KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Editor - 12:00 am, 27. July 2013 - 1543 klik

Pengarusutamaan Inovasi Iptek Kehutanan untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Pembangunan Kehutanan Berkelanjutan

rakorFORDA (Bandung, 24/07/13)_”Pengarusutamaan Inovasi Iptek Kehutanan untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Pembangunan Kehutanan Berkelanjutan” adalah tema yang diangkat dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Badan Litbang Kehutanan Tahun 2013.

Harapannya melalui upaya mendorong inovasi iptek bidang kehutanan ke arah yang lebih tepat akan dapat mendukung pembangunan kehutanan lestari dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. “Sehingga tidaklah terlalu optimis Badan Litbang Kehutanan kita tempatkan sebagai rel, ibaratnya dari sebuah kereta atau lokomotif pembangunan kehutanan melalui pengarusutamaan iptek di Kementerian Kehutanan,” kata Ir. Tri Joko Mulyono, MM., Sekretaris Badan Litbang Kehutanan dalam laporannya di acara pembukaan rakornis di Bandung, Selasa (23/7).

Pengarusutamaan inovasi iptek merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi suatu institusi penelitian untuk memainkan peran dan fungsinya secara maksimal dalam mendukung kebijakan dan pembangunan. Iptek dan keahlian menjadi salah satu sumber competitive advantage yang sangat penting bagi suatu organisasi bahkan suatu bangsa, baik saat ini dan dimasa depan.

“Sebagai bangsa yang kaya, kita tidak boleh terlena dengan slogan bahwa Indonesia kaya raya dengan sumberdaya alamnya (comparative advantage) yang dapat mencukupi segala kebutuhannya untuk mencapai masyarakat sejahtera. Melainkan juga harus meningkatkan keunggulan kompetitifnya yaitu penguasaan iptek dan SDM-nya untuk menghadapi tantangan pembangunan kedepan,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, dalam arahan pembukaan rakornis (23/7).


Posted by Editor - 12:00 am, 04. July 2013 - 1811 klik

Mangrove Bukan Hutan Biasa

swara2-1Mangrove sang pengalir pesan

Ujung daun berselimut kristal berkilatan, menjurai di genangan payau

Kembang bersemu merah di sela biji menangkup angin, dalam daur yang menakjubkan

Mengayun  irama genangan ombak lirih, dalam juntaian akar-akar kehidupan

Kini hidupmu menghitung sisa, dalam  rancak julur-julur manusia...

Siapa sadari dalam rindu sepi itu....

Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga…

(”Menggiring Sunyi”, Denpasar Agustus 2008)

 

Balitek KSDA (04/07/13)_Tanaman mangrove adalah gambaran perjuangan hidup tumbuhan untuk bertahan dan berkembang di lingkungan yang keras, ekstrem dan tidak biasa. Misteri kemampuan ekosistem mangrove mengisi pertemuan dua wilayah utama kehidupan di bumi, yakni wilayah daratan (terrestrial) dan wilayah lautan (marine) selalu saja menggoda rasa penasaran terutama para peneliti. Air bergaram, lumpur yang anoksik dan anaerobik adalah lingkungan pengap kehidupannya. Ini pulalah yang menyebabkan mangrove mengembangkan dirinya baik secara fisiologis, anatomis maupun cara berkembangbiaknya untuk melewati hari-harinya di lingkungan yang khas, unik dan berat. Insting perjuangan hidup yang diberikan Tuhan pada setiap  makhluknya.


Posted by Editor - 12:00 am, 10. June 2013 - 2197 klik

Deklarasi Asosiasi Anatomi Kayu Indonesia: Babak Baru Kebangkitan Ilmu Anatomi Kayu di Indonesia

anatomiPustekolah (Bogor, 04/06/13)_Para peneliti dan ahli anatomi kayu dari berbagai instutisi di Indonesia mendeklarasikan pembentukan Asosiasi Anatomi Kayu Indonesia pada Senin (3/6) di Bogor. Deklarasi ini ditandatangani oleh perwakilan dari Badan Litbang Kehutanan, LIPI dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia yakni USU, IPB, ITB, UNWIM, UGM, UNPAD, UNMUL, UNHAS, UNHALU dan INTAN Yogyakarta. Dengan demikian, deklarasi ini merupakan babak baru kebangkitan ilmu anatomi kayu di Indonesia.

"Asosiasi ini merupakan wadah komunikasi dan kerjasama dalam bidang anatomi kayu," kata Dr. Putera Parthama, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah), pada acara Diskusi Litbang Anatomi Kayu Indonesia di IPB Convention Center Botani Square, Senin (3/6). Lebih lanjut Putera menjelaskan asosiasi ini sangat penting sebagai wadah koordinasi program dan pembinaan sumber daya profesional dalam litbang anatomi kayu, yakni sumber daya yang diperlukan untuk menyelesaikan pengenalan jenis kayu-kayu Indonesia secara tuntas.

Acara Diskusi Litbang Anatomi Kayu Indonesia tersebut bertujuan untuk meninjau hasil capaian penelitian selama ini dan merumuskan arah litbang anatomi kayu ke depan. Diskusi yang dihadiri oleh sekitar 30 ahli anatomi kayu di Indonesia ini juga dijadikan momen deklarasi asosiasi anatomiwan kayu Indonesia.

"Saya sangat senang dan bangga adanya dekalarasi ini, sehingga ada wadah komunikasi antara kami," kata Ir. Y.I. Mandang, ahli anatomi kayu dari Badan Litbang Kehutanan. Melalui wadah ini diharapkan hasil-hasil capaian penelitian anatomi dapat ditinjau bersama secara kontinyu untuk mempercepat penyelesaian penelitian semua jenis kayu Indonesia sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat.


Posted by Editor - 12:00 am, 21. May 2013 - 2581 klik

Gelar Teknologi Kehutanan 2013: Menggandeng Penyuluh untuk Komunikasikan IPTEK Kehutanan Kepada Pengguna

geltek2013FORDA (Kaliurang, 16/05/13)_Gelar Teknologi Kehutanan 2013 dilaksanakan terintegrasi dengan Jambore Nasional Penyuluh Kehutanan. Penyuluh sebagai salah satu ujung tombak pembangunan kehutanan, diharapkan dapat menjadi penyambung informasi iptek kehutanan yang efektif kepada para pengguna di lapangan.

Gelar teknologi merupakan bagian diseminasi hasil litbang kehutanan yang secara rutin diselenggarakan Badan Litbang Kehutanan. Tujuannya adalah untuk menyampaikan hasil penelitian yang sudah layak dikembangkan dan diimplementasikan kepada masyarakat pengguna. Khusus pada tahun 2013, kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari peringatan 100 tahun kelitbangan kehutanan Indonesia dan diintegrasikan dengan Jambore Nasional Penyuluh Kehutanan 2013.

“Gelar teknologi  2013 ini diintegrasikan dan disinergikan dengan jambore penyuluhan, sehingga hasil penelitian kehutanan dapat disebarkan melalui sistem komunikasi yang efektif,  melalui ujung tombak komunikasi yakni penyuluh kehutanan,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, saat memberikan sambutan pembukaan Gelar Teknologi Kehutanan 2013, di Kaliurang, Yogyakarta, Rabu (15/5). Sinergitas ini dimaksudkan untuk mendukung terwujudnya kesinambungan diseminasi hasil litbang kepada masyarakat pengguna melalui kegiatan penyuluhan.

“Kami minta kepada penyuluh agar menyebarluaskan hasil penelitian ini kepada masyarakat, termasuk juga kepada widyaiswara,  sehingga apa yang telah dihasilkan bisa dipergunakan dan bermanfaat,” tegas Iman.


Posted by Editor - 12:00 am, 08. May 2013 - 2701 klik

Teknologi Peningkatan Nilai Tambah Produk untuk Revitalisasi Industri Kehutanan

eksposePustekolah (Bogor, 08/05/13)_Peningkatan nilai tambah produk (added value) adalah salah satu strategi pokok dalam kebijakan nasional industri agro untuk mewujudkan revitalisasi industri kehutanan.  Untuk itu, diperlukan dukungan input teknologi yang mampu menghasilkan produk-produk turunan bernilai tinggi.

Industri hasil hutan merupakan salah satu industri agro, yang merupakan industri andalan masa depan. Industri agro ini didukung oleh sumber daya alam yang cukup potensial yang berasal dari sektor pertanian, perikanan/kelautan, peternakan, perkebunan dan kehutanan.

“Produk hasil hutan kita, harus diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, bukan lagi bahan mentah yang nilainya disandarkan pada volume,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, saat membuka Ekspose“Teknologi Peningkatan Nilai Tambah Hasil Hutan”, yang diselenggarakan Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) di IPB International Convention Center Botani Square, Bogor, Selasa (30/4).

Pengolahan hasil hutan Indonesia dari hulu ke hilir, harus didasarkan pada asas kelestarian, produktivitas yang tinggi, ramah lingkungan dan diolah menjadi produk-produk turunan yang bernilai tinggi. Hal lainnya adalah pengolahan dan pemanfaatan limbah, sehingga secara keseluruhan, proses produksi menjadi ramah lingkungan dan efisien. Hal itu sesungguhnya adalah tantangan terbesar para peneliti yang bergerak dalam bidang pengolahan hasil hutan. Karena penciptaan iptek dalam sisi ini, membutuhkan visi, sains, dan juga instrumen riset yang advance.


Posted by Editor - 12:00 am, 26. April 2013 - 2126 klik

Litbang, Penentu Masa Depan Kehutanan

prasastiFORDA (Bogor, 26/04/13)_Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan menghadapi tantangan yang besar, untuk menyediakan iptek yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan industri kehutanan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi, namun tetap sejalan dengan kelestarian lingkungan.

Hal itu dikemukakan oleh Menteri Kehutanan, Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE., Kamis (25/4) di Bogor, dalam sambutannya pada Open Days Kampus Litbang Kehutanan dalam rangkaian peringatan 100 tahun kelitbangan kehutanan di Indonesia.

“Yang akan menentukan masa depan kehutanan kita adalah Litbang,” kata Zulkifli. Masa depan kehutanan akan tergantung pada teknologi untuk mempercepat pengembangan kawasan dan pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan.

“Kalau seratus tahun yang lalu saja, pada zaman Belanda sudah memikirkan pentingnya lembaga ini, dimana tantangannya masih sederhana, kawasan hutan kita masih bagus sekali belum seperti sekarang ini, apalagi sekarang,” katanya.

Oleh karena itu, Zulkifli menyatakan akan mendukung penuh kegiatan litbang kehutanan di sisa masa jabatannya sebagai Menteri Kehutanan. “Apa yang menjadi kebutuhan dalam kegiatan litbang ini, saya akan dukung penuh,” tegasnya.


Posted by Editor - 12:00 am, 21. April 2013 - 2035 klik

Open Day Kampus Litbang Kehutanan Bogor

newsFORDA (Bogor, 22/04/13)_Dalam rangkaian peringatan 100 tahun penelitian kehutanan Indonesia, Badan Litbang Kehutanan akan menyelenggarakan Open Days Kampus Litbang Kehutanan di Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor pada 24 – 26 April 2013.

Open days ini diawali dengan Seminar “Application of Green Economy Strategy for Sustainable Forest Development pada Rabu (24/04). Seminar ini akan memaparkan dan membahas materi ekonomi hijau dari Badan Litbang Kehutanan, CIFOR, ICRAF dan Puslitbang Perhutani Cepu. Hasil seminar ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai green economy di sektor kehutanan. Target dari seminar ini di antaranya adanya rumusan posisi sektor kehutanan dalam Green Economy.

Di sektor  kehutanan, konsep green economy atau ekonomi hijau sudah diawali melalui berbagai kebijakan dan program pembangunan yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan. Di antaranya adalah upaya pemanfaatan optimalisasi lahan, moratorium konversi hutan alam, progam pelibatan dan pemberdayaan masyarakat, inisiasi skema  REDD+, pembalakan ramah lingkungan, penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Indonesia pada produk-produk hasil hutan,  inisiasi Payment Environment Services (PES), Corporate Social Respobility (CSR) dan kegiatan lainnya.

Seminar ini diselenggarakan Badan Litbang Kehutanan dalam rangka memperingati “100 tahun kelitbangan kehutanan Indonesia, yang bersamaan dengan perayaan 15 tahun Puslitbang Perum Perhutani; 20 tahun CIFOR; dan 30 tahun ICRAF.  

Open Days Kampus Litbang Kehutanan ini akan ditandai dengan kunjungan dan penandatangan prasasti 100 tahun oleh Menteri Kehutanan, di Kampus Litbang Kehutanan Bogor pada Kamis (25/04). Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman kerjasama Badan Litbang Kehutanan dengan CIFOR. Penandatangan tersebut akan disaksikan oleh para mitra dan pengguna hasil Badan Litbang Kehutanan, eselon I lingkup Kemenhut dan segenap unsur Badan Litbang Kehutanan.

Dalam kunjungan tersebut, Bapak Menteri akan dijadwalkan untuk berdialog dengan beberapa kelompok tani pengguna iptek kehutanan dan peneliti Badan Litbang Kehutanan. Dialog kemudian dilanjutkan dengan menyaksikan festival film riset Badan Litbang Kehutanan dan kunjungan ke beberapa fasilitas laboratorium Badan LItbang Kehutanan.

Di akhir acara open days, pada tanggal 26 April 2013 akan diselenggarakan Bedah Buku bertajuk “Perkembangan Konservasi di Indonesia”. Bedah buku ini diselenggarakan atas kerjasama Badan Litbang Kehutanan, Direktorat Kawasan Konservasi - PHKA, Tropenbos International (TBI) Indonesia Programme, dan Yayasan Operation Wallacea Trust (OWT).

 


Posted by Editor - 12:00 am, 20. April 2013 - 1465 klik

International Cooperative Biodiversity Group- ICBG 2009-2013: Capaian dan Pembelajaran

ICBGPuskonser (San Francisco, 23/03/13)_ Menjelang berakhirnya MoU International Cooperative Biodiversity Group- ICBG antara Indonesia dengan Amerika Serikat pada Mei 2013 mendatang, diselenggarakan annual meeting pada 19-22 Maret 2013 di University of California – Davis, USA.

International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) merupakan kerjasama penelitian antara Badan Litbang Kehutanan, LIPI, ITB dan University of California - Davis, USA, yang dibagi ke dalam empat program (Associate Program/AP).

Annual meeting tersebut bertujuan mengevaluasi capaian dan efektifitas kinerja serta dampak manfaat bagi para pihak yang terlibat dalam kerjasama dan merancang kemungkinan kerjasama berikutnya. Dalam pertemuan, dipaparkan dan didiskusikan hasil capaian dari setiap Associate Program/AP.

Pertemuan dilanjutkan dengan evaluasi dan revisi/amandemen MoU dan MTA (Material Transfer Agreement) oleh Advisory Board menyangkut prinsip kesetaraan, saling menguntungkan, transparansi dan pengendalian. Advisory Board beserta para peneliti kemudian melakukan brainstorming untuk menggagas kelanjutan kerjasama ICBG pasca berakhirnya MoU pada bulan Mei 2013.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh 4 advisory board Indonesia yakni Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan; Ir. Adi Susmianto, M.Sc, Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser); Dr. Nuramaliati Prijono, Deputi LIPI; dan Dr. Bambang Sunarko, Kepala Pusat Litbang Biologi-LIPI. Pertemuan tersebut juga dihadiri Konsulat Jenderal RI untuk San Francisco yakni  Asianto Sinambela.

Pertemuan ini dihadiri oleh peneliti terkait dari Indonesia, yakni Prof. Elizabeth A. Wijaya (LIPI) wakil dari AP1, Dr. Irnayuli Sitepu (FORDA)  dan Atit Kanti, M.Sc (LIPI) wakil dari AP2 dan Dr. Heddy Julistiono  dan Arif Nurkanto (LIPI) wakil dari AP3, serta Dr.Hendra Gunawan (FORDA) leader AP4 dan Prof. Eko Baroto co-leader AP4.

Kerjasama ICBG

International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) merupakan kerjasama penelitian antara Badan Litbang Kehutanan, LIPI, ITB dan University of California - Davis, USA, yang dibagi ke dalam empat program (Associate Program/AP) yaitu, AP-1 (survei keanekaragaman hayati), AP-2 (survei mikroba untuk menemukan solusi masalah energi), AP-3 (penelitian untuk menemukan solusi masalah kesehatan) dan AP-4  (peningkatan pengetahuan dan kepedulian masyarakat lokal untuk mendukung kelestarian keanekaragaman hayati).

Lokasi penelitian ICBG di lapangan adalah Pegunungan Mekongga yang terletak di wilayah Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, dan kawasan Papalia di Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi analisis laboratorium dilaksanakan di Puslit Mikrobiologi LIPI, Puslit Biologi LIPI, Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser), UC-Davis dan Gallo Clinic and Research Centre, Berkely.


Posted by Editor - 12:00 am, 05. April 2013 - 2049 klik

Seminar: Kerangka Kebijakan dan Peraturan untuk Pengelolaan Efektif Jenis Asing Invasif

mantanganPuskonser (Bogor, 28/03/13)_Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser) menyelenggarakan seminar dengan topik “Kerangka Kebijakan dan Peraturan untuk Pengelolaan Efektif Jenis Asing Invasif”, pada Rabu (20/3) di Bogor.

Seminar ini merupakan kerjasama antara Proyek GEF-UNEP (Global Environmental Facilities - United Nations Environment Programme)/CABI-Puskonser dengan SEAMEO BIOTROP.  Seminar diselenggarakan untuk melihat upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan dalam penanganan Jenis Asing Invasif (Invasive Alien Species/IAS), dan upaya mencegah kerusakan hutan akibat hama dan penyakit termasuk akibat dari serangan IAS tersebut.

Hal utama yang dikemukakan dalam seminar adalah mengenai sejauh mana kebijakan dan peraturan yang ada saat ini bisa memenuhi mandat yang tercantum dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity/CBD), artike 8 (h).  Seminar juga menyinggung kemungkinan kerjasama antara Kementerian Kehutanan melalui Puskonser dengan BIOTROP  agar pengelolaan dan peraturan nasional terkait IAS dapat berjalan secara efektif.

Dr. Junko Shimura dari Sekretariat CBD yang berkedudukan di Kanada, menyampaikan makalah utama tentang perkembangan proyek GEF-UNEP/CABI-Puskonser terkait Pengelolaan IAS.  Junko menekankan agar setiap negara yang telah meratifikasi CBD melakukan upaya nyata dalam menanggulangi kerusakan habitat dan ekosistem alami dari ancaman IAS.  Junko sangat tertarik untuk mengajak para pengambil keputusan untuk lebih memberikan perhatian dalam pencapaian target Aichi Biodiversity Target (target 9) dalam National Biodiversity Strategies and Action Plans (NBSAP) 2011 – 2020. 

Untuk itu mencapai target tersebut, Junko menekankan perlu dilakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana upaya pemerintah dalam menghadapi masalah IAS.  Upaya pengelolaan harus di dasari oleh pengetahuan yang cukup tentang sejarah masuknya IAS dan bagaimana menemukenali suatu jenis species baik hewan dan tumbuhan berpotensi menjadi invasif di tempat yang barunya.  

Evaluasi tersebut juga termasuk pada upaya pemerintah dalam mengarusutamakan biodiversitas, mempersiapkan kerangka peraturan terkait IAS dan penyusunan Strategi Nasional Pengelolaan IAS dan Rencana Aksinya.  Hal lain yang perlu diberi perhatiannya adalah kesadaran berbagai pihak tentang bahaya IAS dan bagaimana para pihak menyikapi hal ini.  Tentunya koordinasi harmonis antar sektor perlu dibangun termasuk pembangunan kapasitasnya.


Posted by Editor - 12:00 am, 11. March 2013 - 3452 klik

Menteri Kehutanan Meluncurkan Dimulainya Peringatan 100 Tahun Kelitbangan Kehutanan Indonesia

Peluncuran100FORDA (Bogor, 07/03/13)_Menteri Kehutanan meluncurkan dimulainya kegiatan Peringatan 100 Tahun Kelitbangan Kehutanan Indonesia, di Ruang Sudiarto Kampus Badan Litbang Kehutanan, Bogor pada hari Kamis (7/3). Peluncuran ini ditandai dengan pembacaan dan  penandatanganan pernyataan peluncuran.

Peluncuran ini tidak hanya sebagai tanda dimulainya kegiatan peringatan tersebut, melainkan sebagai dukungan untuk terus meningkatkan semangat berkarya serta pengabdian litbang kehutanan bagi pembangunan kehutanan di Indonesia.

Menteri Kehutanan, Dr (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM., mengharapkan agar Badan Litbang Kehutanan mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan kehutanan yang dihadapi saat ini. Litbang diharapkan mampu mengembangkan dan menunjang social enterpreneur. “Artinya betul-betul hasil litbang bisa diadop oleh masyarakat untuk menunjang kemakmuran dan kesejahteraan mereka,” katanya.

Tahun 2013 memiliki arti khusus bagi penelitian dan pengembangan kehutanan di Indonesia. Pada tahun ini, telah dicapai perjalanan seratus tahun kelitbangan kehutanan Indonesia sejak berdirinya Stasion Penelitian Kehutanan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1913.

Seratus tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Sudah sangat banyak kontribusi iptek kehutanan yang diberikan untuk pembangunan kehutanan berkelanjutan. Oleh karenanya, ditetapkan tema peringatan yakni “Satu Abad Litbang Berkarya untuk Kehutanan Indonesia”.

“Kita akan introspeksi, refleksi, kontemplasi 100 tahun itu apa saja yang sudah dikerjakan di Indonesia, kemudian 100 tahun ke depan,” jelas Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, Kamis (7/3) di sela-sela kunjungan Menteri Kehutanan tersebut. “Itu inti peringatan ini,” lanjutnya.

Kegiatan peringatan ini bertujuan untuk menampilkan capaian dan kontribusi litbang kehutanan dalam kurun waktu 100 tahun serta memperoleh kritikan, masukan dan harapan untuk peningkatan kinerja di masa mendatang. Peringatan ini akan dijadikan sebagai momentum untuk kontemplasi dan refleksi sejauh mana penelitian kehutanan sudah memberi manfaat kepada pembangunan sektor kehutanan dan sektor-sektor lain yang terkait. Peringatan ini juga menjadi penguat tekad untuk terus mendedikasikan iptek kehutanan terbaik bagi pengelolaan hutan Indonesia.