KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Editor - 12:00 am, 05. April 2013 - 1944 klik

Seminar: Kerangka Kebijakan dan Peraturan untuk Pengelolaan Efektif Jenis Asing Invasif

mantanganPuskonser (Bogor, 28/03/13)_Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser) menyelenggarakan seminar dengan topik “Kerangka Kebijakan dan Peraturan untuk Pengelolaan Efektif Jenis Asing Invasif”, pada Rabu (20/3) di Bogor.

Seminar ini merupakan kerjasama antara Proyek GEF-UNEP (Global Environmental Facilities - United Nations Environment Programme)/CABI-Puskonser dengan SEAMEO BIOTROP.  Seminar diselenggarakan untuk melihat upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan dalam penanganan Jenis Asing Invasif (Invasive Alien Species/IAS), dan upaya mencegah kerusakan hutan akibat hama dan penyakit termasuk akibat dari serangan IAS tersebut.

Hal utama yang dikemukakan dalam seminar adalah mengenai sejauh mana kebijakan dan peraturan yang ada saat ini bisa memenuhi mandat yang tercantum dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity/CBD), artike 8 (h).  Seminar juga menyinggung kemungkinan kerjasama antara Kementerian Kehutanan melalui Puskonser dengan BIOTROP  agar pengelolaan dan peraturan nasional terkait IAS dapat berjalan secara efektif.

Dr. Junko Shimura dari Sekretariat CBD yang berkedudukan di Kanada, menyampaikan makalah utama tentang perkembangan proyek GEF-UNEP/CABI-Puskonser terkait Pengelolaan IAS.  Junko menekankan agar setiap negara yang telah meratifikasi CBD melakukan upaya nyata dalam menanggulangi kerusakan habitat dan ekosistem alami dari ancaman IAS.  Junko sangat tertarik untuk mengajak para pengambil keputusan untuk lebih memberikan perhatian dalam pencapaian target Aichi Biodiversity Target (target 9) dalam National Biodiversity Strategies and Action Plans (NBSAP) 2011 – 2020. 

Untuk itu mencapai target tersebut, Junko menekankan perlu dilakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana upaya pemerintah dalam menghadapi masalah IAS.  Upaya pengelolaan harus di dasari oleh pengetahuan yang cukup tentang sejarah masuknya IAS dan bagaimana menemukenali suatu jenis species baik hewan dan tumbuhan berpotensi menjadi invasif di tempat yang barunya.  

Evaluasi tersebut juga termasuk pada upaya pemerintah dalam mengarusutamakan biodiversitas, mempersiapkan kerangka peraturan terkait IAS dan penyusunan Strategi Nasional Pengelolaan IAS dan Rencana Aksinya.  Hal lain yang perlu diberi perhatiannya adalah kesadaran berbagai pihak tentang bahaya IAS dan bagaimana para pihak menyikapi hal ini.  Tentunya koordinasi harmonis antar sektor perlu dibangun termasuk pembangunan kapasitasnya.


Posted by Editor - 12:00 am, 11. March 2013 - 3416 klik

Menteri Kehutanan Meluncurkan Dimulainya Peringatan 100 Tahun Kelitbangan Kehutanan Indonesia

Peluncuran100FORDA (Bogor, 07/03/13)_Menteri Kehutanan meluncurkan dimulainya kegiatan Peringatan 100 Tahun Kelitbangan Kehutanan Indonesia, di Ruang Sudiarto Kampus Badan Litbang Kehutanan, Bogor pada hari Kamis (7/3). Peluncuran ini ditandai dengan pembacaan dan  penandatanganan pernyataan peluncuran.

Peluncuran ini tidak hanya sebagai tanda dimulainya kegiatan peringatan tersebut, melainkan sebagai dukungan untuk terus meningkatkan semangat berkarya serta pengabdian litbang kehutanan bagi pembangunan kehutanan di Indonesia.

Menteri Kehutanan, Dr (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM., mengharapkan agar Badan Litbang Kehutanan mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan kehutanan yang dihadapi saat ini. Litbang diharapkan mampu mengembangkan dan menunjang social enterpreneur. “Artinya betul-betul hasil litbang bisa diadop oleh masyarakat untuk menunjang kemakmuran dan kesejahteraan mereka,” katanya.

Tahun 2013 memiliki arti khusus bagi penelitian dan pengembangan kehutanan di Indonesia. Pada tahun ini, telah dicapai perjalanan seratus tahun kelitbangan kehutanan Indonesia sejak berdirinya Stasion Penelitian Kehutanan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1913.

Seratus tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Sudah sangat banyak kontribusi iptek kehutanan yang diberikan untuk pembangunan kehutanan berkelanjutan. Oleh karenanya, ditetapkan tema peringatan yakni “Satu Abad Litbang Berkarya untuk Kehutanan Indonesia”.

“Kita akan introspeksi, refleksi, kontemplasi 100 tahun itu apa saja yang sudah dikerjakan di Indonesia, kemudian 100 tahun ke depan,” jelas Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, Kamis (7/3) di sela-sela kunjungan Menteri Kehutanan tersebut. “Itu inti peringatan ini,” lanjutnya.

Kegiatan peringatan ini bertujuan untuk menampilkan capaian dan kontribusi litbang kehutanan dalam kurun waktu 100 tahun serta memperoleh kritikan, masukan dan harapan untuk peningkatan kinerja di masa mendatang. Peringatan ini akan dijadikan sebagai momentum untuk kontemplasi dan refleksi sejauh mana penelitian kehutanan sudah memberi manfaat kepada pembangunan sektor kehutanan dan sektor-sektor lain yang terkait. Peringatan ini juga menjadi penguat tekad untuk terus mendedikasikan iptek kehutanan terbaik bagi pengelolaan hutan Indonesia.


Posted by Editor - 03:09 pm, 03. March 2013 - 4105 klik

PENELITI ONLINE: Pusat Informasi dan Layanan Fungsional Peneliti

FP-onlineFORDA (Bogor, 21/02)_Fungsional Peneliti (FP) Online ! adalah sarana yang disediakan sebagai pusat informasi dan layanan terkait fungsional peneliti yang dikelola oleh Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Peneliti (Pusbindiklat Peneliti), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sarana ini mencakup semua aspek terkait fungsional peneliti, meliputi registrasi awal, pengisian data diri, pendidikan & pelatihan (registrasi, nilai, absensi, karya tulis ilmiah), angka kredit peneliti (pengajuan, pemasukan berkas, penilaian) serta komunikasi terkait dalam bentuk forum dan pesan internal.

“Ini dilatarbelakangi adanya keinginan untuk melakukan pelayanan lebih baik, cepat dan tersistematis, “papar Sutrisno Heru Sukoco, S.Si., Kepala Sub Bidang Akreditasi, Pusbindiklat LIPI, di Bogor Kamis (21/02) pada acara pembahasan database jabatan fungsional Badan Litbang Kehutanan (FORDA). LIPI sebagai instansi pembina jabatan fungsional peneliti,melalui Pusbindiklat Peneliti selalu berupaya meningkatkan layanan kepada para pemangku kepentingan utama.

FP-online, lanjut Sutrisno, juga merupakan wujud sebuah database peneliti seluruh Indonesia yang ditargetkan selalu uptodate. FP-online dibangun dengan tujuan:

  1. Menjamin hak pejabat fungsional peneliti mengetahui proses usulan penilaian dan penetapan angka kredit;
  2. Mendorong partisipasi dan peran aktif peneliti dalam proses pengusulan;
  3. Mewujudkan penyelenggaraan pelayanan publik yang transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan;
  4. Mengembangkan ilmu pengetahuan;
  5. Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan Badan Publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.

Peneliti dapat mulai menggunakan mengenal aplikasi ini di situs web LIPI http://tes.peneliti.lipi.go.id.  “Setelah peneliti paham dan data yang akan dimasukkan sudah valid, silakan menggunakan http://peneliti.lipi.go.id untuk mengupdate data peneliti,” jelas Sutrisno di akhir acara (21/02).


Posted by Editor - 06:51 am, 13. February 2013 - 1962 klik

Meningkatkan Nilai Tambah Hasil Hutan dengan Teknologi Pengolahan

forproPustekolah (Bogor, 08/02/13)_Teknologi pengolahan yang tepat akan meningkatkan nilai hasil hutan Indonesia, baik kayu, maupun non kayu. Input teknologi bisa diterapkan dari mulai tahap pemanenan, penyimpanan, dan tentu saja pengolahannya menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi sesuai dengan karakteristik hasil hutan tersebut.

Indonesia memiliki beragam Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang berpotensi memberikan sumbangsih bagi perekonomian masyarakat. Selama ini, banyak komoditas-komoditas HHBK diolah secara tradisional sehingga nilainya masih sangat rendah. Dengan input teknologi hasil penelitian yang tepat, dapat dilakukan berbagai analisa untuk mengidentifikasi sifat dan kandungan dasar, menentukan berbagai alternatif pemanfaatan, serta merekayasa teknologi pengolahan yang mampu meningkatkan nilai tambah berbagai komoditas HHBK.

Tengkawang misalnya, penelitian menunjukkan bahwa buah ini menghasilkan lemak yang memiliki sifat menyerupai lemak coklat, namun lebih ekonomis sehingga dapat diolah untuk berbagai bahan industri kosmetik, obat-obatan dan makanan.

Tekonologi peningkatan nilai hasil hutan inilah yang diangkat dalam buletin ilmiah FORPRO volume 1 nomor 2 yang diterbitkan oleh Puslitbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah). 

FORPRO edisi ini mengetengahkan berbagai artikel yang terkait dengan peningkatan nilai tambah HHBK seperti: Pemanfaatan buah tengkawang sebagai bahan industri lanjutan,  Kualitas minyak kayu putih dari Wasur Papua, Potensi beberapa hasil hutan bukan kayu sebagai bahan baku Biodiesel, dan  Energi organik dari batang sawit.


Posted by Editor - 12:00 am, 04. February 2013 - 2494 klik

Berdasarkan Riset, Pegunungan Mekongga Layak sebagai Kawasan Konservasi

mekonggaPuskonser (Bogor, 31/01/13)_International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) Indonesia menilai hutan lindung Pegunungan Mekongga di Sulawesi Tenggara secara ilmiah memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai kawasan hutan konservasi.  

Penilaian ini didasarkan pada kajian Tim Associate Program (AP)-4 ICBG terhadap hasil-hasil riset AP-1, AP-2 dan AP-3 serta kesesuaian dengan kriteria yang ditetapkan oleh peraturan perundangan yang ada.  Associate Program (AP)-4  memiliki tugas utama meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat lokal untuk mendukung kelestarian keanekaragaman hayati.

“Kalau kawasan Pegunungan Mekongga ini bisa menjadi kawasan konservasi, mungkin ini adalah kawasan konservasi pertama yang usulannya berdasarkan hasil riset,” kata Ir. Adi Susmianto, M.Sc., Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser) sekaligus Advisory Board ICBG, pada pembukaan Lokakarya Usulan Perubahan Fungsi Hutan Lindung Komplek Hutan Pegunungan Mekongga Menjadi Taman Nasional di Kendari, Selasa (22/01).

“Hampir semua kriteria untuk menjadi kawasan konservasi terpenuhi, yakni kriteria fisik wilayah, biologi, ekologi, hidrologi dan sosial ekonomi,” kata Dr. Hendra Gunawan, Peneliti Utama di Puskonser yang juga merupakan AP-4 Leader, di Kendari, Selasa (22/01).   

Lebih lanjut Dr. Hendra menyampaikan, secara akademik akan ditambahkan kajian tentang kearifan masyarakat di sekitar Mekongga. Tujuannya agar persepsi masyarakat dapat diakomodasi sebagai bagian dari pola manajemen penetapan dan pengelolaan kawasan.


Posted by Editor - 04:35 pm, 22. January 2013 - 1375 klik

Melestarikan Tanaman Hutan Berkhasiat Obat di Samboja

swara

 

BPTKSDA (Bogor, 22/01/13)­_Kalimantan sebagai salah satu sumber keanekaragaman hayati terbesar di Indonesia, memiliki beraneka potensi tanaman hutan berkhasiat obat (THBO).  Namun disisi lain, keanekaragaman hayati tersebut  mengalami ancaman baik dari aspek ekologi, ekonomi hingga budaya. Oleh karena itu, konservasi THBO merupakan langkah penting yang harus dilakukan.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan melalui Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) di Samboja, menyikapi serius ancaman terhadap kelestarian THBO tersebut.  Melalui Majalah Swara Samboja edisi ketiga 2012, Balitek KSDA Samboja menyajikan upaya yang mulai dilakukan untuk melestarikan khasanah THBO di Kalimantan.

Dengan memanfaatkan keberadaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja seluas 3.504 ha, Balitek KSDA mengembangkan plot konservasi THBO seluas 5 ha. Plot tersebut merupakan plot konservasi eksitu sekaligus insitu. Saat ini terdapat 58 jenis THBO pada plot konservasi THBO di KHDTK Samboja, baik yang berasal dari habitat aslinya (insitu) maupun yang berasal dari luar (eksitu). Jumlah jenis THBO tersebut akan terus bertambah melalui kegiatan penanaman jenis yang dikoleksi dari berbagai daerah di Kalimantan.


Posted by Editor - 08:35 am, 17. December 2012 - 1564 klik

Bedah Buku: Promosikan Hasil Litbang, Kenalkan Penulisnya

cover-bedahFORDA (Jakarta, 11/12/12)_Bedah buku merupakan kegiatan penting, selain mempromosikan hasil litbang, juga untuk memperkenalkan peneliti yang menulis buku tersebut.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan mempromosikan 4 buku iptek kehutanan karya penelitinya melalui bedah buku yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (11/12). Bedah buku ini merupakan salah satu bentuk lain diseminasi hasil litbang.

Ada dua hal yang dipromosikan Badan Litbang Kehutanan dalam bedah buku ini. “Pertama, mempromosikan iptek hasil litbang dalam bentuk buku, dan kedua mempromosikan teman-teman peneliti yangmenjadi penulis buku,” kata Ir. C. Nugroho S. Priyono, Kepala Bagian Evaluasi, Diseminasi dan Perpustakaan, saat menyampaikan laporan penyelenggaraan kegiatan, Selasa (11/12).

Terkait dengan peran Badan Litbang Kehutanan untuk mendukung terwujudnya pengelolaan hutan lestari, maka hasil-hasil litbang harus secara optimal dan efektif disampaikan kepada pengguna. “Isi buku yang berupa IPTEK hasil litbang harus efektif terkomunikasikan kepada pengguna, “ tegas Ir. Wisnu Prastowo, Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Selasa (11/12), saat membuka acara Bedah Buku IPTEK Hasil Litbang Kehutanan mewakili Kepala Badan Litbang Kehutanan.


Posted by Editor - 02:08 pm, 03. December 2012 - 1628 klik

Paten, Bukan Sekedar Melindungi Invensi Teknologi

PATENFORDA (Bogor, 03/12/12)_Paten, hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas invensinya dibidang teknologi sering hanya dipandang sebagai cara melindungi inventor terhadap penggunaan invensinya secara tidak sah atau tanpa ijin.

Bagi sebagian orang, hal tersebut dipandang bertentang dari prinsip berbagi yang diajarkan agama maupun aspek kemanusiaan. Bukankah ilmu akan lebih bermanfaat jika diketahui dan dimanfaatkan lebih banyak pihak ? Terlebih di sektor kehutanan yang berurusan dengan sumber daya alam dan lingkungan yang hampir selalu bersinggungan dengan masyarakat luas. Demikian dikemukakan oleh Dr. Putera Parthama, Kepala Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah), di Jakarta, Senin (26/11) lalu saat kegiatan promosi paten hasil invensi institusi yang dipimpinnya.

Namun, lanjut Putera, ada logika lain yang juga kuat mendorong setiap invensi sebaiknya dipatenkan. Jika invensi tersebut tidak dilindungi hak paten,  maka bisa saja dipatenkan oleh pihak tertentu. Apabila itu terjadi, maka teknologi yang bersangkutan bahkan menjadi milik eksklusif pihak tersebut, sehingga masyarakat luas justru tidak bisa memanfaatkan secara gratis. Oleh sebab itu, akhirnya memang lebih baik setiap invensi dipatenkan, terlebih yang dihasilkan dari dana APBN, sehingga dapat digunakan secara luas tanpa ada kekhawatiran tersebut. Mengenai royalti, selalu dapat diatur. ”Jika untuk diterapkan oleh masyarakat luas, royaltinya dapat ditetapkan nol rupiah,” katanya.

Selain dari sisi pemanfaatan hasil invensi seperti disinggung di atas, sebenarnya tujuan lain dari paten yang juga sangat penting adalah memberikan penghargaan dan pengakuan atas hasil karya, serta mendorong semangat kompetisi untuk terus menghasilkan karya-karya yang inovatif. 

Oleh karenanya, jumlah paten secara langsung dapat mempresentasikan pertumbuhan inovasi suatu negara. “Jumlah hak paten merupakan salah satu indikator kemajuan, perkembangan atau penguasaan teknologi suatu bangsa,” kata Putera. Negara-negara yang banyak menghasilkan paten, menurut Putera, akan menjadi penguasa teknologi dan pemimpin ekonomi dunia. 


Posted by Editor - 05:01 pm, 28. November 2012 - 1760 klik

Pertama Kali, Badan Litbang Kehutanan Promosikan Paten Hasil Invensi

prpmosiPustekolah (Jakarta, 26/11/12)_Badan Litbang Kehutanan untuk pertama kali mempromosikan hasil-hasil invensi teknologi yang telah bersertifikat paten kepada calon pengguna.

Sebanyak 4 (empat) paten yang diperkenalkan dan dipromosikan terdaftar atas nama Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan hasil Hutan (Pustekolah), Badan Litbang Kehutanan. Invensi yang dipromosikan meliputi teknologi produksi bahan bakar alternatif terbarukan, teknologi pemanfaatan limbah asap dari produksi arang, produk perekat kayu organik dari limbah kulit kayu dan perekayasaan alat pendukung pengelolaan hutan.

“Invensi teknologi yang kami sampaikan merupakan terobosan teknologi aplikatif dan ramah lingkungan, serta menunjukkan upaya pemanfaatan secara efisien hasil hutan Indonesia,” kata Dr. R. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan saat membuka acara Promosi Paten Pustekolah, di Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (26/11)

Lebih lanjut Iman mengharapkan agar hasil-hasil invensi ini dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan oleh masyarakat dan para pihak terkait. Pengambil kebijakan dan penyedia energi nasional, industri kehutanan dan HTI Akasia mangium, industri perekayasaan alat, industri makanan dan desinfektan, serta sektor pertanian dan perkebunan, adalah beberapa di antara para pihak terkait yang diharapkan dapat mengaplikasikan hasil invensi tersebut.


Posted by admin - 06:11 pm, 20. October 2012 - 1775 klik

Berbasis Kerakyatan dan Aplikatif, Karya Inovasi “Lestari Hutanku Terang Desaku” dalam INOTEK 2012

hunggulFORDA (Jakarta, 19/10/12)_Berbasis kerakyatan, aplikatif dan berdampak luas, adalah kriteria pemilihan karya inovasi dan teknologi untuk tampil dalam Pameran Inovasi dan Teknologi (Inotek) 2012.  “Mikrohidro: Lestari Hutanku Terang Desaku” karya Ir. Hunggul Yudono, M.Si., peneliti dari Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Makassar, terpilih untuk tampil dalam pameran itu bersama 8 karya lainnya dari 510 inovasi yang masuk dalam Buku 100 – 104 Inovasi Indonesia.  

Karya mikrohidro ini dianalisis memiliki dampak yang besar sekali ke masyarakat, terutama untuk desa-desa yang kekurangan listrik. “Daerah-daerah terpencil yang susah dijangkau dari PLN bisa menggunakan alat ini.” kata Feri Jainudin, Liaison Officer Business Innovation Center (BIC) di Jakarta, Jum’at (19/10), saat ditanya mengenai alasan terpilihnya karya Hunggul tersebut dalam Inotek 2012.

Lebih lanjut Feri menjelaskan, indikator utama tentunya berbasis kerakyatan dan sudah teraplikasi di masyarakat, baik skala kecil maupun skala besar. Karya-karya inovasi yang dipamerkan ini diantaranya telah mendapat penghargaan nasional dan internasional, mampu meningkatkan keekonomian masyarakat suatu daerah dan bahkan ada yang sudah diaplikasikan di luar negeri.

Selain karena konsepnya yang sudah diaplikasikan di masyarakat, mikrohidro ini juga dinilai ekonomis. Biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk listrik mikrohidro jauh lebih murah dibandingkan dengan genset dan PLN.

“Dengan genset masyarakat membayar iuran  sebesar 100 – 200 ribu per bulan, hanya untuk aliran listrik 4 jam sehari, dengan mikrohidro, mereka cukup membayar iuran sesuai kesepakatan kelompok, dan uangnya pun kembali ke kelompok untuk perawatan rutin dan upah operator,” jelas Hunggul saat ditemui pada Pameran Inotek 2012 di Plaza FX, Senayan Jakarta (19/10).