KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda - 12:00 am, 30. May 2014 - 1865 klik

Pengukuhan Forum Komunikasi Peneliti, Widyaiswara dan Penyuluh Kehutanan Provinsi Sumatera Utara (FKPWP Provsu)

Pengukuhan FKPwP SumutBPK Aek Nauli (P. Siantar, 28/05/2014)_Amanat Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 53 menyebutkan bahwa kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang), pendidikan dan pelatihan (diklat) dan penyuluhan merupakan tiga pilar dan pendukung kegiatan pembangunan kehutanan.

Dalam rangka memenuhi amanat undang-undang tersebut dan optimalisasi koordinasi antar instansi Litbang, Diklat dan Penyuluhan Kehutanan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan (BP2SDM), Dr. Tachrir Fathoni, M.Sc telah mengukuhkan Forum Komunikasi Peneliti, Widyaiswara dan Penyuluh Kehutanan Provinsi Sumatera Utara (FKPWP Provsu), Rabu (21/05) di Balai Diklat Kehutanan (BDK) Pematang Siantar.

Acara pengukuhan diawali penyampaian laporan Kepala BDK Pematang Siantar, Dr. Sumarlan, S.TP, M.Si yang menyampaikan bahwa sebelum FKPWP Provsu ini dikukuhkan, telah dilakukan dua kali pertemuan pra pembentukan yang dihadiri oleh perwakilan berbagai instansi yang terlibat.


Posted by Rizda - 12:00 am, 19. May 2014 - 1595 klik

Swara Samboja: Kemana Arah Penelitian Keanekaragaman Hayati Indonesia?

”If the bee disappeared of the surface of the globe then man would only have four years of life left. No more bees, no more pollination, no more plants, no more animals, no more man” -Albert Einstein

Balitek KSDA (Samboja, 18/05/2014)_Indonesia merupakan mega biodiversity country. Maka sangat tepat jika penelitian dan iptek berbasis sumber kekayaan alam ini terus digali dan diperdalam secara cermat dan dikembangkan secara optimal untuk mengatasi permasalahan pokok bangsa.

Sebagai lembaga riset, Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) berupaya maksimal mendukung pengelolaan sumberdaya keanekaragaman hayati menjadi nilai nyata yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Kedaulatan pangan, energi, obat-obatan adalah arah penting dari pemanfaatan keanekaragaan hayati yang kita miliki dan sejalan dengan muara tujuan pembangunan, yakni kesejahteraan masyarakat.

Fokus pada kemana arah penelitian keanekaragaman hayati Indonesia, Swara Samboja Vol. III No. 1 Tahun 2014 ini mengemukakan strategi penelitian bertajuk “Mengembangkan Penelitian Keanekaragaman Hayati” yang ditulis oleh Prof. Dr. Hadi S. Alikodra, Guru Besar Bidang Ekologi dan Satwa Liar, IPB. Selain itu, Tri Atmoko, Peneliti Balitek KSDA akan menambah wawasan kita dengan paparannya “Satwa sebagai Obyek Penelitian: Bioetika dan Pemanfaatannya”.


Posted by Rizda - 12:00 am, 13. May 2014 - 2540 klik

Kepala Badan Litbanghut: Menjawab Persoalan di Tingkat Tapak (KPH), Wujud Aksiologi Peneliti

Geltek KPH 2014FORDA (Bogor, 12/05/2014)_Menurut Kepala Badan Litbang Kehutanan, dalam menjalankan penelitiannya, peneliti harus bersifat aksiologi (filsafat ilmu: bagaimana manusia menggunakan ilmunya). Wujud aksiologi di sini mengandung makna bahwa peneliti dalam mengkonstruksikan penelitiannya wajib menjawab persoalan di tingkat tapak.

“Saya menganggap KPH sebagai wujud aksiologi,” kata Kepala Badan Litbang Kehutanan, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc dalam sambutannya saat membuka acara Geltek Hasil Litbang Kehutanan untuk Mendukung KPH di Ballroom IPB International Convention Center, Bogor, Senin (12/05).

Untuk itu, Kepala Badan Litbang Kehutanan yang baru dilantik pada Jumat (09/05) tersebut juga berharap peneliti dapat meningkatkan komunikasi dan tidak soliter. Menurutnya, apabila penelitian dibingkai dengan bagus maka akan menggambarkan apa yang sesungguhnya dihasilkan. Selain itu, perlu keseimbangan antara penelitian dan pengembangan.


Posted by Rizda - 12:00 am, 09. May 2014 - 2590 klik

Gelar IPTEK Hasil Litbang Kehutanan untuk Mendukung KPH

FORDA (Bogor, 09/05/2014)_Dalam rangka peningkatan kemanfaatan penerapan IPTEK Kehutanan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) serta upaya mendukung pengarusutamaan KPH sebagai prioritas pembangunan kehutanan, Badan Litbang Kehutanan berkerjasama dengan Dirjen Planologi Kehutanan dan Forests and Climate Change Programme - Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (FORCLIME-GIZ) menyelenggarakan Gelar IPTEK Hasil Litbang Kehutanan untuk mendukung KPH Tahun 2014, Senin (12/05).

Acara yang dilaksanakan di IPB International Convention Center (IICC), Botani Square Bogor ini bertujuan untuk mendekatkan, mentransformasikan dan meningkatkan pemanfaatan IPTEK yang dihasilkan Badan Litbang Kehutanan kepada para pengelola KPH, mendorong terwujudnya keberhasilan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan secara optimal dan lestari pada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta mendorong peningkatan interaksi dan kerjasama kemitraan, antara peneliti dan pengelola KPH.


Posted by Rizda - 12:00 am, 07. May 2014 - 1498 klik

SBY: Forest Asia Summit, Motivasi Bersama Menjaga Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Forest Asia Summit 2014

FORDA (Jakarta, 06/05/2014)_Dalam rangka membangun komitmen untuk pembangunan hijau, investasi berkelanjutan, penelitian terpadu, dan kerjasama lintas batas dengan komunikasi yang intensif terkait kehutanan di Asia Tenggara, Center for International Forestry Research (CIFOR) bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menyelenggarakan Forest Asia Summit di Hotel Shangri-La, Jakarta, 5-6 April 2014.

Membuka acara tersebut, Presiden Republik Indonesia, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut baik konferensi yang diikuti oleh 10 menteri negara anggota ASEAN, pejabat yang terlibat langsung di bidang kehutanan, peneliti, dan pengusaha, LSM lingkungan dan kehutanan serta akademisi dari seluruh negara-negara Asia Tenggara ini.

Menurutnya, konferensi bertema Lanskap Berkelanjutan untuk Pembangunan Hijau di Asia Tenggara ini sangat penting terkait kesiapan penduduk bumi secara bahu membahu mewujudkan tujuan mulia, yaitu menyelamatkan hutan tropis di negeri ini.


Posted by Rizda - 12:00 am, 30. April 2014 - 1235 klik

Badan Litbang Siap Selenggarakan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

FORDA (Bogor, 29/04/2014)_Tahun ini, Badan Litbang Kehutanan mengagendakan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

“April merupakan start point,” kata Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, M.Sc sebagai pengantar Diskusi Persiapan Penyelenggaraan SPIP Lingkup Badan Litbang Kehutanan di Ruang Sudiarto, Kampus Litbang Gunung Batu, Bogor, Senin (28/04).

Pada bulan Mei-Oktober, Sekbadan menjadwalkan semua satuan kerja (satker) lingkup Litbang wajib melaksanakan SPIP. Monitoring pelaksanaan SPIP tersebut akan dilaksanakan sendiri oleh Badan Litbang Kehutanan. Kemudian pada Oktober akan dilaksanakan evaluasi dan sharing pengalaman pelaksanaan SPIP di semua satker litbang.


Posted by Rizda - 12:00 am, 24. April 2014 - 3094 klik

Pengembangan Biomassa sebagai Bioenergi, Tantangan Makro bagi Sektor Kehutanan

FORDA (Bogor, 23/04/2014)_Realita energi nasional kita saat ini mengalami penurunan cadangan minyak bumi. Hal tersebut tidak bisa dihindari seiring pemakaian yang terus menerus dan lama kelamaan bisa habis. Di sisi lain, konsumsi bahan bakar tidak bisa ditekan karena peningkatan kebutuhan energi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi, yang 10 tahun terakhir naik sekitar 7%/tahun.

“Ini sungguh suatu realita yang harus kita sikapi bersama sehingga adanya suatu energi alternatif terbarukan menjadi keharusan yang harus kita dorong perkembangannya,” kata Wening Sri Wulandari, S.Hut, M.Si, dalam paparannya pada Diskusi Ilmiah yang membahas tentang Penelitian Integratif Biomassa/Bioenergi di kampus Litbang Kehutanan, Bogor, Selasa (22/04).

Menyadari bahwa energi fosil akan semakin berkurang, lanjut Wening, pemerintah sebenarnya telah membuat kebijakan yang disebut bauran energi primer: pada 2025 ditetapkan 15% energi berasal dari sumber energi baru dan terbarukan yang terdiri dari geothermal, biofuel dan biomassa. Bahkan, Kementerian ESDM juga telah menetapkan Roadmap Pengembangan Biofuel sampai 2025, namun kebijakan dan roadmap tersebut belum bisa berjalan sebagaimana mestinya dan mencapai targetnya karena masih banyak kendala.

Hal ini menjadi tantangan besar bagi Kementerian Kehutanan, karena menurut Wening, sektor kehutanan punya pengaruh besar dalam hal menggali dan menciptakan energi baru dan terbarukan. Sektor kehutanan yang mengelola 60% luas daratan Indonesia sangat potensial sebagai penyuplai bioenergi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.


Posted by Rizda - 12:00 am, 14. April 2014 - 2444 klik

Kontribusi Litbang untuk Percepatan Operasionalisasi KPH

FORDA (Bogor, 11/04/2014)_Dalam rangka percepatan operasionalisasi KPH, Badan Litbang Kehutanan melaksanakan Diskusi Kontribusi Litbang untuk Percepatan Operasionalisasi KPH di Kampus Litbang kehutanan, Bogor, Jumat (11/04). 

Diskusi yang dihadiri berbagai instansi terkait KPH ini diawali dengan pengantar Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM tentang bentuk dukungan litbang untuk KPH. Dalam paparannya, Tri Joko menyampaikan IPTEK dasar dan terapan yang dimiliki oleh Litbang Kehutanan untuk mendukung pembentukan dan operasional KPH; Pilot Project IPTEK Hasil Litbang di KPH; Konvergensi Kegiatan Litbang di KPH; dan Gelar Teknologi  Hasil Litbang untuk KPH.

Tri Joko menyampaikan bahwa konvergensi penelitian yang akan dilakukan oleh Litbang Kehutanan, antara lain kajian kebijakan menyempurnakan konsep KPH; menggunakan KPH sebagai unit kajian dan site penelitian; dan topik penelitian dengan target output yang berkontribusi untuk pembentukan dan operasional KPH.

“Implementasi hasil Litbang di KPH (pilot) dijadikan sebagai kegiatan pengembangan. Artinya, kita (litbang) bukan membangun KPH pilot, (tetapi) IPTEK litbang akan dipilotkan dalam rangka pengembangan di KPH yang sesuai dengan Rencana Penelitian dan lokusnya,” jelas Tri Joko.


Posted by Rizda - 12:00 am, 10. April 2014 - 1389 klik

Kombinasi Ruangan Kedap dan Teknik Dehumidifikasi Dapat Turunkan Kadar Air Madu Sesuai SNI Madu

Penurunan Kadar Air Madu Hutan Alam SumbawaFORDA (Bogor, 10/04/2014)_Pada umumnya kualitas madu, cairan manis yang dihasilkan oleh lebah madu dari berbagai sumber nektar belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-3545-2004 yang merupakan Revisi SNI 01-3545-1994, yang menyebutkan salah satu indikator madu dinyatakan memenuhi syarat adalah kadar air yang tidak lebih dari 22%. Demikian juga halnya dengan kualitas madu lebah hutan Sumbawa, masih tergolong rendah karena memiliki kadar air di atas 22%.

Mengingat pentingnya mengontrol kadar air untuk menjaga kualitas madu yang memenuhi standar tersebut, Saptadi dan tim peneliti Balai Penelitian Teknologi HHBK, Mataram telah melakukan penelitian dengan menggunakan teknik penguapan menggunakan dehumidifier (alat yang berfungsi menurunkan kelembaban udara untuk mengkondensasi air dari udara) yang diaplikasikan dalam bangunan penurun kadar air madu dengan ruangan kedap.

Yang menjadi pertimbangan dalam menggunakan teknik ini karena teknik penguapan (dehumidifikasi) adalah teknik menurunkan kadar air madu yang dinilai paling efektif karena dapat meminimalkan kerusakan madu. Teknik ini dinilai lebih aman karena tidak menurunkan aktivitas atau menyebabkan punahnya enzim diastase, penyebab fermentasi yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan keasaman madu serta tidak meningkatkan indikator HMF (Hidroxy Methyl Furfural) akibat terdegradasinya gula madu sebagaimana jika dilakukan pemanasan, baik langsung maupun tidak langsung.


Posted by Rizda - 12:00 am, 31. March 2014 - 1949 klik

FGD Restorasi Ekosistem: Kriteria Penentuan Lokasi Strategis bagi IUPHHK-RE di Hutan Produksi

FGD RE II-2014

FORDA (Bogor, 28/03/2014)_Burung Indonesia (Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia) bekerjasama dengan Badan Litbang Kehutanan kembali mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Restorasi Ekosistem (RE), Kamis (27/03) di Ruang Rapat Sudiarto, Kampus Badan Litbang Kehutanan, Gunung Batu, Bogor.

FGD RE yang diikuti sekitar 60 orang dari berbagai instansi/lembaga terkait ini membahas Kriteria Penentuan Lokasi Strategis bagi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) di Hutan Produksi. Topik ini terkait dengan alokasi areal seluas 2.695.026 hektar bagi IUPHHK-RE dari 14,57 juta hektar hutan alam produksi yang telah dicadangkan pemanfaatannya.

Beberapa kriteria yang dihasilkan dari diskusi ini, antara lain lokasi RE harus sesuai dengan identitas, fungsi dan proses pemulihan yang berbasis ekosistem; harus dapat menampung kawasan dengan ekosistem rentan (pulau-pulau kecil dan HCVF); merupakan habitat flora dan fauna langka dan dilindungi; dan mempunyai kemendesakan yang tinggi terkait dampak negatif pada lingkungan sekitarnya; serta mempunyai konektifitas dengan hutan utuh dan kawasan konservasi. Areal RE juga harus merupakan areal yang kompak, tidak terpencil dan memiliki akses yang memadai, dengan potensi konflik yang dapat diatasi.


Ikut Kami