KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda - 12:00 am, 09. May 2014 - 2890 klik

Gelar IPTEK Hasil Litbang Kehutanan untuk Mendukung KPH

FORDA (Bogor, 09/05/2014)_Dalam rangka peningkatan kemanfaatan penerapan IPTEK Kehutanan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) serta upaya mendukung pengarusutamaan KPH sebagai prioritas pembangunan kehutanan, Badan Litbang Kehutanan berkerjasama dengan Dirjen Planologi Kehutanan dan Forests and Climate Change Programme - Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (FORCLIME-GIZ) menyelenggarakan Gelar IPTEK Hasil Litbang Kehutanan untuk mendukung KPH Tahun 2014, Senin (12/05).

Acara yang dilaksanakan di IPB International Convention Center (IICC), Botani Square Bogor ini bertujuan untuk mendekatkan, mentransformasikan dan meningkatkan pemanfaatan IPTEK yang dihasilkan Badan Litbang Kehutanan kepada para pengelola KPH, mendorong terwujudnya keberhasilan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan secara optimal dan lestari pada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta mendorong peningkatan interaksi dan kerjasama kemitraan, antara peneliti dan pengelola KPH.


Posted by Rizda - 12:00 am, 07. May 2014 - 1720 klik

SBY: Forest Asia Summit, Motivasi Bersama Menjaga Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Forest Asia Summit 2014

FORDA (Jakarta, 06/05/2014)_Dalam rangka membangun komitmen untuk pembangunan hijau, investasi berkelanjutan, penelitian terpadu, dan kerjasama lintas batas dengan komunikasi yang intensif terkait kehutanan di Asia Tenggara, Center for International Forestry Research (CIFOR) bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menyelenggarakan Forest Asia Summit di Hotel Shangri-La, Jakarta, 5-6 April 2014.

Membuka acara tersebut, Presiden Republik Indonesia, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut baik konferensi yang diikuti oleh 10 menteri negara anggota ASEAN, pejabat yang terlibat langsung di bidang kehutanan, peneliti, dan pengusaha, LSM lingkungan dan kehutanan serta akademisi dari seluruh negara-negara Asia Tenggara ini.

Menurutnya, konferensi bertema Lanskap Berkelanjutan untuk Pembangunan Hijau di Asia Tenggara ini sangat penting terkait kesiapan penduduk bumi secara bahu membahu mewujudkan tujuan mulia, yaitu menyelamatkan hutan tropis di negeri ini.


Posted by Rizda - 12:00 am, 30. April 2014 - 1435 klik

Badan Litbang Siap Selenggarakan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

FORDA (Bogor, 29/04/2014)_Tahun ini, Badan Litbang Kehutanan mengagendakan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

“April merupakan start point,” kata Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, M.Sc sebagai pengantar Diskusi Persiapan Penyelenggaraan SPIP Lingkup Badan Litbang Kehutanan di Ruang Sudiarto, Kampus Litbang Gunung Batu, Bogor, Senin (28/04).

Pada bulan Mei-Oktober, Sekbadan menjadwalkan semua satuan kerja (satker) lingkup Litbang wajib melaksanakan SPIP. Monitoring pelaksanaan SPIP tersebut akan dilaksanakan sendiri oleh Badan Litbang Kehutanan. Kemudian pada Oktober akan dilaksanakan evaluasi dan sharing pengalaman pelaksanaan SPIP di semua satker litbang.


Posted by Rizda - 12:00 am, 24. April 2014 - 3570 klik

Pengembangan Biomassa sebagai Bioenergi, Tantangan Makro bagi Sektor Kehutanan

FORDA (Bogor, 23/04/2014)_Realita energi nasional kita saat ini mengalami penurunan cadangan minyak bumi. Hal tersebut tidak bisa dihindari seiring pemakaian yang terus menerus dan lama kelamaan bisa habis. Di sisi lain, konsumsi bahan bakar tidak bisa ditekan karena peningkatan kebutuhan energi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi, yang 10 tahun terakhir naik sekitar 7%/tahun.

“Ini sungguh suatu realita yang harus kita sikapi bersama sehingga adanya suatu energi alternatif terbarukan menjadi keharusan yang harus kita dorong perkembangannya,” kata Wening Sri Wulandari, S.Hut, M.Si, dalam paparannya pada Diskusi Ilmiah yang membahas tentang Penelitian Integratif Biomassa/Bioenergi di kampus Litbang Kehutanan, Bogor, Selasa (22/04).

Menyadari bahwa energi fosil akan semakin berkurang, lanjut Wening, pemerintah sebenarnya telah membuat kebijakan yang disebut bauran energi primer: pada 2025 ditetapkan 15% energi berasal dari sumber energi baru dan terbarukan yang terdiri dari geothermal, biofuel dan biomassa. Bahkan, Kementerian ESDM juga telah menetapkan Roadmap Pengembangan Biofuel sampai 2025, namun kebijakan dan roadmap tersebut belum bisa berjalan sebagaimana mestinya dan mencapai targetnya karena masih banyak kendala.

Hal ini menjadi tantangan besar bagi Kementerian Kehutanan, karena menurut Wening, sektor kehutanan punya pengaruh besar dalam hal menggali dan menciptakan energi baru dan terbarukan. Sektor kehutanan yang mengelola 60% luas daratan Indonesia sangat potensial sebagai penyuplai bioenergi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.


Posted by Rizda - 12:00 am, 14. April 2014 - 2690 klik

Kontribusi Litbang untuk Percepatan Operasionalisasi KPH

FORDA (Bogor, 11/04/2014)_Dalam rangka percepatan operasionalisasi KPH, Badan Litbang Kehutanan melaksanakan Diskusi Kontribusi Litbang untuk Percepatan Operasionalisasi KPH di Kampus Litbang kehutanan, Bogor, Jumat (11/04). 

Diskusi yang dihadiri berbagai instansi terkait KPH ini diawali dengan pengantar Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM tentang bentuk dukungan litbang untuk KPH. Dalam paparannya, Tri Joko menyampaikan IPTEK dasar dan terapan yang dimiliki oleh Litbang Kehutanan untuk mendukung pembentukan dan operasional KPH; Pilot Project IPTEK Hasil Litbang di KPH; Konvergensi Kegiatan Litbang di KPH; dan Gelar Teknologi  Hasil Litbang untuk KPH.

Tri Joko menyampaikan bahwa konvergensi penelitian yang akan dilakukan oleh Litbang Kehutanan, antara lain kajian kebijakan menyempurnakan konsep KPH; menggunakan KPH sebagai unit kajian dan site penelitian; dan topik penelitian dengan target output yang berkontribusi untuk pembentukan dan operasional KPH.

“Implementasi hasil Litbang di KPH (pilot) dijadikan sebagai kegiatan pengembangan. Artinya, kita (litbang) bukan membangun KPH pilot, (tetapi) IPTEK litbang akan dipilotkan dalam rangka pengembangan di KPH yang sesuai dengan Rencana Penelitian dan lokusnya,” jelas Tri Joko.


Posted by Rizda - 12:00 am, 10. April 2014 - 1677 klik

Kombinasi Ruangan Kedap dan Teknik Dehumidifikasi Dapat Turunkan Kadar Air Madu Sesuai SNI Madu

Penurunan Kadar Air Madu Hutan Alam SumbawaFORDA (Bogor, 10/04/2014)_Pada umumnya kualitas madu, cairan manis yang dihasilkan oleh lebah madu dari berbagai sumber nektar belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3545-2004 yang merupakan Revisi SNI 01-3545-1994, yang menyebutkan salah satu indikator madu dinyatakan memenuhi syarat adalah kadar air yang tidak lebih dari 22%. Demikian juga halnya dengan kualitas madu lebah hutan Sumbawa, masih tergolong rendah karena memiliki kadar air di atas 22%.

Mengingat pentingnya mengontrol kadar air untuk menjaga kualitas madu yang memenuhi standar tersebut, Saptadi dan tim peneliti Balai Penelitian Teknologi HHBK, Mataram telah melakukan penelitian dengan menggunakan teknik penguapan menggunakan dehumidifier (alat yang berfungsi menurunkan kelembaban udara untuk mengkondensasi air dari udara) yang diaplikasikan dalam bangunan penurun kadar air madu dengan ruangan kedap.

Yang menjadi pertimbangan dalam menggunakan teknik ini karena teknik penguapan (dehumidifikasi) adalah teknik menurunkan kadar air madu yang dinilai paling efektif karena dapat meminimalkan kerusakan madu. Teknik ini dinilai lebih aman karena tidak menurunkan aktivitas atau menyebabkan punahnya enzim diastase, penyebab fermentasi yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan keasaman madu serta tidak meningkatkan indikator HMF (Hidroxy Methyl Furfural) akibat terdegradasinya gula madu sebagaimana jika dilakukan pemanasan, baik langsung maupun tidak langsung.


Posted by Rizda - 12:00 am, 31. March 2014 - 2275 klik

FGD Restorasi Ekosistem: Kriteria Penentuan Lokasi Strategis bagi IUPHHK-RE di Hutan Produksi

FGD RE II-2014

FORDA (Bogor, 28/03/2014)_Burung Indonesia (Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia) bekerjasama dengan Badan Litbang Kehutanan kembali mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Restorasi Ekosistem (RE), Kamis (27/03) di Ruang Rapat Sudiarto, Kampus Badan Litbang Kehutanan, Gunung Batu, Bogor.

FGD RE yang diikuti sekitar 60 orang dari berbagai instansi/lembaga terkait ini membahas Kriteria Penentuan Lokasi Strategis bagi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) di Hutan Produksi. Topik ini terkait dengan alokasi areal seluas 2.695.026 hektar bagi IUPHHK-RE dari 14,57 juta hektar hutan alam produksi yang telah dicadangkan pemanfaatannya.

Beberapa kriteria yang dihasilkan dari diskusi ini, antara lain lokasi RE harus sesuai dengan identitas, fungsi dan proses pemulihan yang berbasis ekosistem; harus dapat menampung kawasan dengan ekosistem rentan (pulau-pulau kecil dan HCVF); merupakan habitat flora dan fauna langka dan dilindungi; dan mempunyai kemendesakan yang tinggi terkait dampak negatif pada lingkungan sekitarnya; serta mempunyai konektifitas dengan hutan utuh dan kawasan konservasi. Areal RE juga harus merupakan areal yang kompak, tidak terpencil dan memiliki akses yang memadai, dengan potensi konflik yang dapat diatasi.


Posted by Rizda - 12:00 am, 25. March 2014 - 1353 klik

Training for Integrating Ecosystem Services Into Development Planning: Litbang Kehutanan Diharapkan Dapat Mendorong Pemda Melaksanakan Pembangunan Hijau

Puskonser (Bogor, 24/03/2014)_Pada 17-21 Maret 2014 lalu, Forests and Climate Change Programme (FORCLIME PN 2012.2485.6), sebuah lembaga kerjasama Pemerintah Jerman dan Indonesia tentang hutan dan perubahan iklim menyelenggarakan Training for Integrating Ecosystem Services (IES) Into Development Planning.

Kegiatan ini diikuti berbagai instansi maupun lembaga terkait, salah satunya Badan Litbang Kehutanan. Selama training, peserta terlibat aktif mempraktekkan semua materi yang diberikan dengan simulasi pada sebuah negara dan provinsi model yang memiliki kemiripan dengan kondisi Indonesia.

Dalam simulasi tersebut, para peserta memerankan berbagai peran seperti dalam sebuah negara, antara lain pemerintah, parlemen, pengusaha, masyarakat adat, petani dan ahli lingkungan. Setelah itu, semua peserta kembali pada peran aslinya dan diminta membuat rencana “apa yang akan dilakukan pasca training” dan semua peserta dipersilahkan memilih rencana siapa yang akan didukung.


Posted by Rizda - 12:00 am, 15. March 2014 - 4214 klik

Kementerian Kehutanan Luncurkan Hasil Kajian Badan Litbang Kehutanan tentang Pendugaan Biomassa & Perhitungan Emisi Karbon Hutan di Provinsi Percontohan REDD+ Kalimantan Tengah

Peluncuran Hasil Kajian dan Analisa Perhitungan Emisi Karbon di KaltengFORDA (Jakarta, 14/03/2014)_Kementerian Kehutanan luncurkan pendugaan biomassa dan perhitungan emisi karbon hutan di provinsi percontohan REDD+ Kalimantan Tengah, hasil kajian Badan Litbang Kehutanan di Ruang Rapat Utama Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis (13/03). 

Pernyataan peluncuran hasil kajian dan analisa Peneliti Badan Litbang Kehutanan yang didukung berbagai pihak ini disampaikan oleh Dr. Ing. Ir. Hadi Daryanto., D.E.A., Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan mewakili Menteri Kehutanan di hadapan lebih dari 100 undangan dari berbagai kalangan, baik instansi pemerintah maupun swasta yang terkait, Kedutaan Besar Australia, Timsus REDD, LSM (dalam dan luar negeri), akademisi dan media.

“Dengan rasa bangga, hari ini kita mendapatkan lagi hal yang bagus dari personil kita yang berkualitas, memang ahli di bidangnya dari Badan Litbang Kehutanan,” kata Hadi yang berharap hasil kajian ini dapat membuka peluang bagi isu emisi gas rumah kaca dari deforestasi untuk segera ditangani.

Hal ini menegaskan kembali apa yang disampaikan Dr. Ir. Putera Phartama, M.Sc, Plt. Kepala Badan Litbang Kehutanan dalam laporannya di awal acara bahwa hasil kajian yang terangkum pada publikasi: Pendugaan Biomassa Hutan untuk Perhitungan emisi CO2 di Kalteng: Sebuah Pendekatan Komprehensif dalam Menentukan Karbon; dan Perkiraan Sementara Emisi CO2 di Kalteng ini sangat penting dan mendasar terkait implementasi REDD+ ke depan.


Posted by priyo - 12:00 am, 13. March 2014 - 1669 klik

Peningkatan Kapasitas Penilaian Sumberdaya Hutan Mendukung Percepatan Realisasi PDB/PDRB Lestari Sektor Kehutanan

FORDA (Jakarta, 12/02/2014)_Selama tahun 1999-2010, data BPS menunjukkan kontribusi sub sektor kehutanan terhadap PDB rata-rata per tahun adalah 0.94% atas dasar harga yang berlaku atau 1.01 % menurut harga konstan tahun 2000. Kecenderungan mengecilnya kontribusi sub sektor kehutanan ini disebabkan karena kebijakan penilaian sumberdaya sumberdaya hutan selama ini hanya menilai sisi tangible dan bersifat potensial saja (kayu, produk kayu, rotan, getah).

Ada nilai guna tak langsung (intangible) dari hutan dalam mengurangi kerugian lingkungan yang tidak diperhitungkan, meskipun sudah ada payung hukumnya yaitu Permen KLH No. 15 tahun 2012 tentang Panduan Valuasi Ekonomi Ekosistem Hutan;  Permenhut No. P 58/MENHUT-II/2005 tentang penyusunan PDRB-Hijau sektor Kehutanan sebagai kegiatan pokok penyusunan rencana kehutanan, dan  Peraturan Presiden No.7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2000-2009, dimana konsep PDRB-Hijau sudah eksplisit dijelaskan.

Persoalan yang mendasar adalah, setelah dipahami bahwa kontribusi kehutanan yang selama ini digunakan adalah tidak tepat (memerlukan koreksi mendasar untuk justifikasi) tetapi sampai saat ini (masih) belum diimplementasikan secara konkrit, baik dalam scope regional, maupun nasional. Hal tersebut mengemuka dalam workshop nasional Penguatan Kapasitas, Kemampuan dan Penguasaan Iptek dalam Penilaian Sumberdaya Hutan di Hotel Ibis, Jakarta, pada tanggal 11-12 Maret 2014.