KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Fokus Litbang
Posted by Rizda - 12:00 am, 07. March 2014 - 1360 klik

Strategi Penyehatan Harga Kayu Pulp Rakyat untuk Memotivasi Pertumbuhan Hutan Rakyat

Strategi Penyehatan Harga Kayu Pulp

FORDA (05/03/2014)_Hukum ekonomi “permintaan meningkat, harga naik” sepertinya tidak berlaku dalam penentuan harga kayu pulp di Sumatera. Hal ini terlihat dari rendahnya harga jenis kayu pulp di sana padahal kebutuhan kayu pulp untuk industri kertas semakin tinggi seiring dengan peningkatan konsumsi kertas per kapita. Akibatnya, terjadi demotivasi penanaman kayu satu dekade terakhir di masyarakat Sumatera, khususnya Riau kendati potensi lahan yang tersedia masih cukup luas.

Studi kasus di beberapa mill gates, penyuplai kayu pulp ke perusahaan pulp di Riau, tahun 2009 harga kayu berada pada kisaran harga Rp. 220.000 - Rp. 325.000/m3. Dari kisaran harga tersebut, margin keuntungan untuk hutan rakyat belum sebanding dengan tingkat pengorbanan masyarakat.

Dengan struktur pasar kayu pulp yang sangat sedikit, diduga telah terjadi pasar monopsoni atau duopsoni yang begitu kuat mengendalikan harga kayu di tingkat petani. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya penyehatan harga termasuk intervensi pemerintah dalam penetapan harga kayu.

Salah satu upaya penyehatan harga kayu pulp yaitu dengan cara mengetahui berapa harga kayu yang dinilai wajar. Harga kayu yang wajar dapat dihitung melalui dua pendekatan kalkulasi, yaitu dari harga pokok produksi kayu pulp dan distribusi profit margin yang adil. Sedangkan usaha penyehatan harga dapat dilakukan dengan pendekatan karakteristik ekonomi makro yang berlaku pada pasar kayu pulp.


Posted by Rizda - 12:00 am, 24. February 2014 - 2846 klik

Dukung RPJMN 2015-2019, Badan Litbang Kehutanan Prioritaskan Program IPTEK Berbasis KPH

Penyusunan Program dan RPI Litbang Kehutanan 2015-2019FORDA (21/02/2014)_Selama ini sektor kehutanan merupakan sub program lingkungan hidup dan penanggulangan bencana alam. Akan tetapi, pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode ke-3, Tahun 2015 – 2019, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) akan menjadikan sektor kehutanan sebagai salah satu program prioritas di tingkat nasional, mengingat secara ekonomi, sektor kehutanan memiliki potensi yang tinggi.

Dari aspek pengarusutamaan, Strategi RPJMN 2015 – 2019 sektor kehutanan akan dilaksanakan dengan empat pengarusutamaan, yaitu pembangunan berkelanjutan, tata pemerintahan yang baik, pengarusutamaan gender dan pengarusutamaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

Untuk mendukung hal tersebut, ke depan, pengkajian dan pengembangan teknologi yang mampu mendukung berjalannya KPH akan menjadi prioritas Badan Litbang Kehutanan. Dengan demikian, dukungan litbang kehutanan bagi unit kerja di lingkup Kementerian Kehutanan akan difokuskan pada potensi pemanfaatan, perlindungan dan pengawetan di KPH.

“Badan Litbang Kehutanan dituntut menyediakan IPTEK Litbang untuk diterapkan di KPH pada tahun 2015,” kata Dr. Ir. IB. Putera Parthama, M.Sc, Plt. Kepala Badan Litbang Kehutanan dalam arahannya pada pembukaan Rapat Pembahasan Program Litbang 2015 – 2019 di Hotel Ciputra, Selasa (18/02).


Posted by Rizda - 12:00 am, 21. February 2014 - 1999 klik

Sumur Resapan, Salah Satu Teknologi dalam Menanggulangi Banjir di DAS Ciliwung

Sumur Resapan, Salah Satu Teknologi dalam Menanggulangi Banjir di DAS CiliwungFORDA (20/02/2014)_Curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini membuat Jakarta dan sekitarnya sering mengalami banjir yang bukan saja mengganggu aktivitas, tetapi juga merugikan warganya. Terkait itu, sumur resapan merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan dalam menanggulangi banjir di DAS Ciliwung.

Hal ini disampaikan Drs. Irfan B. Pramono, M.Sc, Peneliti Hidrologi dan Konservasi Tanah Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS Solo dan Tim Peneliti RPI Manajemen Lanskap Hutan Badan Litbang Kehutanan sebagai salah satu rekomendasi hasil studinya yang dimuat pada Policy Brief Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan Vol. 7 No. 14 Tahun 2013.

Pada artikelnya, Irfan menyampaikan bahwa penyebab bencana banjir pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tingginya pasokan air banjir dari daerah hulu dan tidak memadainya saluran drainase daerah hilir. Untuk itu, penanganan banjir harus komprehensif baik di hulu maupun hilir. Di daerah hilir, memperbaiki saluran drainase memang diperlukan untuk mengalirkan air dengan lancar, namun penanganan daerah hulu sebenarnya lebih efektif, yaitu meningkatkan peresapan air agar bisa menahan air selama mungkin di hulu.

Hal tersebut menunjukkan sumber terjadinya banjir ada pada proses Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu curah hujan sebagai input dan banjir sebagai output dari sebuah DAS. Oleh karena itu, menurut Irfan penanganan banjir tidak bisa dilepaskan dari penanganan DAS.

Data yang ada menyebutkan, pengisian air tanah di DAS Ciliwung, sungai utama dari 13 DAS yang masuk ke Jakarta ini berkurang secara drastis karena sebagian besar air hujan yang jatuh menjadi aliran permukaan yang mengakibatkan meningkatnya banjir di daerah hilir. Hasil pantauan di Stasiun Hidrologi Katulampa, Bogor dan Stasiun Hidrologi Sugutamu, Depok, aliran air tanah (base flow) di kedua stasiun tersebut terlihat menurun secara signifikan selama 30 tahun terakhir.


Posted by Rizda - 12:00 am, 13. February 2014 - 1746 klik

Kuasai Teknik Konservasi Cendana, BPK Kupang Siap Dukung Master Plan Pengembangan dan Pelestarian Cendana di NTT

Teknik Konservasi Cendana-BPK KupangBPK Kupang (10/02/2014)_Pepatah "sudah gaharu cendana pula" sepertinya dapat menggambarkan bahwa kedua komoditi kehutanan ini begitu populer di Indonesia. Cendana (Santalum album L.) adalah jenis tanaman yang tergolong sangat penting di Provinsi Nusa Tengara Timur (NTT) karena mempunyai nilai ekonomi tinggi dan merupakan species endemik yang terbaik di dunia.

Species cendana di NTT mempunyai keunggulan kadar minyak dan produksi kayu teras yang tinggi. Kayu cendana menghasilkan minyak atsiri dengan aroma yang harum dan banyak digemari, sehingga mempunyai nilai pasar yang cukup baik. Hanya saja, cendana termasuk spesies yang sulit dibudidayakan.

Terkait itu, sejak satu dekade terakhir, Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Kupang, salah satu UPT Badan Litbang Kehutanan yang concern terhadap jenis-jenis tanaman di wilayah semi arid, telah mengembangkan berbagai penelitian cendana, khususnya aspek budidayanya. Sampai akhir tahun 2013, BPK Kupang telah menghasilkan beberapa luaran teknik budidaya tanaman cendana yang meliputi teknik eksplorasi benih, teknik persemaian, teknik regenerasi tunas akar, teknik penanaman, serta penanggulangan hama dan penyakit.

Selain itu, BPK Kupang telah berhasil mengembangkan sistem informasi untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk penanaman cendana di bumi Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor -nama pulau besar di NTT-red).

Tahun 2010 riset tentang cendana telah menghasilkan data dan informasi tentang ekologi dan habitat sebaran cendana di Pulau Timor. Penelitian ini mengungkapkan  bahwa masih terdapat potensi cendana dan sumber benih untuk pengembangan cendana. Diinformasikan juga, pertumbuhan semai dan sapihan cendana dengan naungan ringan tumbuh lebih baik daripada naungan sedang atau berat. Sebaliknya pada tingkat tiang dan pohon, cendana akan tumbuh lebih baik pada naungan sedang atau berat.

Dalam rangka menjaga kualitas genetik dari tanaman cendana, tahun 2011 BPK Kupang juga telah memiliki Demplot Konservasi Sumberdaya Genetik (KSDG) dengan populasi Oelbubuk, Hanubenak dan populasi dari Thailand. Dipimpin oleh Sumardi, Peneliti Muda lulusan Master of Science Fakultas kehutanan Universitas Gajah Mada, November 2012, BPK Kupang telah membangun plot uji keturunan generasi pertama (F-1) seluas 2,8 ha yang terdiri dari 65 famili, 3 treeplot, dan 5 blok sebagai ulangan, dari sebanyak 79 famili yang berhasil dikumpulkan pada saat eksplorasi materi.


Posted by Rizda - 12:00 am, 10. February 2014 - 1071 klik

Berita Kehutanan Kalimantan (Bekantan) Terbit Perdana

Bekantan volume 1 nomor 1 tahun 2013BPK Banjarbaru (10/02/2014)_Setelah sekian lama menghilang, Bekantan terbit lagi, tapi dalam kemasan yang berbeda. Berita Kehutanan Kalimantan yang disingkat Bekantan awalnya merupakan tabloid Balai Teknologi Reboisasi (nama Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru pada masa itu). Sekarang Bekantan terbit dalam bentuk majalah dengan bahasan yang lebih padat dan tampilan yang lebih menarik.

Berbicara mengenai Bekantan, sebenarnya Bekantan atau Nasalis larvatus adalah sejenis primata berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis. Binatang yang merupakan maskot fauna Propinsi Kalimantan Selatan ini hidup di pulau Kalimantan di hutan bakau, rawa dan pantai. Identik dengan Bekantan, majalah ini diharapkan dapat menjadi majalah populer dan aktual yang mengangkat pembangunan kehutanan khususnya di Kalimantan. 

Dalam terbitan perdana kali ini, Bekantan mengangkat KPH sebagai tajuk utamanya. KPH diharapkan menjadi benteng terakhir kehutanan di Indonesia, yang saat ini kondisinya tak kunjung membaik akibat praktek pengelolaan hutan yang tidak tepat. Selain itu diulas pula beberapa peluang menguntungkan yang timbul dengan menerapkan pengelolaan hutan berbasis KPH.

Rubrik profil menampilkan rimbawan senior founding father BPK Banjarbaru, Ir. APS Sagala, yang begitu konsern dengan pengelolaan hutan yang lestari. Hasil-hasil penelitian yang inovatif dan aplikatif, dituangkan dalam rubrik artikel. Rona kekayaan alam khas Kalimantan mendapat tempat dalam rubrik lansekap yang kali ini akan bercerita tentang pengelolaan KHDTK Tumbang Nusa. Bekantan juga menyediakan rubrik khusus yang mengulas pengenalan jenis tanaman khas Kalimantan dan rubrik-rubrik lain yang dikemas secara menarik bagi pembaca sekalian. Selamat menikmati persembahan perdana dari Majalah Bekantan BPK Banjarbaru. (TSH)***


Posted by Rizda - 12:00 am, 05. February 2014 - 1113 klik

Badan Litbang Kehutanan Berkontribusi dalam Konferensi Nasional Konservasi Macan Tutul Jawa

Konferensi Nasional Konservasi Macan Tutul JawaFORDA (Bogor, 05/02/2014)_Badan Litbang Kehutanan bersama 29 Deklarator lainnya menandatangani Deklarasi Forum Komunikasi Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas), Kamis (30/1). Deklarasi tersebut merupakan salah satu hasil Konferensi Nasional Konservasi Macan Tutul Jawa yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Satwaliar Indonesia (FOKSI) di Taman Safari Infonesia, Cisarua, Bogor tanggal 29-30 Januari 2014.

Konferensi yang merupakan bentuk kepedulian para aktivis lingkungan, peneliti dan akademisi terhadap nasib macan tutul Jawa ini dibuka oleh Menteri Kehutanan, Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE, MM. Dalam sambutannya, Menhut menyatakan bahwa upaya penyelamatan Macan Tutul Jawa menuntut keterlibatan semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, NGOs dan masyarakat secara keseluruhan.

“Ini adalah satwa kekayaan alam yang luar biasa, yang harus kita lestarikan,“ kata Zulkifli, Selasa (29/01). Untuk itu, Menhut menyambut baik konferensi ini dan berharap agar para peserta konferensi ini dapat merumuskan langkah konkrit yang bisa dilakukan guna konservasi macan tutul Jawa.

“Kita telah kehilangan salah satu satwa kharismatik Jawa, yaitu Harimau Jawa (Panther tigris sondaica) dan kita tidak ingin hal yang sama terjadi pada Macan Tutul Jawa,“ lanjut Zulkifli.

Terkait itu, Dr. Hendra Gunawan, Peneliti Utama Konservasi Sumberdaya Hutan yang hadir mewakili Badan Litbang Kehutanan sebagai deklarator dan narasumber pada konferesi tersebut menyampaikan bahwa saat ini status satwa dilindungi endemik Pulau Jawa ini kritis, hanya tersisa sekitar 500 ekor yang tersebar di Pulau Jawa, P. Nusakambangan, P. Sempu dan P. Kangean.


Posted by Rizda - 12:00 am, 28. January 2014 - 1021 klik

Proyek KIPCCF di Lombok Berakhir, Badan Litbang Kehutanan Verifikasi Asetnya untuk Dihibahkan Kepada Pemerintah Daerah Setempat

Verifikasi Aset KIPCCFBPT HHBK (Lombok, 25/01/2014)_Pemerintah Korea telah lama menjalin kerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam berbagai bidang, termasuk kehutanan. Salah satu kerjasama yang dilakukan adalah proyek KIPCCF (Korea-Indonesia Joint Project for Adaptation and Mitigation of Climate Change in Forestry) yang “lahir” karena mendesaknya respon terhadap masalah-masalah perubahan iklim dan pentingnya peran sektor kehutanan.

Pada kerjasama yang berlangsung sejak tahun 2009 sampai 2013 ini, Badan Litbang Kehutanan mewakili Kementerian Kehutanan ditugasi sebagai badan pelaksana (excuting agency) bersama-sama dengan KOICA.

Proyek yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini, kegiatan utamanya adalah pembangunan hutan tanaman untuk mitigasi perubahan iklim dengan mekanisme CDM di Desa Sekaroh, Jerowaru, Lombok Timur, dan fasilitasi serta peningkatan kapasitas dan kelembagaan kelompok-kelompok masyarakat peserta HKm di kawasan hutan Batu Keliang Utara, Lombok Tengah untuk mekanisme REDD+.

Menurut Dr. Ir. Chairil Anwar Siregar, ProjecLeader kerjasama ini, pemilihan lokasi untuk mekanisme CDM tersebut berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, yaitu 1) terdapat tekanan pada sector kehutanan khususnya adanya deforestasi dan degradasi karena adanya pembangunan di tingkat lokal dan kegiatan pertanian; 2) batas wilayah yang jelas dan bebas dari konflik dan ; 3) adanya dukungan dan kerjasama dengan sektor terkait (pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat).


Posted by Rizda - 12:00 am, 24. January 2014 - 1739 klik

Swara Samboja: Keanekaragaman Hayati

Swara Samboja: Keanekaragaman HayatiBalitek KSDA (Samboja, 24/01/2014)_Tantangan konservasi akan semakin berat. Nampaknya konservasi akan berhasil hanya apabila menggunakan pendekatan yang realistis. Konservasi tidak boleh menjadi pemikiran yang menggantung di langit-langit, namun perlu menjadi gerakan bersama masyarakat yang terarah. Pemikiran akan memiliki daya gerak terhadap masyarakat luas jikalau dapat dipahami dan memiliki manfaat nyata.

Dengan demikian bahasa konservasi juga membutuhkan bahasa yang praktis dan populis. Dalam dialektika negatif juga dapat dikatakan bahwa masyarakat luas akan tergerak apabila dampak negatif dari mengabaikan konservasi akan berakibat langsung dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kita tahu dan sadar alangkah beranekaragamnya makhluk hidup yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa dan "ditempatkan” di bumi Indonesia. Negara dengan megaragam kehidupan, negara super biodiversitas, negara megabiodiversitas adalah label yang melekat dengan indah. Ya, kita adalah negara spesial, salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Namun pertanyaan pentingnya adalah apa yang kita lakukan dengan potensi besarnya itu?

Keragaman hayati telah memberikan manfaat langsungnya kepada umat manusia dalam nilai yang teramat besar, apalagi dengan aneka manfaat tidak langsungnya. Tanpa kehidupan hayati lain, jelas manusia tidak akan bisa bertahan. Kebutuhan akan “sandang-pangan-papan” hampir seluruhnya hanya bisa terpenuhi dari keragaman hayati yang disediakan oleh alam.


Posted by Rizda - 12:00 am, 22. January 2014 - 1148 klik

Kepala Badan Litbang Kehutanan Resmikan ASEAN - Republic of Korea Forest Cooperation (AFoCo) Regional Project

Peresmian AFoCo Regional ProjectFORDA (Jakarta, 22/01/2014)_Senin (20/01) di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Plt. Kepala Badan Litbang Kehutanan, Dr. I.B. Putera Phartama meresmikan ASEAN-Republic of Korea Forest Cooperation (AFoCo) Regional Project yang bertujuan untuk perbaikan penilaian sumberdaya hutan dan peningkatan keterlibatan masyarakat lokal dalam menghadapi kerugian akibat perubahan iklim.

Peresmian ini menyusul kesepakatan antara Indonesia dan delapan negara ASEAN lainnya dengan The Korea Forest Service-Republic of Korea dalam kerangka kerjasama AFoCo Regional Project Component 2: Capacity Building on Improving Forest Resources Assessment and Enhancing the Involvement of the Local Communities to Address the Adverse Impact of Climate Change.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan c.q. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (FORDA) menunjuk Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi di Bogor selaku Institusi Pelaksana yang selanjutnya membentuk AFoCo Regional Project Secretariat (ARPS) dalam pengelolaan kerjasama.

Dikoordinasi ARPS, program prioritas dan kegiatan akan dijalankan untuk mengatasi beberapa masalah dalam pengelolaan hutan. Program prioritas tersebut, seperti pengembangan penilaian sumberdaya hutan (Forest Resource Assessment/FRA) yang baik untuk perbaikan pengelolaan hutan, mendukung pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan dan kegiatan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.


Posted by Rizda - 12:00 am, 13. January 2014 - 1233 klik

Badan Litbang Kehutanan Konsolidasikan Pelaksanaan Kegiatan Tahun Anggaran 2014

Rapat Konsolidasi Kegiatan 2014FORDA (Bogor, 11/01/2014)_Setelah disahkannya DIPA 2014, mengawali tahun anggaran baru ini, Badan Litbang Kehutanan menyelenggarakan Rapat Konsolidasi dan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Tahun 2014 di Hotel Ibis, Jakarta, Jumat (10/01).

Rapat yang dihadiri seluruh Kepala Satker lingkup Badan Litbang Kehutanan ini mengagendakan penandatangan kontrak kinerja Kepala Satker lingkup Badan Litbang Kehutanan dengan Kepala Badan Litbang Kehutanan, laporan pencapaian kinerja dan serapan anggaran Badan Litbang Kehutanan tahun 2013 oleh Sekretaris Badan Litbang kehutanan, dan penyampaian arahan Kepala Badan Litbang Kehutanan terkait pelaksanaan kegiatan dan anggaran 2014.

Selain itu, juga diadakan diskusi terkait capaian kinerja dan serapan anggaran 2013 dari semua UPT, hal-hal lain yang dianggap penting, dan arahan Pemantapan Pencapaian Kinerja 2014, serta diskusi Program Litbang 2015-2019 yang difasilitasi oleh Sekretaris Badan.

Pada rapat tersebut dilaporkan bahwa per 31 Desember 2013, realisasi anggaran Badan Litbang Kehutanan tahun 2013 adalah 95,55%, di atas rata-rata realisasi di Kementerian Kehutanan 90,92%. Dari realisasi tersebut telah dihasilkan output berupa terlaksananya 25 Rencana Penelitian Integratif (RPI), diseminasi + 116 events , terbitnya + 203 terbitan publikasi, dan terlaksananya pembangunan dan pengadaan sarana, serta 18 kerjasama (hibah).