Parthama, Kepala Pustekolah di Bandung, Rabu (12/9). Situs web ini, lanjut Putera, dimaksudkan untuk memfasilitasi komunikasi, pertukaran data dan informasi serta promosi kerjasama dibidang pengembangan hasil hutan antar negara anggota ASEAN (ASEAN Member States/AMS).


Posted by admin - 12:00 am, 28. August 2012 - 2381 klik

Badan Litbang Kehutanan Luncurkan Program Kegiatan Pengelolaan Jenis Tumbuhan Invasif di Asia Tenggara

baluranFORDA (Bogor, 28/08/12)_Dalam rangka memitigasi ancaman Invasive Alien Species (IAS)  di wilayah Asia Tenggara, Indonesia akan melaksanakan kegiatan Removing Barriers to Invasive Species Management in South East Asia (RBIS-SEA).  Kegiatan yang memperoleh dana hibah dari Global Environmental Facilities (GEF) melalui United Nations Environment Programme (UNEP) ini mencakup 4 negara anggota ASEAN yakni Indonesia, Kambodja, Vietnam dan Filipina. Program kegiatan ini akan berjalan selama 48 bulan (4 tahun) mulai pertengahan tahun 2012 hingga pertengahan tahun 2016.

Dalam pelaksanaannya UNEP akan menjadi Implementing Agency  bekerja sama dengan Commonwealth Agriculture Beuro International (CABI).  Indonesia merupakan negara yang pertama dari keempat negara partisipan tersebut yang memulai kegiatan ini pada 6 Juli 2012 yang ditandai dengan penandatangan Sub-Contract Agreement (GEF- Trust Fund Project Number 0515) antara CABI sebagai Lead/Regional Executing Agency dan Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser) Kementerian Kehutanan, sebagai National Executing Agency. Dalam kegiatan ini Kepala Puskonser (Ir. Adi Susmianto, MSc) akan bertindak selaku National Project Director/NPD (Co-finance) dan Dr. Titiek Setyawati (Peneliti Puskonser) sebagai National Project Coordinator/NPC (GEF-UNEP through CABI-secondee). 

Maksud utama dari kegiatan ini adalah untuk melakukan upaya konservasi terhadap hutan yang memiliki kepentingan secara global termasuk didalamnya keanekaragaman spesies dan genetika di kawasan hutan tropis di Asia Tenggara.  Sedangkan tujuannya adalah untuk memitigasi ancaman IAS terhadap biodiversitas dan ekonomi lokal yang ada di Asia Tenggara terutama di kawasan hutan yang dilindungi termasuk kawasan konservasi dan hutan produksi.  


Posted by admin - 12:00 am, 10. August 2012 - 1413 klik

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Bentuk Pertanggungjawaban Riset kepada Publik

hateknasFORDA (Bogor, 10/8/2012)_Inovasi untuk Kemandirian Bangsa, merupakan tema peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-17 yang diselenggarakan di Bandung pada 8 s/d 11 Agustus 2012.

Peringatan HAKTEKNAS yang menyajikan berbagai hasil inovasi teknologi anak bangsa tersebut dibuka dan diresmikan oleh Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta pada Rabu (8/08). Rangkaian acara tersebut mulai dari RITech Expo di Sasana Budaya Ganesha, Triple Helix Conference, dan upacara di Gedung Sate hari ini (10/08).

Menristek menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban terhadap publik atas hasil-hasil riset dan inovasi yang telah dilakukan oleh para peneliti Indonesia. "Pameran ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dan pemahaman baru akan keberadaan IPTEK, bahwa inovasi teknologi bangsa Indonesia ternyata sudah cukup banyak," katanya.

"Pameran ini diselenggarakan dalam rangka membangkitkan budaya inovasi di kalangan masyarakat," jelas Menristek yang akan berada di Bandung selama sepekan ini untuk mengikuti rangkaian kegiatan Hakteknas tersebut.


Posted by admin - 12:00 am, 25. July 2012 - 3390 klik

Launching Monograf Model-Model Alometrik untuk Pendugaan Biomassa Pohon pada Berbagai Tipe Ekosistem Hutan di Indonesia

pohonFORDA (Bogor, 25/07/2012)_Data dan  informasi mengenai  stok karbon dalam biomassa hutan  beserta perubahannya secara spasial, sangat diperlukan untuk menyusun strategi  penurunan emisi  Gas Rumah Kaca (GRK) akibat deforestasi  dan degradasi  hutan dan peningkatan stok karbon  hutan. Oleh  karena  itu, diperlukan Sistem Perhitungan Karbon Nasional yang komprehensif, kredibel dan dapat diverifikasi. 

Salah satu langkah awal dalam pengembangan sistem ini  adalah melakukan inventarisasi dan  kajian terhadap model-model alometrik  biomassa dan volume pohon agar diperoleh referensi  model-model  alometrik  yang  sesuai  dengan  kondisi yang spesifik di lndonesia.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan telah menyusun Monograf “Model-Model Alometrik  untuk  Pendugaan Biomassa Pohon pada Berbagai Tipe Ekosistem Hutan di Indonesia”.

Monograf ini merupakan hasil kajian peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan terhadap hasil-hasil penelitian terkait dengan model-model alometrik biomassa dan volume pohon yang sudah dikembangkan pada berbagai jenis pohon dan tipe ekosistem hutan di Indonesia. Monograf ini diharapkan akan menjadi input yang sangat penting bagi pengembangan Sistem Perhitungan Karbon Nasional Indonesia (Indonesian National Carbon Accounting System/INCAS).


Posted by admin - 12:00 am, 21. July 2012 - 1448 klik

Komunikasi Riset, Strategi Jitu Memasarkan Hasil Litbang

komunikasiFORDA (Bogor, 21 Juli 2012)_Salah satu tolak ukur keberhasilan riset adalah hasilnya diaplikasikan oleh pengguna. Untuk sampai kepada pengguna diperlukan strategi pemasaran yang jitu, yakni komunikasi riset.

 “Komunikasi riset merupakan kegiatan untuk mengemas hasil riset berupa iptek dan kebijakan menjadi pengetahuan publik,” kata Dr. Kirsfianti L. Ginoga, Kepala Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak), pada pengantar workshop komunikasi riset di Bogor, Selasa (17/07).

“Tugas penting peneliti adalah 3T yaitu Temu, Tulis dan Tebar,” kata Kirsfianti. Hasil riset tersebut harus ditranslasi dan ditransformasi dengan bahasa yang mudah dimengerti publik. Tahap selanjutnya adalah menyampaikan hasil riset tersebut kepada pengambil kebijakan, praktisi (widyaiswara, penyuluh, pengusaha), masyarakat umum, dan masyarakat ilmiah.

Hal di atas menunjukkan bahwa komunikasi lebih dari sekedar menyampaikan atau menyebar pesan. Komunikasi termasuk upaya agar pesan itu sampai dengan memberikan dampak yang diinginkan. Salah satu teknik komunikasi yang harus dilakukan adalah mengenali mitra atau audience. Pesan akan berhasil disampaikan ketika mengenali siapa yang diajak berbicara.  Selanjutnya, barulah disusun pesan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman mitra. 


Posted by admin - 12:00 am, 14. July 2012 - 1904 klik

Rakornis Badan Litbang Kehutanan 2012, Ajang Konsolidasi untuk Tingkatkan Profesionalisme

rakorFORDA (Bandung, 14 Juli 2012)_Konsolidasi internal dan mengkaji lebih dalam (retrospeksi) capaian Badan Litbang Kehutanan saat ini, adalah fokus penyelenggaraan Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) 2012. Tujuannya adalah untuk meningkatkan profesionalisme Badan Litbang Kehutanan dalam mendukung kinerja pembangunan sektor kehutanan.

“Sebagai awal konsolidasi, kita perlu melakukan refleksi perjalanan pelaksanaan penelitian terutama pengelolaan sumber daya anggaran maupun SDM dalam proses menghasilkan paket IPTEK, “ kata Dr. R. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan di Bandung, Rabu (11/07/12).  Penelitian mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan sektor kehutanan. “Apakah peran tersebut sudah kita laksanakan dengan baik ?”, katanya lebih lanjut.

“Hal ke-2 yang penting adalah profesionalisme. Bagaimana kinerja kita selama setahun ini, dan bagaimana dengan tahun-tahun lalu? Apakah hasil iptek kita sudah sesuai dengan kebutuhan pengguna? Berapa besar sumbangsih hasil litbang terhadap kebutuhan pengguna ?”, lanjut Iman dalam pembukaan Rakornis 2012 tersebut.

Oleh karena itu, dalam  arahannya saat pembukaan Rakornis tersebut, Iman  berharap agar penelitian litbang tidak bisa lagi bersifat reaktif terhadap isu yang muncul, tapi harus proaktif, one-step ahead, dan visioner. “Litbang harus mempunyai curiosity dan selalu well informed dengan berbagai dinamika perkembangan dan perubahan yang terjadi di sektor kehutanan. Interaksi dengan eselon-I lain dan para pengguna sangat diperlukan untuk mengetahui secara jelas kebutuhan dukungan yang diminta, “ katanya.