KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda - 12:00 am, 22. January 2014 - 1232 klik

Kepala Badan Litbang Kehutanan Resmikan ASEAN - Republic of Korea Forest Cooperation (AFoCo) Regional Project

Peresmian AFoCo Regional ProjectFORDA (Jakarta, 22/01/2014)_Senin (20/01) di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Plt. Kepala Badan Litbang Kehutanan, Dr. I.B. Putera Phartama meresmikan ASEAN-Republic of Korea Forest Cooperation (AFoCo) Regional Project yang bertujuan untuk perbaikan penilaian sumberdaya hutan dan peningkatan keterlibatan masyarakat lokal dalam menghadapi kerugian akibat perubahan iklim.

Peresmian ini menyusul kesepakatan antara Indonesia dan delapan negara ASEAN lainnya dengan The Korea Forest Service-Republic of Korea dalam kerangka kerjasama AFoCo Regional Project Component 2: Capacity Building on Improving Forest Resources Assessment and Enhancing the Involvement of the Local Communities to Address the Adverse Impact of Climate Change.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan c.q. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (FORDA) menunjuk Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi di Bogor selaku Institusi Pelaksana yang selanjutnya membentuk AFoCo Regional Project Secretariat (ARPS) dalam pengelolaan kerjasama.

Dikoordinasi ARPS, program prioritas dan kegiatan akan dijalankan untuk mengatasi beberapa masalah dalam pengelolaan hutan. Program prioritas tersebut, seperti pengembangan penilaian sumberdaya hutan (Forest Resource Assessment/FRA) yang baik untuk perbaikan pengelolaan hutan, mendukung pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan dan kegiatan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.


Posted by Rizda - 12:00 am, 13. January 2014 - 1305 klik

Badan Litbang Kehutanan Konsolidasikan Pelaksanaan Kegiatan Tahun Anggaran 2014

Rapat Konsolidasi Kegiatan 2014FORDA (Bogor, 11/01/2014)_Setelah disahkannya DIPA 2014, mengawali tahun anggaran baru ini, Badan Litbang Kehutanan menyelenggarakan Rapat Konsolidasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Tahun 2014 di Hotel Ibis, Jakarta, Jumat (10/01).

Rapat yang dihadiri seluruh Kepala Satker lingkup Badan Litbang Kehutanan ini mengagendakan penandatangan kontrak kinerja Kepala Satker lingkup Badan Litbang Kehutanan dengan Kepala Badan Litbang Kehutanan, laporan pencapaian kinerja dan serapan anggaran Badan Litbang Kehutanan tahun 2013 oleh Sekretaris Badan Litbang kehutanan, dan penyampaian arahan Kepala Badan Litbang Kehutanan terkait pelaksanaan kegiatan dan anggaran 2014.

Selain itu, juga diadakan diskusi terkait capaian kinerja dan serapan anggaran 2013 dari semua UPT, hal-hal lain yang dianggap penting, dan arahan Pemantapan Pencapaian Kinerja 2014, serta diskusi Program Litbang 2015-2019 yang difasilitasi oleh Sekretaris Badan.

Pada rapat tersebut dilaporkan bahwa per 31 Desember 2013, realisasi anggaran Badan Litbang Kehutanan tahun 2013 adalah 95,55%, di atas rata-rata realisasi di Kementerian Kehutanan 90,92%. Dari realisasi tersebut telah dihasilkan output berupa terlaksananya 25 Rencana Penelitian Integratif (RPI), diseminasi + 116 events , terbitnya + 203 terbitan publikasi, dan terlaksananya pembangunan dan pengadaan sarana, serta 18 kerjasama (hibah).


Posted by Rizda - 12:00 am, 23. December 2013 - 1718 klik

Kontribusi Kerjasama Hibah Luar Negeri bagi Renstra Badan Litbang Kehutanan

Rapat Kerjasama HLN-2013FORDA (Bogor, 20/12/2013)_Pada tahun 2013, Badan Litbang Kehutanan dipercaya melaksanakan 18 kerjasama hibah luar negeri (HLN), antara lain dengan FCPF, KIPCCF, TBI, IAFCP, ACIAR, ITTO, AUSAID, KOMATSU, UNEP/GEF, ITTO, KFRI, SUMITOMO, dan KOICA.

Untuk mengetahui perkembangan kerjasama hibah tersebut, Sekretariat Badan Litbang Kehutanan menyelenggarakan pertemuan yang membahas Kontribusi Kerjasama Hibah dalam Mendukung Pencapaian Renstra Badan Litbang Kehutanan 2010–2014 dan Masukan bagi Penyusunan Renstra 2015-2019 di Bogor, Kamis (19/12).

Pada pertemuan ini, masing-masing Koordinator Proyek HLN tersebut mempresentasikan materinya yang dibagi dalam 3 sesi presentasi dan diskusi.

Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM dalam arahannya saat membuka pertemuan tersebut mengatakan bahwa dalam pemanfaatan hasil kerjasama, selama ini Badan Litbang telah mengupayakan agar hasil proyek dijadikan sebagai acuan maupun dasar dalam menyusun kebijakan dan pengambilan keputusan bagi Kementerian Kehutanan.

Hal tersebut sesuai dengan hakekat kerjasama hibah lingkup Badan Litbang Kehutanan yang dimaksudkan sebagai komplementer untuk mengisi gap dalam pencapaian IKU/IKK Kemenhut melalui Renstra Badan Litbang Kehutanan dengan 9 Program dan 25 Rencana Penelitian Integratif (RPI) yang ada di dalamnya.


Posted by Rizda - 12:00 am, 19. December 2013 - 1678 klik

Lampaui Target Pembangunan Sumber Benih 2014, Badan Litbang Kehutanan Fokus Menyusun Konsep Kebijakan Pengembangannya

Rakor Sumber Benih 2013-YogyaFORDA (Yogyakarta, 17/12/2013)_Akhir 2013 ini, pembangunan sumber benih di Badan Litbang Kehutanan telah melampaui target yang dicanangkan sampai 2014.

Demikian disampaikan Kepala Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), Dr. Ir. Amir Wardhana, M.For.Sc dalam laporan penyelenggaraannya pada Rapat Koordinasi Pembangunan Sumber Benih Badan Litbang Kehutanan Guna Mendukung Keberhasilan Pembangunan Kehutanan, Selasa (17/12) di Kaliurang, Yogyakarta.

Dari progres pembangunan sumber benih 3 tahun terakhir di 15 UPT Badan Litbang Kehutanan yang dilaporkan diketahui bahwa telah dibangun 115 unit sumber benih dari 77 unit yang ditargetkan sampai 2014 dengan 66 jenis tanaman dari 57 jenis yang ditargetkan. Selain itu, 31 unit sumber benih juga telah disertifikasi dari 30 unit yang ditargetkan dengan 23 jenis tanaman dari bermacam klasifikasi sumber benih, mulai dari Tegakan Benih Teridentifikasi (TBT) sampai Kebun Benih  Semai (KBS-F1 dan F2) seluas 5044,44 Ha.

Menyambut baik progres tersebut, Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM yang membuka Rakor ini menyampaikan bahwa Badan Litbang Kehutanan perlu menyusun konsep kebijakan pengembangan sumber benih sebagai tindak lanjutnya sesuai dengan maksud diselenggarakannya acara ini. Selain untuk mengetahui progres dan permasalahan pembangunan sumber benih pada masing-masing UPT, Rakor ini juga dimaksudkan untuk mendapatkan informasi potensi produksi benih pertahun dari masing-masing sumber benih yang bersertifikat dan rencana pemanfaatan benih unggulnya.


Posted by Rizda - 12:00 am, 12. December 2013 - 2000 klik

Pentingnya FKPWP dalam Mendukung Kebutuhan Penelitian dan Materi Penyuluhan bagi Masyarakat

FKPWP 2013FORDA (Bogor, 12/12/2013)_Dalam konteks penyelenggaraan pembangunan kehutanan berbasis pemberdayaan masyarakat, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan (BP2SDMK) bersama Badan Litbang Kehutanan memegang peranan penting melalui pewujudan SDM Kehutanan yang handal dan penguasaan IPTEK.

Untuk itu, sekitar 40 orang yang terdiri dari peneliti, widyaiswara dan penyuluh yang tergabung dalam Forum Komunikasi Peneliti, Widyaiswara dan Penyuluh Kehutanan (FKPWP) bertemu dan mengkomunikasikan “Peran FKPWP dalam Mendukung Kebutuhan Penelitian dan Materi Penyuluhan Bagi Masyarakat” di Bogor, 11-12 Desember 2013.

FKPWP berperan penting karena selain sebagai forum komunikasi para “selebritis” aparatur kehutanan, forum ini juga diharapkan menjadi salah satu sarana dalam upaya membangun jejaring kerja lintas organisasi Kemenhut. Selain itu, juga penting dalam mengkomunikasikan hasil penelitian yang berguna bagi masyarakat melalui widyaiswara (WI) dan penyuluh kehutanan. Demikian arahan Kepala BP2SDMK yang disampaikan Drs. Trisnu Danisworo, MS, Sekretaris BP2SDMK di Bogor (11/12).

“Tidak ada cara lain yang lebih ampuh untuk mengembangkan kapasitas masyarakat sekitar hutan agar mereka tahu, mau dan mampu menguasai IPTEK selain dengan membangun jejaring komunikasi, sinergitas dan penguatan kerjasama, baik di internal Kemenhut maupun di lingkup yang lebih luas, seperti pemerintah daerah, swasta dan NGO,” kata Trisnu membuka acara tersebut.


Posted by Rizda - 12:00 am, 27. November 2013 - 1520 klik

Meningkatkan Peringkat Webometrics, Website Badan Litbang Kehutanan Perlu Dukungan Seluruh UPT dan Peneliti

Penyegaran Perpustakaan WebometricsFORDA (Cisarua, 26/11/2013)_Menurut badan pemeringkatan lembaga riset dunia Webometrics, saat ini Badan Litbang Kehutanan berada pada peringkat 1033 dari 8000 lembaga riset dunia dan peringkat 5 nasional.

”Untuk itu diperlukan suatu strategi yang tepat dalam menaikkan ranking Badan Litbang Kehutanan dalam peringkat Webometrics,” kata Sekretaris Badan Penelitian Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM. dalam arahannya pada Penyegaran Perpustakaan Badan Litbang Kehutanan di Hotel Royal Safari Garden, Cisarua, Senin (25/11).

Terkait hal tersebut, Dr. Ir. Arif Iman Suroso, M.Sc, salah satu narasumber pada acara ini menyampaikan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peringkat Badan Litbang Kehutanan, antara lain dengan meningkatkan aktivitas forda-mof.org, website Badan Litbang Kehutanan. “Diperlukan peningkatan size, visibility, rich file dan scholar,” kata Arif. Keempat hal tersebut merupakan indikator dalam pemeringkatan lembaga penelitian oleh Webometrics.

Lebih lanjut Wakil Rektor IPB Bidang Komunikasi dan Bisnis tersebut menjelaskan tentang Webometrics.Webometrics merupakan lembaga pemeringkatan lembaga riset dunia yang dipelopori oleh Cybermetrics Lab, sebuah kelompok riset milik Badan Penelitian Publik terbesar di Spanyol yang bertujuan untuk mempromosikan publikasi melalui web. Pemeringkatan Webometrics bertujuan untuk mendukung Open Access Initiatives, akses terbuka terhadap publikasi ilmiah dalam bentuk elektronik.

Pemeringkatan lembaga penelitian  berdasarkan pengukuran banyaknya aktivitas dan dampak suatu institusi di internet. ”Motivasinya adalah institusi dan peneliti agar “hadir” dalam dunia web yang dapat merefleksikan aktivitas yang dilakukannya seakurat mungkin,” jelas Arif.


Posted by Rizda - 12:00 am, 20. November 2013 - 3042 klik

Menhut Launching Benih Unggul Hasil Penelitian Badan Litbang Kehutanan yang Benihnya Wajib Diambil dari Sumber Benih Bersertifikat

Sosialisasi PerbenihanFORDA (Jakarta, 18/11/13)_Salah satu faktor yang dapat menjamin keberhasilan pembangunan hutan tanaman untuk rehabilitasi hutan dan lahan adalah tersedianya benih berkualitas yang berasal dari sumber benih bersertifikat. Karena itulah, baru-baru ini Menteri Kehutanan melaunching 5 jenis benih unggul hasil penelitian Badan Litbang Kehutanan yang benihnya wajib diambil dari sumber benih bersertifikat, yaitu jati, mahoni, sengon, gmelina, dan jabon.

“Penentuan 5 jenis tanaman tersebut merupakan kesepakatan para pihak terkait perbenihan tanaman hutan pada beberapa lokakarya yang telah dilakukan, terakhir pada 12-14 Juni 2013 di Bali,” kata Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM, Menhut dalam sambutannya pada Sosialisasi SK. 707/Menhut-II/2013 tentang Penetapan 5 Jenis Tanaman Hutan yang Benihnya Wajib Diambil dari Sumber Benih Bersertifikat di Ruang Auditorium Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (15/11).

“Penetapan 5 jenis tanaman hutan yang wajib bersertifikat tersebut akan dijadikan acuan dalam setiap penggunaan benih pada pengadaan benih, pengedaran benih dan atau penanaman untuk kepentingan publik pada kawasan hutan dan atau tanah negara,” jelas Zulkifli.

Lebih lanjut Zulkifli menyampaikan beberapa pertimbangan dalam menetapkan keputusan tersebut adalah karena jumlah sumber benih bersertifikat untuk jenis tersebut dinilai telah mencukupi dan benihnya sudah tersedia di pasaran. Beberapa persyaratan agar keputusan ini dapat dilakukan secara efektif adalah terselenggaranya sertifikasi sumber benih, mutu benih dan mutu bibit oleh Balai Perbenihan Tanaman Hutan atau UPTD di bidang perbenihan tanaman hutan dan terselenggaranya tata usaha benih oleh pengada, pengedar benih/bibit dan pengawasan oleh petugas dinas kehutanan kabupaten/kota.


Posted by Rizda - 12:00 am, 19. November 2013 - 2887 klik

Reklamasi Hutan Bekas Tambang Batubara

Swara Samboja: Reklamasi Hutan Bekas Tambang BatubaraBalitek KSDA (Samboja, 19/11/13)_Apa yang kita dengar sebagai “bencana ekologis” mudah-mudahan tidak terjadi. Memang, perubahan paras alam Indonesia, masih memiriskan. Senandung “ijo royo royo” untuk menggambarkan alam yang kita miliki, tidak lagi pas dinisbatkan di beberapa wilayah. Kalimantan yang dulu hampir seluruhnya ditutupi oleh belantara yang sangat lebat, dengan aliran sungai-sungai besar yang jernih, kini di banyak tempat justru telah menjadi bopeng oleh aktivitas tambang terutama batubara. Memang, pembangunan yang berusaha memaksimalkan semua potensi ekonomi yang kita miliki adalah sah-sah saja, namun hendaknya dibarengi dengan tanggungjawab lingkungan yang kuat.

Sejatinya dalam dokumen perencanaan pertambangan, aktivitas pertambangan tidak boleh lepas dengan pemulihan pasca tambang termasuk rehabilitasinya. Namun realitas di lapangan justru memperlihatkan banyak danau-danau bekas tambang menganga, menjadi monumen ketidakbertanggungjawaban manusia terhadap kebaikan alam. Kerusakan ekologis yang masif pada akhirnya justru akan mengantarkan pada dampak sosial yang mendalam.  Paradoks kehidupan justru sering tergelar di sekitar eksploitasi  sumberdaya alam yang seharusnya memakmurkan, yakni kerusakan lingkungan yang berjalin dengan kemiskinan masyarakat.    

“Rehabilitasi tambang itu mahal”, kata pelaku tambang. Namun demikian mahalnya rehab tentu tidak boleh menjadi alasan pengingkaran tanggungjawab oleh sebagian perusahaan tambang. Terdorong oleh rasa tanggungjawab institusional itulah, maka peneliti BALITEK KSDA berpikir dan bekerja keras mencari teknologi rehabilitasi tambang yang mudah dan murah. 

“Kita bersinergi dengan alam” demikian  frase kunci teknologi yang telah diujicobakan BALITEK KSDA di lahan bekas tambang batubara di areal PT Singlurus Pratama Kalimantan Timur. Mulanya peneliti mengamati secara metodologis proses regenerasi alami hutan, dari kehadiran jenis pionir hingga jenisi-jenis yang hadir pada ekosistem hutan klimaks. Urutan itu yang jadi pijakan rekayasa penerapan di lapangan, termasuk cara mengundang satwa liar lewat teknik silvikultural. Hasilnya ternyata sangat menggembirakan, dan itulah yang akan kita bagikan dalam fokus utama Swara Samboja edisi kali ini.


Posted by Rizda - 12:00 am, 23. October 2013 - 1863 klik

One Map Policy: Momen Kebangkitan Penelitian Kehutanan Berbasis Informasi Geospasial

BIGFORDA (Bogor, 23/10/2013)_Badan Informasi Geospasial (BIG) meluncurkan referensi tunggal Informasi Geospasial (IG) nasional yang disebut Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI 2013), Kamis (17/10) di Hotel Shangri-La Jakarta. SRGI 2013 merupakan suatu sistem koordinat nasional yang konsisten dan kompatibel dengan sistem koordinat global.

SRGI 2013 merupakan tindak lanjut kebijakan satu peta (one map policy) yang dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Sidang Kabinet Paripurna pada tanggal 23 Desember 2010. Kebijakan tersebut menyatakan bahwa hanya ada satu peta yang menjadi rujukan nasional.

“Kebijakan ini sangat ditunggu oleh para praktisi yang bergerak di bidang spasial,” kata Ir. Tri Joko  Mulyono, MM., Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Selasa (22/10) saat dikonfirmasi melalui e-mail. “Permasalahan keberagaman ketersediaan Informasi Geospasial Dasar (IGD) sebagai referensi telah terpecahkan, sehingga perbedaan pemetaan oleh para pihak selama ini dapat diminimasi. Bagi Badan Litbang, IGD akan membantu kegiatan penelitian yang berbasis spasial,” lanjut Tri Joko.

Kegiatan penelitian kehutanan tidak terlepas dari kebutuhan IG. Ketersediaan data IG memudahkan peneliti untuk menampilkan secara visual kondisi di lapangan kepada publik. Selama ini, Badan Litbang Kehutanan telah menghasilkan berbagai Informasi Geospasial Tematik (IGT) (dahulu dikenal istilah peta tematik) hasil litbang kehutanan, antara lain kesesuian lahan, sebaran sumber benih, degradasi DAS, keanekaragaman hayati dan lain-lain. Dalam pembuatan IGT tersebut, diperlukan peta dasar (sekarang dikenal IGD) yang detil, mutakhir dan akurat. Kebijakan ini diharapkan ini bisa menjadi momen kebangkitan penelitian kehutanan berbasis IG.


Posted by Editor - 12:00 am, 27. August 2013 - 7157 klik

500 Peneliti Kehutanan Indonesia Mengkomunikasikan Hasil Riset di The 2nd INAFOR 2013

inaforFORDA (Jakarta, 27/08)_Sekitar 500 peneliti kehutanan Indonesia (Indonesia Forestry Reseacher/INAFOR) dan beberapa peneliti negara sahabat bertemu dan mengkomunikasikan hasil riset kehutanan dalam Konferensi Internasional INAFOR ke-2 tahun 2013 (The 2nd INAFOR 2013), pada Selasa (27/8) di Auditorium Manggala Wanabakti, Jakarta.

“Bagi para peneliti Kehutanan dari instansi lain yang mengikuti Konferensi Internasional INAFOR ke-2, saya berharap bahwa pertemuan puncak para peneliti kehutanan se-Indonesia dengan melibatkan pembicara asing ini dapat menjadi media tukar informasi hasil IPTEK,” kata Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM., Menteri Kehutanan dalam sambutannya pada konferensi tersebut di Auditorium Manggala Wanabakti Jakarta, Selasa (27/8).

“Melalui pertemuan semacam ini kita juga bisa mengetahui sejauh mana hasil karya kita dibandingkan dengan apa yang terjadi di negara-negara sahabat.  Hal ini diperlukan karena persoalan kehutanan, dibanyak hal, sangat terkait dengan persoalan global dan  internasional”.

Konferensi ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementeria Kehutanan, Dr. Hadi Daryanto, mewakili Menteri Kehutanan. Pembukaan The 2nd INAFOR 2013 ini dilaksanakan terintegrasi dengan puncak acara peringatan 100 tahun Kelitbangan Kehutanan Indonesia.


Ikut Kami