KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda - 12:00 am, 13. February 2014 - 1919 klik

Kuasai Teknik Konservasi Cendana, BPK Kupang Siap Dukung Master Plan Pengembangan dan Pelestarian Cendana di NTT

Teknik Konservasi Cendana-BPK KupangBPK Kupang (10/02/2014)_Pepatah "sudah gaharu cendana pula" sepertinya dapat menggambarkan bahwa kedua komoditi kehutanan ini begitu populer di Indonesia. Cendana (Santalum album L.) adalah jenis tanaman yang tergolong sangat penting di Provinsi Nusa Tengara Timur (NTT) karena mempunyai nilai ekonomi tinggi dan merupakan species endemik yang terbaik di dunia.

Species cendana di NTT mempunyai keunggulan kadar minyak dan produksi kayu teras yang tinggi. Kayu cendana menghasilkan minyak atsiri dengan aroma yang harum dan banyak digemari, sehingga mempunyai nilai pasar yang cukup baik. Hanya saja, cendana termasuk spesies yang sulit dibudidayakan.

Terkait itu, sejak satu dekade terakhir, Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Kupang, salah satu UPT Badan Litbang Kehutanan yang concern terhadap jenis-jenis tanaman di wilayah semi arid, telah mengembangkan berbagai penelitian cendana, khususnya aspek budidayanya. Sampai akhir tahun 2013, BPK Kupang telah menghasilkan beberapa luaran teknik budidaya tanaman cendana yang meliputi teknik eksplorasi benih, teknik persemaian, teknik regenerasi tunas akar, teknik penanaman, serta penanggulangan hama dan penyakit.

Selain itu, BPK Kupang telah berhasil mengembangkan sistem informasi untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk penanaman cendana di bumi Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor -nama pulau besar di NTT-red).

Tahun 2010 riset tentang cendana telah menghasilkan data dan informasi tentang ekologi dan habitat sebaran cendana di Pulau Timor. Penelitian ini mengungkapkan  bahwa masih terdapat potensi cendana dan sumber benih untuk pengembangan cendana. Diinformasikan juga, pertumbuhan semai dan sapihan cendana dengan naungan ringan tumbuh lebih baik daripada naungan sedang atau berat. Sebaliknya pada tingkat tiang dan pohon, cendana akan tumbuh lebih baik pada naungan sedang atau berat.

Dalam rangka menjaga kualitas genetik dari tanaman cendana, tahun 2011 BPK Kupang juga telah memiliki Demplot Konservasi Sumberdaya Genetik (KSDG) dengan populasi Oelbubuk, Hanubenak dan populasi dari Thailand. Dipimpin oleh Sumardi, Peneliti Muda lulusan Master of Science Fakultas kehutanan Universitas Gajah Mada, November 2012, BPK Kupang telah membangun plot uji keturunan generasi pertama (F-1) seluas 2,8 ha yang terdiri dari 65 famili, 3 treeplot, dan 5 blok sebagai ulangan, dari sebanyak 79 famili yang berhasil dikumpulkan pada saat eksplorasi materi.


Posted by Rizda - 12:00 am, 10. February 2014 - 1259 klik

Berita Kehutanan Kalimantan (Bekantan) Terbit Perdana

Bekantan volume 1 nomor 1 tahun 2013BPK Banjarbaru (10/02/2014)_Setelah sekian lama menghilang, Bekantan terbit lagi, tapi dalam kemasan yang berbeda. Berita Kehutanan Kalimantan yang disingkat Bekantan awalnya merupakan tabloid Balai Teknologi Reboisasi (nama Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru pada masa itu). Sekarang Bekantan terbit dalam bentuk majalah dengan bahasan yang lebih padat dan tampilan yang lebih menarik.

Berbicara mengenai Bekantan, sebenarnya Bekantan atau Nasalis larvatus adalah sejenis primata berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis. Binatang yang merupakan maskot fauna Propinsi Kalimantan Selatan ini hidup di pulau Kalimantan di hutan bakau, rawa dan pantai. Identik dengan Bekantan, majalah ini diharapkan dapat menjadi majalah populer dan aktual yang mengangkat pembangunan kehutanan khususnya di Kalimantan. 

Dalam terbitan perdana kali ini, Bekantan mengangkat KPH sebagai tajuk utamanya. KPH diharapkan menjadi benteng terakhir kehutanan di Indonesia, yang saat ini kondisinya tak kunjung membaik akibat praktek pengelolaan hutan yang tidak tepat. Selain itu diulas pula beberapa peluang menguntungkan yang timbul dengan menerapkan pengelolaan hutan berbasis KPH.

Rubrik profil menampilkan rimbawan senior founding father BPK Banjarbaru, Ir. APS Sagala, yang begitu konsern dengan pengelolaan hutan yang lestari. Hasil-hasil penelitian yang inovatif dan aplikatif, dituangkan dalam rubrik artikel. Rona kekayaan alam khas Kalimantan mendapat tempat dalam rubrik lansekap yang kali ini akan bercerita tentang pengelolaan KHDTK Tumbang Nusa. Bekantan juga menyediakan rubrik khusus yang mengulas pengenalan jenis tanaman khas Kalimantan dan rubrik-rubrik lain yang dikemas secara menarik bagi pembaca sekalian. Selamat menikmati persembahan perdana dari Majalah Bekantan BPK Banjarbaru. (TSH)***


Posted by Rizda - 12:00 am, 05. February 2014 - 1293 klik

Badan Litbang Kehutanan Berkontribusi dalam Konferensi Nasional Konservasi Macan Tutul Jawa

Konferensi Nasional Konservasi Macan Tutul JawaFORDA (Bogor, 05/02/2014)_Badan Litbang Kehutanan bersama 29 Deklarator lainnya menandatangani Deklarasi Forum Komunikasi Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas), Kamis (30/1). Deklarasi tersebut merupakan salah satu hasil Konferensi Nasional Konservasi Macan Tutul Jawa yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Satwaliar Indonesia (FOKSI) di Taman Safari Infonesia, Cisarua, Bogor tanggal 29-30 Januari 2014.

Konferensi yang merupakan bentuk kepedulian para aktivis lingkungan, peneliti dan akademisi terhadap nasib macan tutul Jawa ini dibuka oleh Menteri Kehutanan, Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM. Dalam sambutannya, Menhut menyatakan bahwa upaya penyelamatan Macan Tutul Jawa menuntut keterlibatan semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, NGOs dan masyarakat secara keseluruhan.

“Ini adalah satwa kekayaan alam yang luar biasa, yang harus kita lestarikan,“ kata Zulkifli, Selasa (29/01). Untuk itu, Menhut menyambut baik konferensi ini dan berharap agar para peserta konferensi ini dapat merumuskan langkah konkrit yang bisa dilakukan guna konservasi macan tutul Jawa.

“Kita telah kehilangan salah satu satwa kharismatik Jawa, yaitu Harimau Jawa (Panther tigris sondaica) dan kita tidak ingin hal yang sama terjadi pada Macan Tutul Jawa,“ lanjut Zulkifli.

Terkait itu, Dr. Hendra Gunawan, Peneliti Utama Konservasi Sumberdaya Hutan yang hadir mewakili Badan Litbang Kehutanan sebagai deklarator dan narasumber pada konferesi tersebut menyampaikan bahwa saat ini status satwa dilindungi endemik Pulau Jawa ini kritis, hanya tersisa sekitar 500 ekor yang tersebar di Pulau Jawa, P. Nusakambangan, P. Sempu dan P. Kangean.


Posted by Rizda - 12:00 am, 28. January 2014 - 1172 klik

Proyek KIPCCF di Lombok Berakhir, Badan Litbang Kehutanan Verifikasi Asetnya untuk Dihibahkan Kepada Pemerintah Daerah Setempat

Verifikasi Aset KIPCCFBPT HHBK (Lombok, 25/01/2014)_Pemerintah Korea telah lama menjalin kerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam berbagai bidang, termasuk kehutanan. Salah satu kerjasama yang dilakukan adalah proyek KIPCCF (Korea-Indonesia Joint Project for Adaptation and Mitigation of Climate Change in Forestry) yang “lahir” karena mendesaknya respon terhadap masalah-masalah perubahan iklim dan pentingnya peran sektor kehutanan.

Pada kerjasama yang berlangsung sejak tahun 2009 sampai 2013 ini, Badan Litbang Kehutanan mewakili Kementerian Kehutanan ditugasi sebagai badan pelaksana (excuting agency) bersama-sama dengan KOICA.

Proyek yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini, kegiatan utamanya adalah pembangunan hutan tanaman untuk mitigasi perubahan iklim dengan mekanisme CDM di Desa Sekaroh, Jerowaru, Lombok Timur, dan fasilitasi serta peningkatan kapasitas dan kelembagaan kelompok-kelompok masyarakat peserta HKm di kawasan hutan Batu Keliang Utara, Lombok Tengah untuk mekanisme REDD+.

Menurut Dr. Ir. Chairil Anwar Siregar, ProjecLeader kerjasama ini, pemilihan lokasi untuk mekanisme CDM tersebut berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, yaitu 1) terdapat tekanan pada sector kehutanan khususnya adanya deforestasi dan degradasi karena adanya pembangunan di tingkat lokal dan kegiatan pertanian; 2) batas wilayah yang jelas dan bebas dari konflik dan ; 3) adanya dukungan dan kerjasama dengan sektor terkait (pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat).


Posted by Rizda - 12:00 am, 24. January 2014 - 1989 klik

Swara Samboja: Keanekaragaman Hayati

Swara Samboja: Keanekaragaman HayatiBalitek KSDA (Samboja, 24/01/2014)_Tantangan konservasi akan semakin berat. Nampaknya konservasi akan berhasil hanya apabila menggunakan pendekatan yang realistis. Konservasi tidak boleh menjadi pemikiran yang menggantung di langit-langit, namun perlu menjadi gerakan bersama masyarakat yang terarah. Pemikiran akan memiliki daya gerak terhadap masyarakat luas jikalau dapat dipahami dan memiliki manfaat nyata.

Dengan demikian bahasa konservasi juga membutuhkan bahasa yang praktis dan populis. Dalam dialektika negatif juga dapat dikatakan bahwa masyarakat luas akan tergerak apabila dampak negatif dari mengabaikan konservasi akan berakibat langsung dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kita tahu dan sadar alangkah beranekaragamnya makhluk hidup yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa dan "ditempatkan” di bumi Indonesia. Negara dengan megaragam kehidupan, negara super biodiversitas, negara megabiodiversitas adalah label yang melekat dengan indah. Ya, kita adalah negara spesial, salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Namun pertanyaan pentingnya adalah apa yang kita lakukan dengan potensi besarnya itu?

Keragaman hayati telah memberikan manfaat langsungnya kepada umat manusia dalam nilai yang teramat besar, apalagi dengan aneka manfaat tidak langsungnya. Tanpa kehidupan hayati lain, jelas manusia tidak akan bisa bertahan. Kebutuhan akan “sandang-pangan-papan” hampir seluruhnya hanya bisa terpenuhi dari keragaman hayati yang disediakan oleh alam.


Posted by Rizda - 12:00 am, 22. January 2014 - 1320 klik

Kepala Badan Litbang Kehutanan Resmikan ASEAN - Republic of Korea Forest Cooperation (AFoCo) Regional Project

Peresmian AFoCo Regional ProjectFORDA (Jakarta, 22/01/2014)_Senin (20/01) di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Plt. Kepala Badan Litbang Kehutanan, Dr. I.B. Putera Phartama meresmikan ASEAN-Republic of Korea Forest Cooperation (AFoCo) Regional Project yang bertujuan untuk perbaikan penilaian sumberdaya hutan dan peningkatan keterlibatan masyarakat lokal dalam menghadapi kerugian akibat perubahan iklim.

Peresmian ini menyusul kesepakatan antara Indonesia dan delapan negara ASEAN lainnya dengan The Korea Forest Service-Republic of Korea dalam kerangka kerjasama AFoCo Regional Project Component 2: Capacity Building on Improving Forest Resources Assessment and Enhancing the Involvement of the Local Communities to Address the Adverse Impact of Climate Change.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan c.q. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (FORDA) menunjuk Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi di Bogor selaku Institusi Pelaksana yang selanjutnya membentuk AFoCo Regional Project Secretariat (ARPS) dalam pengelolaan kerjasama.

Dikoordinasi ARPS, program prioritas dan kegiatan akan dijalankan untuk mengatasi beberapa masalah dalam pengelolaan hutan. Program prioritas tersebut, seperti pengembangan penilaian sumberdaya hutan (Forest Resource Assessment/FRA) yang baik untuk perbaikan pengelolaan hutan, mendukung pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan dan kegiatan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.


Posted by Rizda - 12:00 am, 13. January 2014 - 1367 klik

Badan Litbang Kehutanan Konsolidasikan Pelaksanaan Kegiatan Tahun Anggaran 2014

Rapat Konsolidasi Kegiatan 2014FORDA (Bogor, 11/01/2014)_Setelah disahkannya DIPA 2014, mengawali tahun anggaran baru ini, Badan Litbang Kehutanan menyelenggarakan Rapat Konsolidasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Tahun 2014 di Hotel Ibis, Jakarta, Jumat (10/01).

Rapat yang dihadiri seluruh Kepala Satker lingkup Badan Litbang Kehutanan ini mengagendakan penandatangan kontrak kinerja Kepala Satker lingkup Badan Litbang Kehutanan dengan Kepala Badan Litbang Kehutanan, laporan pencapaian kinerja dan serapan anggaran Badan Litbang Kehutanan tahun 2013 oleh Sekretaris Badan Litbang kehutanan, dan penyampaian arahan Kepala Badan Litbang Kehutanan terkait pelaksanaan kegiatan dan anggaran 2014.

Selain itu, juga diadakan diskusi terkait capaian kinerja dan serapan anggaran 2013 dari semua UPT, hal-hal lain yang dianggap penting, dan arahan Pemantapan Pencapaian Kinerja 2014, serta diskusi Program Litbang 2015-2019 yang difasilitasi oleh Sekretaris Badan.

Pada rapat tersebut dilaporkan bahwa per 31 Desember 2013, realisasi anggaran Badan Litbang Kehutanan tahun 2013 adalah 95,55%, di atas rata-rata realisasi di Kementerian Kehutanan 90,92%. Dari realisasi tersebut telah dihasilkan output berupa terlaksananya 25 Rencana Penelitian Integratif (RPI), diseminasi + 116 events , terbitnya + 203 terbitan publikasi, dan terlaksananya pembangunan dan pengadaan sarana, serta 18 kerjasama (hibah).


Posted by Rizda - 12:00 am, 23. December 2013 - 1828 klik

Kontribusi Kerjasama Hibah Luar Negeri bagi Renstra Badan Litbang Kehutanan

Rapat Kerjasama HLN-2013FORDA (Bogor, 20/12/2013)_Pada tahun 2013, Badan Litbang Kehutanan dipercaya melaksanakan 18 kerjasama hibah luar negeri (HLN), antara lain dengan FCPF, KIPCCF, TBI, IAFCP, ACIAR, ITTO, AUSAID, KOMATSU, UNEP/GEF, ITTO, KFRI, SUMITOMO, dan KOICA.

Untuk mengetahui perkembangan kerjasama hibah tersebut, Sekretariat Badan Litbang Kehutanan menyelenggarakan pertemuan yang membahas Kontribusi Kerjasama Hibah dalam Mendukung Pencapaian Renstra Badan Litbang Kehutanan 2010–2014 dan Masukan bagi Penyusunan Renstra 2015-2019 di Bogor, Kamis (19/12).

Pada pertemuan ini, masing-masing Koordinator Proyek HLN tersebut mempresentasikan materinya yang dibagi dalam 3 sesi presentasi dan diskusi.

Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM dalam arahannya saat membuka pertemuan tersebut mengatakan bahwa dalam pemanfaatan hasil kerjasama, selama ini Badan Litbang telah mengupayakan agar hasil proyek dijadikan sebagai acuan maupun dasar dalam menyusun kebijakan dan pengambilan keputusan bagi Kementerian Kehutanan.

Hal tersebut sesuai dengan hakekat kerjasama hibah lingkup Badan Litbang Kehutanan yang dimaksudkan sebagai komplementer untuk mengisi gap dalam pencapaian IKU/IKK Kemenhut melalui Renstra Badan Litbang Kehutanan dengan 9 Program dan 25 Rencana Penelitian Integratif (RPI) yang ada di dalamnya.


Posted by Rizda - 12:00 am, 19. December 2013 - 1758 klik

Lampaui Target Pembangunan Sumber Benih 2014, Badan Litbang Kehutanan Fokus Menyusun Konsep Kebijakan Pengembangannya

Rakor Sumber Benih 2013-YogyaFORDA (Yogyakarta, 17/12/2013)_Akhir 2013 ini, pembangunan sumber benih di Badan Litbang Kehutanan telah melampaui target yang dicanangkan sampai 2014.

Demikian disampaikan Kepala Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), Dr. Ir. Amir Wardhana, M.For.Sc dalam laporan penyelenggaraannya pada Rapat Koordinasi Pembangunan Sumber Benih Badan Litbang Kehutanan Guna Mendukung Keberhasilan Pembangunan Kehutanan, Selasa (17/12) di Kaliurang, Yogyakarta.

Dari progres pembangunan sumber benih 3 tahun terakhir di 15 UPT Badan Litbang Kehutanan yang dilaporkan diketahui bahwa telah dibangun 115 unit sumber benih dari 77 unit yang ditargetkan sampai 2014 dengan 66 jenis tanaman dari 57 jenis yang ditargetkan. Selain itu, 31 unit sumber benih juga telah disertifikasi dari 30 unit yang ditargetkan dengan 23 jenis tanaman dari bermacam klasifikasi sumber benih, mulai dari Tegakan Benih Teridentifikasi (TBT) sampai Kebun Benih  Semai (KBS-F1 dan F2) seluas 5044,44 Ha.

Menyambut baik progres tersebut, Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM yang membuka Rakor ini menyampaikan bahwa Badan Litbang Kehutanan perlu menyusun konsep kebijakan pengembangan sumber benih sebagai tindak lanjutnya sesuai dengan maksud diselenggarakannya acara ini. Selain untuk mengetahui progres dan permasalahan pembangunan sumber benih pada masing-masing UPT, Rakor ini juga dimaksudkan untuk mendapatkan informasi potensi produksi benih pertahun dari masing-masing sumber benih yang bersertifikat dan rencana pemanfaatan benih unggulnya.


Posted by Rizda - 12:00 am, 12. December 2013 - 2112 klik

Pentingnya FKPWP dalam Mendukung Kebutuhan Penelitian dan Materi Penyuluhan bagi Masyarakat

FKPWP 2013FORDA (Bogor, 12/12/2013)_Dalam konteks penyelenggaraan pembangunan kehutanan berbasis pemberdayaan masyarakat, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan (BP2SDMK) bersama Badan Litbang Kehutanan memegang peranan penting melalui pewujudan SDM Kehutanan yang handal dan penguasaan IPTEK.

Untuk itu, sekitar 40 orang yang terdiri dari peneliti, widyaiswara dan penyuluh yang tergabung dalam Forum Komunikasi Peneliti, Widyaiswara dan Penyuluh Kehutanan (FKPWP) bertemu dan mengkomunikasikan “Peran FKPWP dalam Mendukung Kebutuhan Penelitian dan Materi Penyuluhan Bagi Masyarakat” di Bogor, 11-12 Desember 2013.

FKPWP berperan penting karena selain sebagai forum komunikasi para “selebritis” aparatur kehutanan, forum ini juga diharapkan menjadi salah satu sarana dalam upaya membangun jejaring kerja lintas organisasi Kemenhut. Selain itu, juga penting dalam mengkomunikasikan hasil penelitian yang berguna bagi masyarakat melalui widyaiswara (WI) dan penyuluh kehutanan. Demikian arahan Kepala BP2SDMK yang disampaikan Drs. Trisnu Danisworo, MS, Sekretaris BP2SDMK di Bogor (11/12).

“Tidak ada cara lain yang lebih ampuh untuk mengembangkan kapasitas masyarakat sekitar hutan agar mereka tahu, mau dan mampu menguasai IPTEK selain dengan membangun jejaring komunikasi, sinergitas dan penguatan kerjasama, baik di internal Kemenhut maupun di lingkup yang lebih luas, seperti pemerintah daerah, swasta dan NGO,” kata Trisnu membuka acara tersebut.